Tips Pelestarian Cagar Budaya Melalui Media Sosial

Senin, Desember 27, 2021 Majalah Holiday 0 Comments


Pandemi covid 19 telah membawa sejumlah perubahan pada sejumlah aspek kehidupan manusia. Salah satunya adalah bidang pelestarian cagar budaya. Selama ini bidang pelestarian cagar budaya senantiasa melibatkan aktivitas fisik, mulai dari pemugaran, pemeliharaan hingga pemanfaatan.

Pada masa pandemi ini, semua aktivitas fisik tersebut serba dibatasi. Apalagi bidang pemanfaatan yang melibatkan masyarakat, salah satunya adalah akses untuk mengunjungi cagar budaya. Bidang inilah yang paling terdampak.

Seiring dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), secara otomatis semua kegiatan masyarakat termasuk pemanfaatan cagar budaya pun tidak bisa dilakukan. Hal ini semestinya tidak menjadi masalah. Apalagi dengan keberadaan media sosial. Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada Januari 2021 pernah menyampaikan bahwa Pandemi COVID-19 membuat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berupaya mengoptimalkan penggunaan media digital dalam pelestarian budaya. Kebijakan ini juga berlaku untuk pelestarian Cagar Budaya.
Penggunaan bagian dari media digital, yaitu media sosial untuk tujuan pelestarian Cagar Budaya sebenarnya sudah dilakukan. Namun selama ini media sosial kerapkali hanya menjadi sarana publikasi semata. Pembuatan konten pelestarian Cagar Budaya selama ini berkesan mengutamakan kepentingan publikasi saja. Tanpa melihat bagaimana persepsi maupun respons dari pembaca tersebut.

Konten dengan tema pelestarian Cagar Budaya yang kerap dijumpai website dan media sosial lembaga pemerintah kerap kali hanya memuat informasi terkait deskripsi yang sederhana. Misalnya konten yang tentang sebuah candi. Biasanya hanya memuat deskripsi dari candi, yang meliputi lokasi, kapan penemuan dan detail teknis seperti ukuran candi. Kalaupun ada nilai plus yang ditampilkan, biasanya adalah relief dari candi tersebut. Itu pun jika ada. Konten semacam ini justru kerap kali tidak masuk dalam urutan tertinggi pada mesin pencari google.
Konten tersebut seringkali berada di bawah konten dari website lain, yang memuat informasi lain dari sebuah candi. Misalnya mitos dari pembangunan candi tersebut. Dan biasanya konten jenis ini memiliki trafik cukup tinggi dalam mesin pencari. Maka tidak heran jika seringkali warganet lebih mengenal informasi pembangunan candi dengan berbalut mitos tersebut.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan cara penyampaian semacam itu. Namun nilai penting yang terkandung dalam cagar budaya maupun Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) —penyebutan yang diberikan pada UUCB 2010 pada benda maupun bangunan yang memiliki nilai sejarah, arkeologi dan ilmu pengetahuan lainnya, namun belum ditetapkan sebagai Cagar Budaya— menjadi tidak tersampaikan kepada masyarakat luas. Hal ini tentu saja tidak akan bagus untuk pelestarian cagar budaya. Padahal selama ini bidang pelestarian cagar budaya dituntut untuk melibatkan masyarakat.
Informasi dalam konten yang tidak tersampaikan tersebut menjadikan warganet kerap tidak memberikan respons. Di media sosial hal semacam ini bisa dilihat dari minimnya kegiatan like, retweet, sharing atau repost dari warganet di sejumlah platform, pada konten yang diunggah tersebut.

Permasalahan ini semestinya bisa diatasi dengan baik. Salah satunya adalah dengan memahami persepsi warganet. Ini menjadi tugas utama dari pengelola website dan media sosial. Fakta bahwa konten yang menceritakan cagar budaya dengan mitos yang menaunginya lebih popular daripada deskripsi detail terkait bangunan tersebut adalah sebuah data faktual.
Sebuah tantangan yang menarik memang bagi para pengelola media sosial di Lembaga pemerintah. Menjadikan tulisan yang memuat sebuah cagar budaya itu menarik dan duduk di halaman pertama mesin pencari google.
Memahami keinginan warganet
Salah satu cara agar konten yang tercatat di mesin pencari adalah dengan memahami apa yang menjadi keinginan dari warganet terkait cagar budaya. Informasi tentang cagar budaya macam apa sih yang membuat warganet tertarik untuk membacanya?

Bagaimana agar warganet mau membaca informasi yang kita bagikan? Pengelola media sosial harus memahami Arsitektur Informasi. Donna Spencer dalam bukunya yang berjudul A Practical Guide to Information Architecture menjelaskan bahwa Arsitektur Informasi adalah semua hal yang berkaitan dengan pengorganisasian konten, menggambarkannnya dengan jelas dan menyediakan cara yang tepat agar semua orang bisa mendapatkan informasi darinya. Sebuah konten memerlukan perencanaan dan penyampaian yang baik agar orang mudah memahami informasi di dalamnya.
Salah satu aspek yang mendukung penyusunan Arsitektur Informasi yang ideal adalah pemahaman pada orang. Pada konteks ini, pemahaman pada kebutuhan warganet adalah kunci menyajikan informasi yang tepat.Warganet adalah konsumen yang membutuhkan informasi. Maka pemahaman pada apa yang mereka mau adalah sebuah keharusan.

Salah satu cara memahami warganet adalah dengan melihat data insight yang disediakan oleh platform media social. Facebook menyediakannya untuk Page (Halaman). Sementara Instagram untuk akun bisnis. Data yang sama juga dibagikan platform Twitter. Data Insight biasa menyajikan sejumlah aspek dari warganet yang sudah mengikuti sebuah akun. Data tersebut meliputi rentang usia warganet, domisili dan waktu aktif mereka menggunakan media sosial. Ketiga poin tersebut memiliki hubungan dengan upaya memahami keinginan warganet.
Usia Warganet
Usia warganet bisa menjadikan kesesuaian konten. Jika biasanya konten Cagar Budaya hanya untuk warganet yang berusia lebih 25-30 tahun atau bahkan usia di atasnya. Maka pembuat konten bisa membuat konten yang menyasar anak muda, misalnya bisa berupa infografis dengan desain sesuai dengan trend warna khas K- Pop. Atau video singkat dengan teks yang menarik dan edukatif. Cara-cara tersebut tergolong menarik untuk anak muda. Bukan sebuah tulisan panjang yang hanya isinya terlalu monoton.

Domisili
Domisili warganet merupakan aspek yang tergolong penting jika dihubungkan dengan konten yang akan dibuat. Pengelola Media Sosial bisa melihat domisili dari warganet yang mayoritas menjadi followernya untuk membuat sebuah konten. Misalnya pembahasan tentang cagar budaya di sekitar tempat tinggal mayoritas warganet, followers akun mereka.
Waktu Paling Aktif
Warganet memiliki kebiasaan mengakses media sosial pada waktu tertentu. Sejumlah platform memuat data terkait itu. Berdasarkan data waktu ini, pengelola bisa membuat konten kemudian mengunggahnya di periode waktu tersebut. Hal ini akan memudahkan warganet —baik followers ataupun bukan— untuk menyimak konten tersebut. Tindakan ini juga akan menambah jumlah jangkauan dari setiap konten. Jumlah jangkauan ini biasa menunjukkan jumlah warganet yang timeline media sosialnya dilalui konten buatan pengelola. Semakin banyak warganet yang menyimak konten tersebut, juga bisa dilihat dari like, share (repost dan retweet juga), dan komentar jika ada.

Para pengelola media sosial di lembaga pemerintah pelestari Cagar Budaya bisa menerapkan cara-cara di atas agar semakin banyak warganet yang berkunjung dan mengakses media sosial mereka. Keduanya bisa menjadi tanda pelibatan masyarakat dalam pelestarian cagar budaya. Pelibatan masyarakat ini meski di masa pandemi covid 19 mengalami peningkatan.


Sumber : kumparan.com

0 comments: