3 Karya Warisan Budaya Takbenda Indonesia Asal Maluku Utara

Rabu, Desember 15, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Kue khas kuliner ini terbuat dari beras ketan, ikan tuna yang sudah dihaluskan berupa abon dengan campuran bumbu dan dibungkus daun pisang. Setelah itu kemudian diasapin hingga masak. (Liputan6.com/Hairil Hiar)

1. Lalampa

Maluku Utara, terkhusus Kepulauan Sula terkenal akan beragam jenis sajian tradisional, salah satunya lalampa. Warga Sula juga menyebut lalampa, nasi ikan daun pisang.

Makanan khas ini berbentuk lemper dengan bahan beras pulut, rica atau cili besar, ikan cakalang fufu, dan laksan. Lalampa telah dikenal oleh orang kepulauan Sula Maluku Utara sejak zaman setelah kemerdekaan.

Biasanya lalampa disajikan dalam acara adat perkawinan Saro Badaka, Tahlilan, juga acara-acara formal upacara kenegaraan. Kue lalampa ini mirip lemper dari Jawa, namun isi dan cara membuatnya berbeda.

Selain itu, lemper hanya dikukus, sementara lalampa yang sudah dibungkus dengan daun pisang dibakar sehingga mengeluarkan harum yang menggugah selera. Lalampa memiliki cita rasa gurih dan legit.

2. Kuliner Pola

Gambar pada 9 Februari 2020 menunjukkan pekerja menunjukan tepung sagu basah saat proses pengolahan di sebuah desa di Meulaboh, provinsi Aceh. Tepung sagu adalah jenis tepung yang berasal dari pohon rumbia atau pohon aren, dan pohon jenis ini banyak ditemukan bagian timur. (CHAIDEER MAHYUDDIN/AFP)

Menurut Yusuf Abdulrahman, 2005, sajian khas Sula, Pola atau Sagu Bakar berbeda dengan Sagu Bakar dari daerah lain. Menurut cerita para tokoh adat di Desa Waitina Kecamatan Mangoli Timur Kabupaten Kepulauan Sula, Pola telah disajikan sebelum Indonesia merdeka.

Sagu adalah makanan pokok masyarakat budaya Sula secara khusus, tetapi juga masyarakat Maluku Utara secara umum. Ini merupakan suatu tradisi lisan budaya yang memberikan informasi tentang sagu juga merupakan sumber informasi budaya, alam, dan manusia sebagai identitas (jati diri) nya.

Kini, makanan Pola hampir punah karena masyarakat telah hidup dengan mengonsumsi beras atau padi. Dengan mengonsumsi Pola, kehidupan masyarakat lebih ekonomis dan sederhana, gaya hidup sehat dengan sendirinya tercipta karena mengurangi menyantap karbohidrat yang berlebihan serta saling tolong menolong dan bekerja sama telah dilukiskan sejak di zaman dahulu kala.

3. Musik Bambu Tada

Musik Bambu Tada (dok. warisanbudaya.kemdikbud.go.id)

Bunyi musik bambu Tada bernilai soial dan adat, sehingga suatu bunyi tidak akan bermakna dalam apabila unsur-unsur bunyi dalam musik tersebut tidak dipenuhinya. Bunyi musik dalam kepercayaan masyarakat Weda adalah bunyi yang memiliki ide, maksud dan tujuan, dan bukan sekedar bunyi.

Musik Bambu Tada tidak bisa dimainkan sendiri, tetapi melibatkan banyak orang sehingga memiliki keindahan nilai estetika nada yang indah. Jika dimainkan secara kompak dengan keberagaman nada yang berbeda, dan mengikuti not, akan menghasilkan suara yang indah untuk didengarkan.

Maknanya dalam kehidupan, jika bertindak sesuatu dengan kompak, mengikuti aturan, akan berjalan dengan baik, dan mendapatkan hasil yang baik pula. Gerak itu menandakan kesatuan dan persatuan dalam masyarakat.

Gerakan yang kompak dan seirama ini adalah lambang dari semangat gotong royong, yakni membangkitkan jiwa persatuan dan kesatuan dalam melaksanakan berbagai segi hidup. Ini juga bentuk gambaran dari jiwa kegotong-royongan masyarakat Gamrange (tiga negeri bersaudara), yakni Weda, Patani dan Maba sejak dulu kala.

Pemandu yang memberi aba-aba akan menentukan arah terhadap keindahan permainan musik Bambu Tada. Begitu pula dengan pemimpin, harus ada aturan-aturan yang harus diikuti dan tidak menyimpang dari aturan tersebut.








Sumber : liputan6.com

0 comments: