Ainu, Suku Asli Jepang yang Terlupakan

Selasa, Januari 11, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Monumen Suku Ainu (Kim Kyung-Hoon/Reuters)

Hokkaido - Semua orang pasti kenal dengan budaya Jepang, seperti Geisha atau sushi. Tapi tahukah kamu tentang Ainu?
Ya, Jepang punya suku asli yang terlupakan. Disebut terlupakan, karena Pemerintah Jepang sendiri pernah tak mengakui keberadaan Ainu di masa lalu.

Dikutip dari BBC, Suku Ainu memiliki sejarah yang rumit. Asal-usul mereka tidak jelas, tetapi beberapa pakar meyakini mereka adalah keturunan dari penduduk asli yang pernah tersebar di Asia Utara.


Dahulu kala, tanah mereka terbentang dari utara Honshu (daratan Jepang) ke utara hingga Sakhalin dan Kepulauan Kuril (yang sekarang menjadi bagian yang disengketakan dengan Federasi Rusia).


Orang Ainu menyebut Hokkaido sebagai Ainu Moshiri (Tanah Ainu) dan mata pencaharian asli mereka ialah berburu, mencari makan dan memancing, layaknya banyak penduduk asli di seluruh dunia.

Kebanyakan dari mereka tinggal di sepanjang pantai selatan Hokkaido yang lebih hangat dan berdagang dengan Jepang.

Namun setelah Restorasi Meiji, sekitar 150 tahun yang lalu. Saat itu orang-orang dari Jepang daratan mulai bermigrasi ke Hokkaido, ketika Jepang menjajah pulau paling utara.

Sejak itu, praktik-praktik diskriminatif seperti Undang-Undang tentang perlindungan mantan penduduk asli Hokkaido pada 1899 menggusur suku Ainu dari tanah air mereka ke pegunungan tandus, yang terletak di tengah pulau.

"Itu kisah yang sangat buruk," kata Profesor Kunihiko Yoshida, profesor hukum di Universitas Hokkaido.

Dipaksa bertani, mereka tidak lagi bisa menangkap ikan salmon di sungai mereka dan berburu rusa di tanah mereka, kata Yoshida.

Mereka diharuskan mengadopsi nama Jepang, berbicara bahasa Jepang dan perlahan-lahan budaya dan tradisi mereka dilucuti, termasuk upacara tradisional mereka yang melibatkan beruang.

Ya, suku Ainu hidup bersama beruang. Mereka akan berburu anak-anak beruang untuk dipelihara. Mereka membuat pondok beruang yang terbuat dari batang kayu bulat dan tinggi menjulang.

"Kami menangkap beruang ketika mereka ketika mereka masih anak-anak dan membesarkan mereka sebagai anggota keluarga. Mereka berbagi makanan dengan kami dan tinggal di desa kami. Ketika saatnya tiba, kami membebaskan satu ekor kembali ke alam dan membunuh yang lain untuk makan," ujar Kimiko Naraki, perempuan dari suku Ainu yang berumur 70 tahun.

Selain memperlakukan beruang dengan baik dalam hidupnya, orang-orang Ainu percaya bahwa roh hewan suci yang mereka sembah sebagai dewa, akan memastikan keberlanjutan keberuntungan komunitas mereka.

Karena stigmatisasi yang luas, banyak orang Ainu yang menyembunyikan leluhur mereka.

Dan efek jangka panjangnya jelas terlihat saat ini, dengan sebagian besar penduduk Ainu tetap miskin dan kehilangan hak secara politik, dengan banyak tradisi dan pengetahuan leluhur mereka hilang.

Di antara praktik keji lainnya, peneliti Jepang membongkar pemakaman suku Ainu sejak akhir abad ke-19 hingga 1960-an, mengumpulkan banyak koleksi peninggalan suku Ainu untuk dipelajari, tapi tidak pernah mengembalikan tulangnya.

Baru-baru ini, perlakuan terhadap orang-orang Ainu mulai berubah.
Pada bulan April 2019, mereka secara resmi diakui sebagai penduduk asli Jepang oleh pemerintah Jepang, setelah melalui musyawarah selama bertahun-tahun, yang menghasilkan apresiasi yang lebih positif terhadap budaya Ainu dan memperbarui kebanggaan akan bahasa dan warisan mereka.

"Penting untuk melindungi kehormatan dan martabat orang Ainu dan untuk mewariskannya ke generasi berikutnya untuk mewujudkan masyarakat yang dinamis dengan nilai-nilai yang beragam," kata juru bicara pemerintah Yoshihide Suga, seperti dilansir The Straits Times.


Hanya beberapa kantong pemukiman orang Ainu yang tersisa, tersebar di seluruh Hokkaido, dengan sebagian besar dari total sekitar 20.000 Ainu (tidak ada angka resmi) berasimilasi ke kota-kota di sekitar pulau.

Namun, wisatawan yang memperhatikan dengan cermat akan dapat melihat jejak budaya mereka di mana-mana.

Banyak nama tempat di Hokkaido yang berasal dari bahasa Ainu, seperti Sapporo, yang berasal dari kata Ainu sat (kering), poro (besar) dan pet (sungai) karena lokasinya di sekitar Sungai Toyohir; atau Shiretoko - semenanjung yang menonjol dari ujung timur laut Hokkaido - yang dapat diterjemahkan sebagai "tanah" (siri) dan "titik yang menonjol" (etuk).



Sumber : detik.com

0 comments: