10 Tahun Rezim Kim Jong-un: Gaya Aneh Pimpin Korut

Kamis, Desember 16, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Kim Jong-un memiliki gaya aneh dalam memimpin. (via REUTERS/KCNA)

Jumat pekan ini menandai satu dekade Kim Jon-un memimpin Korea Utara usai sang ayah tiba-tiba terkena serangan jantung.
Di antara yang membedakan dengan pendahulunya adalah gaya aneh Kim Jong-un memimpin Korut.

Di antara keanehannya adalah meminta warga ternak kelinci dan memakan angsa hitam saat krisis pangan.

Terbaru adalah perintah Kim kepada seluruh rakyatnya memperingati 10 tahun Kim Jong-il wafat. Ia melarang keras para warganya untuk tertawa selama 11 hari.


Kim juga melarang para warga berbelanja kebutuhan sehari-hari. Pemerintah pun memerintahkan perusahaan-perusahaan milik negara untuk mengurus orang-orang kelaparan selama masa berkabung itu.

Begitu pula tindak-tanduk sang pemimpin Korut secara pribadi. Ia pernah mengundang mantan bintang basket AS NBA, Dennis Rodman ke negaranya. Kim Jong-un memang dikenal sebagai fan berat Rodman.

Kim Jong-un juga kerap melontarkan pernyataan kontroversial. Salah satunya adalah dengan menuduh AS dan Korsel kerap memprovokasi di Asia-Pasifik.

Ada banyak peristiwa yang dialami Korut mulai krisis pangan hingga membuka diplomasi lebih luas.

Tahun 2021, Korut kembali menghadapi krisi pangan di tengah wabah Covid-19, bencana alam dan penutupan perbatasan secara ekstrem.

Sebelum naik ke tampuk kekuasaan, banyak pihak mengira Kim tak punya pengalaman. Namun dengan cepat, ia mengonsolidasikan pemerintahannya untuk mengeksekusi sang paman, yang punya kuasa.

Selain itu uji coba rudal dan mulai terbukanya Kim dengan negara lain juga menjadi corak baru di kepemimpinan era Kim.

Ia kemudian menggelar pertemuan puncak perlucutan senjata nuklir dengan Presiden AS saat itu, Donald Trump. Namun, diplomasi mereka runtuh karena sanksi yang dilancarkan AS.

Memasuki dekade kedua, ada sejumlah momen besar di era Kim Jong-un.

Krisis Pangan Korut
Juni lalu, Organisasi Pangan Dunia (FAO) memperkirakan, tahun ini Korea Utara kekurangan sekitar 860 ribu ton makanan, atau setara lebih dari dua bulan pasokan nasional.

Pemerintah Kim pun mulai terlihat kalang kabut. Mereka berusaha mengatasi krisis pangan dengan berbagai cara. Salah satunya konsumsi angsa hitam dan ternak kelinci.

Beberapa pengamat menilai, langkat itu tak lazim meski unggas tersebut bisa dikonsumsi. Di lain hari, Korut juga meminta warga membuat permen sebagai hadiah ulang tahun di tengah krisis pangan yang melanda.

Krisis menyebabkan harga pangan dan kebutuhan lain meroket. Pada Juni lalu, harga sebungkus kopi naik menjadi dihargai US$100 atau Rp sekitar Rp1,4 juta. Adapun, tiap bungkus teh dibanderol US$70 atau setara Rp1 juta.

Baru-baru ini, krisis yang kian mencekik membuat warga menjual rumah dengan harga yang murah demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di awal tahun, Kim memang mengakui rencana pembangunan ekonominya gagal dalam lima tahun terakhir.

Namun di sisi lain, dia memperkuat di sektor militer dan keamanan dengan mengancam akan memperluas persenjataan nuklir. Korut juga terus mengembangkan senjata yang lebih canggih sebagai tindakan permusuhan AS.

Kim bersumpah membangun militer yang "tak terkalahkan" mencakup rudal jarak jauh yang mampu mencapai Amerika Serikat.


Ambisi Nuklir
Pada Desember 2012, Korea Utara mengatakan telah menempatkan satelit ke orbit sebagai peluncuran roket jarak jauh pertama yang berhasil dilakukan Korea Utara.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai peluncuran semacam itu sebagai uji coba teknologi rudal yang dilarang.

Setahun kemudian, Korea Utara melakukan uji coba nuklir yang ketiga. Ini merupakan ledakan bom atom pertama di bawah pemerintahan Kim.

Tak puas sampai di situ, Korea Utara berhasil melakukan dua uji coba nuklir dan peluncuran satelit kedua pada 2016.

Juli di tahun berikutnya, Korea Utara menggelar uji coba rudal balistik antar benua. Kim menyebut tes itu sebagai paket hadiah di hari peringatan kemerdekaan Amerika Serikat.

Di tahun 2017 pula, Korea tercatat sudah dua kali melakukan peluncuran rudal balistik antar benua.

Tindakan tersebut membuat musuh Korut, Amerika Serikat, geram.

"(Korea Utara) menghadapi kecaman dan kemarahan yang belum pernah dilihat dunia", ujar eks Presiden AS, Donald Trump pada Agustus 2017.

Korea Utara kemudian merespons dengan mengancam akan meluncurkan rudal ke wilayah AS di Guam.

Sebulan kemudian, yakni pada September, Korea Utara melakukan uji coba nuklir yang keenam. Pemerintah mengatakan, nuklir itu merupakan bom hidrogen yang sengaja dibuat untuk mengungguli kemampuan rudal balistik antar benua.

Di Juni 2020, Korea Utara menghancurkan kantor penghubung antar-Korea di wilayahnya sebagai bentuk kemarahan atas kampanye selebaran sipil Korea Selatan.

Hal tersebut merupakan tindakan paling provokatif sejak memulai diplomasi nuklir dengan Washington dan Seoul pada 2018.

Diplomasi
Korea Utara di bawah pimpinan Kim Jong-un disebut tak begitu tertutup. Ia tercatat beberapa kali melakukan diplomasi. Terbukti pada 2018, Kim menggelar pertemuan yang ketiga kali dengan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in. Hubungan kedua negara regang sejak 1945.

Kemudian pada Juni, Kim dan Trump menggelar pertemuan di Singapura untuk pertama kali sejak akhir Perang Korea 1950-1953.

Kim berjanji akan mencapai denuklirisasi di Semenanjung Korea tapi mereka tak memberikan rincian lebih lanjut atau peta jalan terkait pelucutan senjata.


Kim Jong Un kembali bertemu Trump di Hanoi, Vietnam, pada Februari 2019. Pertemuan untuk menindaklanjuti program denuklirisasi.

Pertemuan ketiga antara Kim dan Trump berlangsung di perbatasan Korea pada Juni 2019. Namun pertemuan tersebut tak menghasilkan apa-apa alias gagal.

Program Pembersihan alias Eksekusi
Selain memperkuat basis militer, pemerintahan Kim juga sera diam-diam menerapkan program 'pembersihan'.

Kepala militer Kore Utara, Ri Yong Ho, menjadi korban apa yang disebutnya sebagai program pembersihan atau eksekusi Kim pada Juli 2012. Ia diberhentikan dari semua jabatan tingkat tinggi.

Lalu pada Desember 2013, Paman sekaligus mentor Kim dieksekusi atas tuduhan pengkhianatan, korupsi dan dakwaan lain di pemerintahan Kim.

Mei 2015, Agensi mata-mata Korea Selatan mengatakan Kim Jong Un meminta Menteri angkatan bersenjata, Hyon Yong Chol, dieksekusi dengan senjata anti-aircraft. Ia dihukum mati karena mengeluh dan tidur selama rapat dengan Kim.

Dua tahun kemudian pada Februari 2017, saudara tiri Kim Jong Un, Kim Jong Nam, terbunuh di bandara Malaysia usai bahan kimia VX dioleskan di wajahnya.

Dua perempuan Asia kemudian ditangkap, tetapi dinas mata-mata Korea Selatan menuduh Korea Utara berada di balik serangan itu. Namun Pyongyang membantahnya.

Kemunculan Kim
Menurut The Independent, Kim Jong-un lahir pada 8 Januari 1984. Ia merupakan anak ketiga dan terakhir dari pasangan Kim Jong Il dan Kong Yu Hui.

Pada September 2010, media pemerintah menyebut Kim Jong-un jenderal bintang empat dalam penyebutan publik pertamanya.

Kemudian pada Oktober 2010, Kim Jong Un membuat debut parade militer. Ia berdiri di balkon, tepat di samping ayahnya yang tampak kurus. Kim kemudian tersenyum, bertepuk tangan, dan melambaikan tangan saat tentara, tank, dan misil melintas di hadapannya.

Ayah Kim meninggal pada 17 Desember, 2011, di usia 69 tahun. Namun kematian dia baru diketahui publik usai dua hari.

Pada 19 Desember, kematian itu disiarkan di televisi pemerintah. Nama Kim Jong Un muncul pertama kali dalam daftar Komite Pemakaman Nasional. Dia disebut sebagai "penerus besar" oleh media pemerintah.


Sumber : cnnindonesia.com

0 comments: