Jaga Budaya, Kudus Gelar Busana Kudusan

Selasa, Desember 21, 2021 Majalah Holiday 0 Comments


Kudus - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus, Jawa Tengah menggelar acara pagelaran busana Kudusan empat negeri. Pagelaran busana Kudusan ini diharapkan upaya pelestarian budaya di Kota Kretek yang merupakan warisan tak benda masa lampau.
Pantauan acara dimulai sekitar pukul 20.00 WIB, Senin malam (20/12). Acara dibuka dengan penampilan salawatan yang diiringi karawitan Suluk Tajug Menara. Setelah itu penampilan penayangan video peradaban Kudusan.

Baru kemudian penampilan busana Kudusan oleh dua pasang peraga putra dan putri. Pertama busa tata kaji. Busana ini peraga putri memakai alas kaki selop, busana rok panjang, sanggul berbentuk kapsed dihiasi bunga mawar merah berjumlah lima ditutup dengan waring, menggunakan mahkota yang ditutup dengan "Kerei", memakai giwang berbentuk babon angkrem, hiasan di leher mengenakan kalung tretes berlian, hingga sepasang gelang.


Sedangkan peraga putra memakai alas kaki selop senada dengan warna baju, memakai gamis dan celana panjang, pakaian luar memakai jubah yang ditutup dengan surban, hingga memakai surban diikat dengan igel dengan hiasan permata.

Sedangkan peraga putra memakai alas kaki selop senada dengan warna baju, memakai gamis dan celana panjang, pakaian luar memakai jubah yang ditutup dengan surban, hingga memakai surban diikat dengan igel dengan hiasan permata.

Busana Kudusan (Dian Utoro Aji/detikTravel)

Lalu busana saudagar muslim dan peranakan. Saudagar muslim putra mengenakan jas tutup kerah, sarung batik Kudus Sekar Jagad Mbregat, hingga iket kepala batik. Saudagar muslim putri mengenakan baju encim bordir putih, jarik batik Kudus Sekar Jagad Mbregat, kerudung panjang bordir putih rambut tertutup hingga mengenakan perhiasan.

Selanjutnya, busana Kudusan Jas Songkok. Peraga putra mengenakan jas koko warna putih bordir, iket Kudusan, dan mengenakan sandal terompah. Peraga putri mengenakan jarik batik Kudusan kebaya encim putih bordir, kerudung panjang bordir, dan rambut tertutup.

Serta busana Kudusan jas songkok dan caping kalo. Peraga putra mengenakan jasko bludru biru, perkancing emas, sarung batik Kudusan, iket Kudusan, jam saku sebelah kiri. Peraga putri mengenakan baju kurung bludru, berkalung panjang sembilan untai, giwang berlian tretes babon angkrem, tutuk konde dinar, hingga mengenakan sanggul.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus, Mutrikah mengatakan acara ini bertujuan untuk menggali dan melestarikan budaya adat Kudusan yang merupakan warisan tidak benda masa lampau. Apalagi kata dia di zaman sekarang banyak budaya asing yang masuk Kudus.
"Acara ini bertujuan sebagai upaya penggalian dan pelestarian budaya adat Kudusan yang merupakan warisan tak benda masa lampau agar tidak tergerus dengan budaya asing yang masuk dan yang tidak sesuai dengan budaya-budaya Kudusan," ujar Tika sapaannya saat memberikan sambutan pada acara pagelaran busana Kudusan di Pendapa Kabupaten Kudus, Senin (20/12/2021).

"Kedua mengembangkan rasa bangga terhadap budaya Kudusan bagi budaya Kudus umumnya dan generasi muda pada khususnya. Sebagai wadah ajang kreatifitas dalam mengembangkan budaya Kudusan yang agamis dan religius," sambung dia.

Tika mengatakan ada beberapa rangkaian acara pada pagelaran busana Kudusan. Mulai dari peragaan busana Kudus, penampilan wayang, hingga sarasehan budaya Kudusan.

"Materi kegiatan yang ditampilkan yakni pagelaran busana Kudusan, pagelaran suluk tajuk Menara, dan pagelaran wayang kulit, serta sarasehan budaya Kudusan dengan tema Kudus empat negara," ucapnya.


Dia mengatakan pihaknya terus berupaya melestarikan budaya di Kudus. Disebutkan ada tiga penghargaan diberikan kepada Kudus dari Kementrian Pendidikan, Budaya, Riset dan Teknologi terkait upaya melestarikan budaya pada tahun 2021 ini.

"Upaya pelestarian budaya tak benda tahun 2021 ini mendapatkan tiga penghargaan dari Kementerian Pendidikan, Budaya, Riset dan Teknologi RI berupa penetapan jamasan keris Cinthaka dan tradisi Dandangan sebagai warisan budaya Kudus serta penetapan Kampung Piji Wetan sebagai desa budaya," terang Tika.

Kesempatan yang Bupati Kudus HM Hartopo meminta kepada masyarakat untuk tetap melestarikan budaya leluhur. Dia pun mengaku berupaya untuk mematenkan warisan budaya yang ada di Kudus.

"Maka dari itu peradaban dan budaya Kudus yang perlu dikembangkan dan yang harus dipatenkan. Sementara ini budaya di Kudus ini belum dieksplor secara utuh dan ini memang perlu harus dipatenkan. Sehingga Kudus memiliki khas agar semua orang tahu," tambah Hartopo saat memberikan sambutan di Pendapa Kabupaten Kudus tadi malam.


Sumber : liputan6.com

0 comments: