Rara Tepasan, Istri Sunan Gunung Jati yang Menghilangkan Budaya Sunda di Keraton Cirebon

Selasa, Desember 14, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Nyimas Rara Tepasan adalah istri Sunan Gunung Jati yang berdarah Jawa. (Ist)

Nyimas Rara Tepasan adalah istri Sunan Gunung Jati yang berdarah Jawa. Beliau disebut-sebut istri yang paling cerdas dari beberapa istri Sunan Gunung Jati lainnya.

Rara Tepasan juga dikenal sebagai seorang yang berperan besar terhadap tata kelola dan penerapan adat-istiadat di Keraton Kesultanan Cirebon.

Pada mulanya tata kelola Keraton Cirebon menggunakan adat istiadat Sunda, hal ini dikarenakan pendiri Kesultanan Cirebon (Cakrabuana) adalah pangeran dari Kerajaan Sunda.

Untuk itu tata kelola pemerintahan termasuk di dalamnya tata kelola Keraton dikelola dengan mencontoh tata kelola yang berlaku di Kerajaan Sunda.


Setelah Sunan Gunung Jati memperistri Rara Tepasan tata kelola pemerintahan Cirebon khususnya tata kelola Keraton menjadi berubah 90 derajat.

Sebab ditangan Rara Tepasan adat istiadat lama diganti dengan adat istiadat baru dari tanah kelahirannya. Beliaulah yang mengubah adat istiadat itu. Rara Tepasan adalah seorang Puteri Jawa, beliau merupakan anak Ki Gede Tepasan dari Majapahit.

Setalah menjadi Istri Sunan Gunung Jati, beliau dikisahkan sangat berpengaruh sekali dalam mengatur tata kelola keraton, beliau sedikit demi sedikit menerapkan budaya Jawa dalam tata kelola Keraton Cirebon yang pada kemudianya menghilangkan adat istiadat Sunda yang telah lama diterapkan di dalam lingkungan Istana.

Pemberlakuan penetepan adat istiadat Jawa yang dilakukan oleh Rara Tepasan di lingkungan Keraton Cirebon dikabarkan mendapatkan persetujuan langsung dari Sunan Gunung Jati. Sehingga tidak ada satu pun orang yang berani mempermasalahkannya.

Perkawinan Sunan Gunung Jati dengan Rara Tepasan terbilang melankonis, sebab diceritakan bahwa, ketika berada di Majapahit, Rara Tepasan melihat cahaya putih yang memancar dari arah barat laut (Maksudnya Bhumi Sunda/Cirebon), sehingga ia ingin sekali melihat dan menemui cahaya itu.
Ia pun bersumpah jika sumber cahaya tersebut merupakan seorang perempuan akan dijadikan saudaranya, jika laki-laki akan dijadikan suaminya.

Kehendak Rara Tepasan kemudian disampaikan kepada ayahnya Ki Gede Tepasan. Rupanya Ki Gede Tepasan kemudian mengabulkan dan mengantarkan anaknya ke sumber cahaya tersebut, dan benar saja, setelah didekati ternyata sumber cahaya tersebut adalah Sunan Gunung Jati yang pada waktu itu menjadi Raja Cirebon.

Rara Tepasan dikirim ke Cirebon dengan diiringi seratus pengawal dan membawa harta kekayaan yang banyak, harta serta seratus pengawal tersebut kemudian tidak kembali ke Tepasan, semuanya kemudian tinggal di Cirebon menemani sang puteri. Sementara Rara Tepasan diserahkan oleh ayahnya ke Sunan Gung Jati untuk dijadikan istrinya.

Rara Tepasan merupakan istri ke empat Sunan Gunung Jati, dari perkawinan ini keduanya dianugerahi dua orang anak, yaitu (1) Ratu Ayu Wanguran, kelak dinikahi oleh Sultan Demak II (Pangeran Sabrang Lor), beliau juga kemudian dinikahi oleh Tubagus Pasai (Fatahilah) setelah Sultan Demak II tersebut wafat dalam Ekspedisi penyerangan Portuigis di Malaka (2) Pangeran Pasarean.

Dikabarkan juga jika, Rara Tepasan ini merupakan alat diplomasi Majapahit untuk menjalin persahabatan dengan Kerajan Cirebon atau juga bisa dimaknai sebagai upaya dari salah satu bangsawan Majapahit untuk berlindung ke Cirebon. Baca Juga: Tegang dan Menakutkan, Kisah Pendaki Tersesat di Gunung Ceremai.

Sebab pada waktu itu Negerinya dalam kondisi yang kurang setabil akibat terjadi banyak pemberontakan dan sedang menghadapi ketegangan dengan Demak.

Sumber:
historiacirebon
bungfei
diolah dari berbagai sumber






Sumber : sindonews.com

0 comments: