Masjid Raya Sumatera Barat Masuk Daftar Desain Arsitektur Terbaik Dunia, Bikin Bangga

Rabu, Desember 22, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Liputan6.com, Jakarta - Masjid Raya Sumatera Barat dinobatkan sebagai salah satu masjid dengan desain arsitektur terbaik dunia. Masjid yang berlokasi di Kota Padang ini menyabet Penghargaan Abdullatif Al Fozan untuk Arsitektur Masjid dalam Kompetisi Arsitektur Masjid Abdullatif Al Fozan.

Dilansir dari Albursa, Rabu (22/12/2021), kompetisi ini mengumumkan hasil di sesi ketiga. Terdapat tujuh masjid dari berbagai negara yang memenangkan Penghargaan Abdullatif Al Fozan untuk Arsitektur Masjid, termasuk Masjid Raya Sumatera Barat.

Masjid-masjid lainnya yang berada dalam daftar pemenang, yakni Masjid Basuna di Kegubernuran Sohag, Mesir, Masjid Sancaklar di Istanbul, Turki, Masjid Agung Djenné di Mali, Masjid Raja Abdullah di Riyadh, Masjid Amir Shakib Arslan di Lebanon, dan Masjid Merah di Bangladesh.

Mengutip dari laman resmi Simas Kemenag, Rabu (22/12/2021), Masjid Raya Sumatera Barat juga dikenal sebagai Masjid Mahligai Minang. Masjid yang terletak di Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat ini menjadi salah satu masjid yang terbesar di Tanah Air.

Peletakan batu pertama masjid berlangsung pada 21 Desember 2007 oleh Gubernur Sumatera Barat saat itu, Gamawan Fauzi. Pengerjaannya dilakukan dalam beberapa tahap yang terkendala karena hanya mengandalkan dana APBD Sumatera Barat.

Berdasarkan rencana, masjid ini akan berlantai tiga dan diperkirakan dapat menampung sekitar 20 ribu jamaah, yakni sekitar 15 ribu jamaah di lantai dasar dan selebihnya di lantai dua dan tiga. Masjid ini dibangun di lahan seluas sekitar 40.000 meter persegi dengan luas bangunan utama kurang dari setengah luas lahan tersebut, yakni sekitar 18.000 meter persegi, sehingga menyisakan halaman yang luas. Di halaman itu akan dibuat pelataran, tempat parkir, taman, dan tempat evakuasi bila terjadi tsunami (shelter).

 


Arsitektur Masjid Raya

Proses pembangunan masjid oleh PT. Total Bangun Persada ini dilakukan dalam tiga tahap pertama, mulai dari pekerjaan persiapan, pengurukan tanah, dan pemasangan struktur bangunan, dilanjutkan dengan pengerjaan ruang salat dan tempat wudu, hingga pemasangan keramik pada lantai dan ukiran sekaligus kaligrafi pada dinding bagian luar (fasad). Tiga tahap pembangunan tersebut masing-masing menghabiskan biaya sebesar Rp103,871 miliar (2008 dan 2009), Rp15,288 miliar (2010), dan Rp31 miliar (2011).

Arsitektur masjid ini adalah rancangan Rizal Muslimin. Ia adalah pemenang sayembara desain Masjid Raya Sumatera Barat yang diikuti oleh 323 arsitek dari berbagai negara pada 2007.

Arsitektur masjid ini secara umum mengikuti tipologi arsitektur Minangkabau dengan ciri bangunan berbentuk gonjong. Ada pula penggunaan ukiran Minang sekaligus kaligrafi pada dinding bagian luar.


Tentang Masjid Raya Sumatera Barat

Selain itu, arsitektur Masjid Raya juga menggambarkan kejadian peletakan batu Hajar Aswad dengan menggunakan kain yang dibawa oleh empat orang perwakilan suku di Kota Mekkahpada setiap sudutnya. Sementara, Abdullatif Al Fozan Award dimulai sejak 2011.

Penghargaan ini bertujuan memberi apresiasi kepada kantor teknik yang merancang proyek pemenang. Ketentuannya adalah masjid-masjid calon harus dimasukkan dalam buku yang diterbitkan oleh penghargaan dalam bahasa Arab dan Inggris, dalam kerangka kerja tujuan penghargaan merayakan arsitektur masjid dan pentingnya di abad ke-21.

Selain itu, penghargaan ini diberikan setiap tiga tahun dan dibagi menjadi tiga kategori, yakni untuk masjid pusat dengan pengaruh dan kehadiran di tingkat nasional di setiap negara di dunia, yang kedua untuk masjid salat Jumat, dan kategori ketiga adalah untuk masjid lingkungan. Penghargaan juga diberikan untuk inovasi di bidang teknologi dan ide-ide yang dapat berkontribusi pada pengembangan arsitektur masjid.


Sumber : liputan6

0 comments: