Sisi Gelap Pangeran MBS di Balik Ambisi Mengikis Konservatisme Saudi

Sabtu, Desember 18, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Pangeran Mohammed bin Salman dikenal sebagai sosok kontroversial calon Raja Arab Saudi. (AFP/BRENDAN SMIALOWSKI)

Jakarta, CNN Indonesia -- Mohammed bin Salman (MBS), pangeran dari Kerajaan Arab Saudi kerap menjadi sorotan terkait sejumlah skandal. Terlebih kala pembunuhan Jamal Khashoggi dan rumor ia sempat berencana membunuh raja Abdullah.

Walaupun demikian, MBS menjadi salah satu pelopor Arab Saudi terhadap budaya yang lebih modern. MBS mengeluarkan beberapa kebijakan yang mendobrak kultur konservatif negara Islam itu.

Beberapa aturan itu antara lain mengizinkan perempuan menggunakan bikini di pantai eksklusif dan mengizinkan perempuan hidup sendiri.


Bernama lengkap Muḥammad ibn Salman ibn Abd al-Aziz Al Sa'ud, ia lahir pada 31 Agustus 1985, dikutip dari Britannica. Ia merupakan anak dari Raja Salman bin Abdulaziz yang kini menguasai Arab Saudi.

Ibunya adalah istri ketiga Raja Salman, bernama Fahdah binti Falaḥ bin Sultan.

MBS disebut menjadi orang yang terlibat dalam pembunuhan Khashoggi, seorang jurnalis dari media The Washington Post. Selama menjadi wartawan, Khashoggi sering mengkritik kepemimpinan MBS di Saudi.

Khashoggi menyoroti kedekatan Arab Saudi dengan pemerintah Amerika Serikat di era Trump. Ia juga menentang keterlibatan Saudi dalam perang sipil di Yaman.

Khashoggi menghilang ketika hendak mengurus dokumen pernikahannya di konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober 2018. Hilangnya jurnalis ini membuat pemerintah Turki melakukan penyelidikan.

Setelah merazia gedung konsulat Saudi, aparat Turki menemukan beberapa bukti yang mendukung dugaan bahwa Khashoggi dibunuh. Laporan intelijen AS juga menyimpulkan bahwa Khashoggi dibunuh di dalam gedung konsulat itu atas perintah penguasa Saudi. Sejak itu, nama MbS terus dikaitkan dengan pembunuhan Khashoggi.

Tak hanya itu, Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyimpulkan bahwa MbS memerintahkan pembunuhan Khashoggi.

Putra Mahkota Mohammed bin Salman sempat diisukan berencana membunuh Raja Abdullah. (YOAN VALAT / POOL / AFP)

Selain tersandung kasus Khashoggi, MBS juga dirumorkan pernah ingin membunuh pemimpin Arab Saudi sebelumnya, yakni Raja Abdullah.
Seorang mantan pejabat intelijen Arab Saudi, Saad al-Jabri, mengklaim bahwa MbS sempat memiliki niat membunuh mantan raja negara itu.

Menurut al-Jabri, MbS menyatakan bahwa ia dapat membunuh Raja Abdullah agar ayahnya, Salman bin Abdulaziz, bisa mewarisi takhta kerajaan.

"Dia berkata kepadanya, 'Saya ingin membunuh Raja Abdullah. Saya dapat racun dari Rusia. Cukup bersalaman dengan dia, hidupnya akan berakhir,'" ucap al-Jabri, seperti dikutip Associated Press, Minggu (24/10).

Di tengah berbagai rumor gelap yang menimpa dirinya, MBS kerap memberlakukan berbagai kebijakan yang mengikis budaya konservatif Arab Saudi. MBS sendiri mulai menjabat sebagai putra mahkota kerajaan pada 2017 lalu.

Di era MBS, salah satu kawasan Arab Saudi, King Abdullah City, melakukan pelonggaran sosial. Perempuan boleh menggunakan bikini di pantai privat di kawasan itu. Sejumlah pantai privat di King Abdullah Economic City juga mengizinkan pasangan lelaki dan perempuan yang belum menikah bercengkrama di depan publik.

Tak hanya itu, perempuan juga boleh tinggal sendiri. Pengadilan syariat Saudi di kepemimpinan MBS mengizinkan perempuan untuk tinggal sendiri tanpa ditemani wali laki-laki, dikutip dari Middle East Monitor.

MBS juga mengizinkan perempuan menyetir mobil, yang mana cukup kontroversial di negara itu. MBS juga memberikan izin operasi kepada bioskop dan konser setelah dilarang selama tiga dekade.

Di tengah dua sisi yang berbeda ini, beberapa pakar menilai MBS adalah sosok yang ambisius.

"Sosok yang ambisius, progresif, dan tidak bisa ditentang keinginannya," tutur pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia Yon Machmudi, Kamis (16/12).

Penilaian yang sama juga diutarakan oleh pengamat Timur Tengah dari Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) Fahmi Salsabila.

"Kalau dari saya sebagai pengamat, dia ambisius."

Ketika ditanya alasan mengapa MbS dinilai sebagai sosok yang ambisius, Fahmi mengatakan penilaian ini muncul karena "visi Arab Saudi yang dia canangkan, perlakuan dia terhadap lawan-lawan politiknya dalam menggapai tujuan," ketika diwawancara CNNIndonesia.com, Kamis (16/12).


Sumber : cnnindonesia.com

0 comments: