6 Fakta Menarik Tebing Tinggi, Kota Lemang yang Pernah Jadi Pusat Kerajaan Padang

Selasa, Januari 11, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Liputan6.com, Jakarta - Tebing Tinggi adalah adalah salah satu kota yang berada di Provinsi Sumatra Utara. Lokasinya berada di tengah-tengah Kabupaten Serdang Bedagai, dengan luas wilayah 38,44 km persegi dan jumlah penduduk 172.838 jiwa pada 2020. Yang berarti tingkat kepadatannya 4.496 jiwa/km persegi.

Kota Tebing Tinggi merupakan salah satu pemerintahan kota dari 33 Kabupaten/Kota di Sumatra Utara. Berjarak sekitar 80 km dari Kota Medan (Ibu kota Provinsi Sumatra Utara) serta terletak pada lintas utama Sumatra yang menghubungkan Lintas Timur dan Lintas Tengah Sumatra melalui lintas diagonal pada ruas Jalan Tebing Tinggi, Pematangsiantar, Parapat, Balige dan Siborong-borong.

Kota Tebing Tinggi salah satu kota yang sangat beragam berdasarkan suku dan agama di Indonesia. Empat suku yang mendominasi ialah suku Melayu, Batak, Jawa dan Tionghoa. Beberapa suku lainnya juga ada di kota ini, termasuk suku Minangkabau, Nias dan Aceh

Tentu bukan itu saja hal-hal menarik dari Tebing Tinggi. Berikut enam fakta menarik seputar Kabupaten Tebing Tinggi yang dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber.

1. Tokoh Seniman dan Pendakwah

Kota Tebing Tinggi merupakan tempat kelahiran salah seorang sosok kontroversial di Indonesia yaitu Anton Medan. Pemilik nama asli Tan Hok Liang ini lahir di Kota Tebing Tinggi, Sumatra Utara, 10 Oktober 1957, dan meninggal dunia pada 15 Maret 2021. Ia dikenal sebagai mantan perampok dan bandar judi yang telah bertobat.

Ia memeluk agama Islam sejak 1992 dan mengubah namanya menjadi Muhammad Ramdhan Efendi serta menjadi pendakwah. Anton Medan mendirikan rumah ibadah yang diberi nama Masjid Jami' Tan Hok Liang. Masjid itu terletak di areal Pondok Pesantren At-Ta'ibin, Pondok Rajeg, Cibinong, Jawa Barat. Anton Medan.

Tokoh terkenal lainnya adalah Tino Sidin, seorang pelukis dan guru gambar yang terkenal dengan acaranya di stasiun TVRI era 80-an, yaitu Gemar Menggambar. Ia lahir di Kota Tebing Tinggi, 25 November 1925 dan dikenal membuat karya lukis yang menggambarkan kehidupan sehari-hari.

Tino Sidin meninggal dunia pada 29 Desember 1995, kediamannya di Yogyakarta diubah menjadi museum Taman Tino Sidin pada 2017. Tokoh terkenal lainnya dari Tebing Tinggi adalah penyair Saut Situmorang dan aktor Kaharuddin Syah.

2. Istana Negeri Padang

Tebing Tinggi pernah menjadi wilayah kerajaan, yaitu Kerajaan Padang, yang dulunya merupakan daerah otonom di bawah Kerajaan Deli. Pusat administrasi Kerajaan Padang berada di sebuah bangunan bergaya arsitektur Eropa yang saat ini menjadi markas Koramil 013, di Jalan K.F. Tandean. Bangunan itulah yang menjadi saksi bisu keberadaan Kerajaan Padang.

Sedangkan, lokasi istana raja tidak berapa jauh dari pusat administrasi kerajaan dan disebut dengan Istana Negeri Padang yang hingga kini masih berdiri kokoh. Istana ini merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Negeri Padang yang dibangun pada 1800-an, dan pernah direnovasi. Meski begitu, bentuk asli bangunan ini tetap dipertahankan.

Istana Negeri Padang berbentuk rumah panggung yang kokoh dan dihias dengan cat berwarna kuning yang merupakan warga kebanggaan masyarakat Melayu. Bahan bangunannya juga menggunakan bahan terbaik dan pilihan agar lebih kuat, kokoh, dan megah.

Asal usul nama “Negeri Padang” diambil dari lingkungan istana yang terletak di terletak di dataran tanah dan dikelilingi pepohonan rimbun. Di sekitar area Istana Negeri Padang, terdapat makam raja ke delapan, sembilan, sepuluh, dan keluarganya. Jika berwisata ke sini, Anda juga bisa berziarah ke makam para raja.

 


3. Kota Lemang

Tebing Tinggi mendapat sebutan Kota Lemang karena makanan itu merupakan makanan khas kota ini. Lemang terbuat dari beras ketan yang dimasak dalam seruas bambu, setelah sebelumnya digulung dengan selembar daun pisang. Gulungan daun bambu berisi tepung beras bercampur santan kelapa ini kemudian dimasukkan ke dalam seruas bambu lalu dibakar sampai matang di atas tungku panjang.

Lemang lebih nikmat disantap hangat-hangat, dengan campuran selai bahkan durian. Pusat penjualan lemang di Tebing Tinggi adalah di seruas jalan bernama Jl. KH Dahlan, berseberangan dengan Masjid Raya Tebing Tinggi.

Masyarakat lebih mengenalnya sebagai Jalan Tjong A fie. Lemang yang paling terkenal adalah Lemang Batok. Lemang produksi kota Tebing Tinggi yang sangat terkenal lezat sehingga dijuluki sebagai Kota Lemang.

4. Taman Kota Tebing Tinggi

Usai menempuh perjalanan dari atau menuju Medan, kini waktunya bersantai di taman sambil menikmati jajanan tradisional yang ada di sekitar taman. Ada banyak sekali makanan dan minuman yang bisa Anda coba di Taman Kota Tebing Tinggi, mulai dari makanan tradisonal hingga modern dan internasional.

Bersantai di Taman Kota Tebing Tinggi tak perlu khawatir dengan panasnya matahari karena di sini dikelilingi pepohonan rimbun. Udaranya masih segar karena taman ini juga berfungsi untuk ruang terbuka hijau. Bagi Anda yang membawa anak, di sini menyediakan wahana bermain anak seperti perosotan, ayunan dan berbagai tempat permainan lainnya.


5. Masjid Agung Kota Tebing Tinggi

Saat melewati Kota Tebing Tinggi, jangan lupa untuk singgah di Masjid Agung Tebing Tinggi yang terletak di pusat kota. Sebagai kota persinggahan, Tebing Tinggi sedang disiapkan untuk menjadi kota yang nyaman dengan fasilitas lengkap seperti Taman Kota, rumah makan, hingga masjid agung yang diharapkan bisa dijadikan sebagai tempat ibadah yang bermanfaat bagi siapa saja yang datang.

Masjid Agung ini yang buka 24 jam ini punya luas bangunan 1.500 meter persegi dan terlihat megah disertai arsitektur yang unik. Masjid Agung Tebing Tinggi yang berdiri pada 2019 ini mampu menampung hingga 3.000 jemaah dalam satu waktu.

6. Kuliner khas Tebing Tinggi

Tak hanya Lemang, Tebing Tinggi punya kuliner khas lainnya. Salah satunya Kue Kacang. Kue Kacang yang terkenal adalah kue kacang bermerek Rajawali, Beo dan Garuda serta banyak dijual di terminal Pajak (Pasar) Mini Tebing Tinggi. Karena kelezatannya dan harga yang ekonomis, Kue Kacang mulai menjadi ikon baru kuliner Tebing Tinggi selain Lemang.

Ada juga Halua yang merupakan manisan khas Melayu. Halua biasanya terbuat dari buah pepaya yang ditebuk atau dibuat anyaman yang disebut Buku Bemban, Pucuk Pohon Pepaya, Buah Paria, cabai, Meregat, Gelugur dan berbagai bahan lainnya. Meskipun tidak menjadi produksi bisnis, Halua akan tetap ada dalam upacara adat maupun hari raya seperti lebaran. Lalu ada Mie Rebus Soponyono

Mi rebus yang telah ada sejak masa pasca kemerdekaan ini pertama kali dibawa oleh seorang penjula bernama Baharuddin dari Jawa Timur ke Kota Tebing Tinggi. Nama “Soponyono” diambil dari Bahasa Jawa yang artinya “siapa sangka”.

Baharuddin berjualan di Jalan Iskandar Muda, Tebing Tinggi dengan menggunakan gerobak sorong. Usahanya diteruskan oleh anak dan menantunya. Menu yang ditawarkan adalah mi rebus dan sate daging dengan bumbu kacang.

 

Sumber : LIPUTAN6

0 comments: