Partai Komunis China dari Mao Zedong hingga Xi Jinping

Jumat, Desember 31, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Ekshibisi di museum mengenang 100 tahun Partai Komunis China. (REUTERS/THOMAS PETER)

Partai Komunis China (PKC) telah lama menjadi partai yang paling berpengaruh di Negeri Tirai Bambu. Sudah 100 tahun lebih partai ini menguasai daratan Tiongkok yang melahirkan berbagai pemimpin ternama negara itu.
Baru-baru ini, PKC melakukan rapat pleno tertutup selama empat hari pada November lalu. Rapat ini diprediksi bakal membuka jalan bagi Presiden China saat ini, Xi Jinping untuk lebih lama memimpin negara itu.

South China Morning Post menyebutkan, lebih dari 370 anggota Komite Sentral PKC datang ke rapat 'super rahasia' itu.


Penanaman 'Akar' Komunisme PKC di China
Lantas, bagaimana PKC bisa kuat menanamkan akarnya dalam pemerintahan China?

Mengutip Firstpost, Kung Chang Tang atau PKC dibentuk pada 23 Juli 1921 oleh partai politik dan gerakan revolusioner di tahun itu. Beberapa tokoh revolusioner Tiongkok yang ikut terlibat dalam pembentukan PKC ialah Li Dazhao dan Chen Duxiu.

PKC menemukan jati dirinya dalam Gerakan Empat Mei di 1919. Kala itu, ideologi radikal Barat seperti Marxisme dan anarkisme menarik perhatian intelektual China. Di awal pembentukan, PKC hanya memiliki 50 anggota.

Walaupun demikian, partai ini bisa melakukan Kongres pertama mereka di Shanghai dengan bantuan Partai Komunis Uni Soviet.

PKC dipimpin oleh Mao Zedong sejak 1935 sampai 1976, yang merupakan tahun Mao meninggal dunia, dikutip dari Britannica. Kala kepemimpinan Mao, dataran China mengalami perang sipil antara kubu PKC dengan kubu nasionalis dari Partai Kuomintang, yakni pada 1945 dan 1949.

PKC berhasil menang dan Mao mendeklarasikan Republik Rakyat China (RRC) pada 1 Oktober 1949. Sejak itu, PKC memonopoli kekuasaan China dan memiliki lebih dari 90 juta anggota, dikutip dari CFR.

PKC berhasil mendominasi setiap organ kekuasaan negara, pun juga menjangkau hampir setiap sudut kehidupan publik China. PKC juga mengontrol pembuatan kebijakan, mengungguli kewenangan kementerian pemerintah.

Selain itu, sebagian besar anggota PKC menjabat staf lembaga pemerintah dari ibu kota Beijing ke kantor-kantor desa di penjuru China.

Meski berhasil memenangkan perang sipil, Mao harus melewati berbagai masalah selama memimpin China. Salah satu masalah paling kontroversial ialah program Lompatan Jauh ke Depan gagasan Mao di 1958 yang berencana mengubah budaya ekonomi masyarakat China dari agraris ke industri modern dalam waktu lima tahun.

Nahasnya, program ini tak terimplementasi dengan baik dan menyebabkan kematian sekitar 20 juta warga akibat kelaparan pada 1959 hingga 1962. Akibatnya, program ini kemudian dicabut pada 1961.

Kegagalan program ini salah satunya diakibatkan karena Mao berusaha menerapkan strategi Uni Soviet yang tak sesuai dengan masyarakat China. Kesalahan strategi ini membuat lahan petani di China rusak.

Mao juga mendorong masyarakat untuk mendirikan tungku baja di halaman belakang rumah mereka. Masyarakat ditekan harus memproduksi baja untuk mengurangi impor bahan itu dalam kuota tertentu. Akibatnya, warga yang putus asa harus menghancurkan barang berguna mereka menjadi baja, seperti panci dan alat pertanian.

Kegagalan program ini menimbulkan perpecahan dalam petinggi partai. Satu kubu menyalahkan elemen birokrasi yang dinilai terlalu bersemangat menerapkan kebijakan mereka. Kubu lain menilai kegagalan ini merupakan bukti China harus mengandalkan pada keahlian dan insentif material dalam mengembangkan ekonominya.

Meski petinggi partai menghadapi perbedaan pendapat, Mao berhasil mempertahankan posisinya dan meluncurkan Revolusi Kebudayaan pada 1966. Revolusi ini bertujuan untuk melestarikan nilai komunis China dengan 'membersihkan' sisa-sisa elemen kapitalis dan tradisional masyarakat China.

Sejak itu, nilai-nilai komunis China terus diterapkan pada pemimpin-pemimpin China pengganti Mao, seperti Deng Xiaoping dan Xi Jinping.

Deng mengemban tanggung jawab sebagai pemimpin China sejak Mao meninggal dunia. Ia memimpin China dengan reformasi pasar dan ekonomi yang membuatnya memiliki reputasi sebagai "Arsitek China Modern."

Dalam kepemimpinan Deng, China mulai terbuka dengan investasi asing dan teknologi. China juga memperkenalkan tenaga kerja mereka yang besar ke pasar global.

Gambar Xi Jinping di museum Partai Komunis China. (REUTERS/CARLOS GARCIA RAWLINS)

Salah satu pemimpin China lain yang kontroversial adalah Xi Jinping. Xi kerap melakukan pembatasan-pembatasan esktrem untuk melestarikan paham komunisme China.

Beberapa pengamat menilai pandemi Covid-19 yang melanda dunia saat ini menjadi alat bagi Xi untuk membentengi masyarakat China dari paham Barat. Nilai komunisme yang terus dilestarikan selama bertahun-tahun juga membuat Xi memiliki alat untuk mengontrol rakyatnya.

"Secara ideologis, China perlahan menjadi lebih picik dibandingkan dengan era reformasi dan keterbukaan pada 80-an dan 90-an. Ini adalah ciri era baru Xi Jinping," kata peneliti senior untuk studi China dari lembaga think tank Council on Foreing Relations, Carl Minzner, seperti dikutip dari CNN.

Xi Jinping juga terus memperingatkan warga China soal 'infiltrasi' nilai-nilai Barat seperti demokrasi, kebebasan pers, dan independensi peradilan.

Pakar Studi China di University of California Victor Shih menganggap pemerintah China saat ini memandang wartawan Barat, pekerja lembaga swadaya masyarakat, dan akademisi yang ingin datang ke China sebagai sumber pengaruh yang tak diinginkan.

"Filter berat yang diterapkan saat ini, dan telah diterapkan sebelum pandemi dimulai, akan menolong penyaringan terhadap apa yang dilihat oleh pemimpin China sebagai elemen yang masuk ke negeri itu dan 'mengotori' nilai masyarakat China," tuturnya.

Kini, PKC masih menjadi partai yang berkuasa atas China, khususnya dalam kebijakan-kebijakan yang diterapkan. PKC masih 'rajin' menyelenggarakan rapat pleno yang digadang bakal mempermudah jalan Xi berkuasa atas China.

Tak hanya itu, China sendiri mulai merangkak menguasai pasar ekonomi dunia. China juga disebut memiliki armada laut terbesar di dunia yang membuat Amerika Serikat, negara maju terkuat dunia kini, kalang kabut.


Sumber : cnnindonesia.com

0 comments: