Warga China Mulai Menimbun Kubis untuk Stok Musim Dingin

Selasa, November 09, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Situasi panic buying di Beijing China. (REUTERS/THOMAS PETER)


Penduduk dewasa Beijing China baru-baru ini dilaporkan mulai menimbun kubis setelah Pemerintah mengimbau masyarakat untuk menyimpan makanan cadangan.

Seorang nenek 62 tahun misalnya, ia rela mengantre demi membeli kubis.

"Jika terjadi hujan atau salju dan Anda tidak bisa keluar, setidaknya Anda memiliki sayuran di rumah," kata nenek itu.

Masyarakat China memang memiliki budaya menyimpan kubis sejak lama. Kubis bisa tetap segar selama berbulan-bulan dan kerap digunakan dalam masakan lokal, terlebih kala menyambut musim dingin.

"Penjualan kubis selalu tinggi saat masa-masa ini (musim dingin) setiap tahun. Namun, setelah imbauan (pemerintah) keluar, masyarakat jadi makin sering membeli (kubis),"kata petani sayur yang menjual Kubis di Pasar Xinfadi, Beijing, Jia Jinzhi.



Mengutip Reuters, walaupun supermarket telah membatasi pembelian kubis maksimal tiga buah per orang, masyarakat yang tiba setelah pukul 9 pagi waktu setempat tetap kehabisan sayuran itu.

"Ini adalah kebiasaan Beijing," kata seorang perempuan dengan marga Zhao yang keluar dari Wumart dengan membawa tiga kubis.

Tak hanya itu, beberapa pembeli di Wumart mengatakan, harga kubis saat ini lebih tinggi sekitar tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu. Mereka harus membayar CNY1 (Rp2 ribu) untuk setengah kilo kubis.

Namun, seorang pembeli bermarga Sun menyampaikan bahwa harga bisa semakin naik kala musim dingin mendekat.

"Anda bisa menyimpannya selama dua atau tiga bulan. Anda bisa menaruhnya di luar dengan ditutupi selimut," kata Sun.

Kubis hijau cerah, yang dikenal dengan sebutan Kubis China atau Kubis Napa, dahulu ditumpuk di halaman belakang rumah, di lorong apartemen, atau tempat penampungan buatan yang digali di bawah tanah.

Kala musim dingin, suhu yang membeku dan lapisan luar kubis yang kuat dapat menjaga kualitas kubis itu selama berbulan-bulan. Namun, tradisi ini kian menyusut karena teknologi logistik China yang kian canggih, pun juga banyak keluarga yang kini memilih tinggal di apartemen.

Walaupun demikian, pensiunan yang tak menggunakan aplikasi belanja online negara itu merupakan salah satu golongan yang rela mengantre demi membeli kubis.

Peningkatan aktivitas belanja di Beijing ini terjadi setelah pemerintah China mengimbau masyarakat untuk mengamankan pasokan makanan, walaupun imbauan ini ditujukan untuk pemerintah setempat.

Akibat imbauan ini, beberapa daerah di China dikabarkan mengalami panic buying, dengan daging kaleng dan biskuit menjadi bahan pangan yang paling diminati.


Sumber : cnnindonesia.com

0 comments: