3 Tips Meringankan Beban Masalah dari Pakar Undip

Jumat, Desember 17, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Foto: Getty Images/iStockphoto/Chinnapong/Ilustrasi Memikirkan Beban Masalah

Persoalan dalam hidup setiap orang berbeda-beda satu sama lain. Begitupun dengan respons seseorang saat menghadapi persoalan yang berbeda.
Beberapa orang ada yang optimistis ketika dirinya sedang ditimpa banyak masalah, ada juga yang pesimis merasa tidak sanggup dan hidupnya tidak berarti lagi.

Respons seseorang ini, umumnya dipengaruhi oleh seberapa mental seseorang dalam menghadapi masalah. Apabila mental kurang kuat, terdapat risiko yang bisa membahayakan diri bahkan bisa mengakibatkan mengakhiri hidup.


Mengakhiri hidup sering menjadi jalan pilihan terakhir ketika seseorang merasa masalah hidupnya tidak bisa terselesaikan. Maraknya peristiwa itu dapat dijelaskan dari kacamata psikologi.

Annastasia Ediati, S.Psi., M.Sc., Ph.D., Psikolog (Dosen dan Psikolog) Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro (Undip) mengatakan mengakhiri hidup adalah upaya yang disengaja, semua tindakan itu terencana atau tindakan yang dilakukan untuk mengakhiri hidup secara terencana.

"Orang yang bunuh diri itu bukan orang yang rindu kematian tetapi orang yang ingin mengakhiri penderitaan. Sebenarnya itu terjadi karena pikirannya sudah dipenuhi beban apalagi didukung pola pikir bahwa bunuh diri itu adalah opsi," ungkapnya dikutip dari laman Undip, Rabu, (15/12/2021).

Berdiskusi dengan Orang Terdekat
Langkah pertama untuk meringankan beban masalah bisa dilakukan dengan berdiskusi. Hal itu bisa dilakukan dengan orang terdekat seperti orang tua, kerabat, atau teman, agar tidak menyimpulkan masalah dalam pandangannya sendiri.

Sebab, seringkali yang jadi penentunya adalah apakah mempunyai seseorang untuk bercerita atau teman curhat, dan seseorang yang bisa dimintai bantuan dan dimintai tolong.

Menurut Dr. Annastasia, cara meminta bantuan pertama ketika mengalami banyak persoalan yang pertama adalah dengan bercerita.

"Beban itu ada di pikiran dan perasaan, kita membutuhkan solusi, jika hanya memikirkan masalah akhirnya malah overthinking, permasalahan hanya berputar-putar saja dan tidak ada penyelesaiannya. Sementara beban perasaan akan menghasilkan perasaan sumpek dan sesak, akan menjadi enak jika sudah lega," jelasnya.


Curahkan dengan Menulis
Kemudian ketika ada teman bercerita belum sepenuhnya dapat memecahkan masalah kita, terdapat cara lain yakni dengan menulis.

Cara menurunkan tekanan emosi adalah dengan mencari penyalurannya, dapat dengan bercerita, lisan, tertulis atau bisa dialihkan dengan menggambar, melukis bahkan jalan-jalan.

"Setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda tetapi banyak orang memilih bercerita karena bercerita dapat menghasilkan perspektif baru," lanjutnya.

Temukan Support System yang Lebih Kuat
Baik bercerita ataupun menulis, keduanya sama-sama membutuhkan orang yang selalu mendukung diri kita selama menghadapi masalah.

Dr. Annastasia menyarankan bahwa dalam menghadapi permasalahan-permasalahan, perlu memiliki fighting spirit hidup dan jangan dibiarkan mati. Caranya adalah dengan menemukan support system yang lebih kuat.

"Jangan sendiri, kalau dipikir sendiri pasti akan terasa berat, cari orang lain yang dipercaya serta bantu diri sendiri untuk bertahan mencari jalan keluar, yakini yang diakhiri adalah penderitaan bukan hidup," pungkas pakar psikolog Undip ini.



Sumber : detik.com

0 comments: