Alat Musik, Kostum, dan Sejarah Tari Yospan Asal Papua

Rabu, Januari 12, 2022 Majalah Holiday 0 Comments


Tari yospan adalah tarian tradisional asal Biak, Papua yang terkenal hingga tingkat nasional. Tarian ini merupakan gabungan dari dua jenis tari pergaulan yosim dan pancar yang dapat dibawakan oleh laki-laki maupun perempuan.

Dikutip dari Buku Siswa Seni Budaya SMP/MTs Kelas 8 terbitan Gramedia Widiasarana Indonesia, tari yospan memiliki gerakan yang mirip dengan tari poloneis asal Eropa. Meski begitu, tari asal papua ini lebih mengutamakan kebebasan serta kelincahan dalam gerakannya.
Tari yospan ini sering ditampilkan dalam berbagai acara adat. Dalam penampilannya, tari ini biasanya diiringi dengan nyanyian yang dibawakan oleh para penarinya, yaitu lagu tradisional daerah Papua.

Alat Musik dan Kostum Tari Yospan

ewi Nurhayati dalam buku Mengenal Tarian dan Seni Papua menginformasikan bahwa ada alat musik yang digunakan untuk mengiringi tari yospan, yaitu ukulele, gitar, dan tiga tali yang berfungsi sebagai bass. Tali bass tersebut terbuat dari lintingan serat sejenis daun pandan yang bisa didapatkan di hutan-hutan daerah pesisir Papua.
Selain itu, masih ada alat musik pengiring lainnya, yaitu kalabasa. Alat musik satu ini terbuat dari labu yang dikeringkan dan di dalamnya diisi manik-manik atau batu-batu kecil. Cara memainkannya adalah dengan digoyang-goyangkan.
Kostum tari yosan adalah pakaian tradisional Papua yang terbuat dari akar atau daun pepohonan. Seiring perkembangan zaman, akar dan daun tersebut sekarang telah dipadukan dengan kain serta dilengkapi dengan aksesori seperti penutup kepala, kalung, dan lukisan tubuh bercorak etnis khas Papua.

Sejarah Tari Yospan

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, tari yospan merupakan gabungan dari tari yosim dan pancar. Meringkas buku Mengenal Tarian dan Seni Papua oleh Dewi Nurhayati, tari yosim awal mulanya berasal dari kabupaten Sarmi yang berada di pesisir utara Papua, dekat Sungai Mamberamo. Tari ini kemudian menyebar hingga ke daerah Waropen, Serui, dan Biak.
Sementara tari pancar adalah tarian yang berkembang di Biak Numfor dan Manokwari pada awal 1960-an. Tari ini tercipta karena akulturasi antara budaya asli dan juga luar Biak, sekaligus hasil dari pertemuan antara nilai tradisional yang berlaku di pulau Biak dengan ajaran Kristen Protestan yang masuk pada kisaran tahun 1908.
Kedua tarian tersebut kemudian dipadukan menjadi tari yosim pancar yang disingkat dengan yospan. Nama yospan ini terinspirasi dari pesawat-pesawat bermesin jet yang mulai mendarat di Biak saat terjadi konflik antara Kerajaan Belanda dengan Pemerintah Indonesia, tepatnya sekitar tahun 1960-an.
Seiring perkembangan waktu, tari yospan mengalami banyak perubahan dan kini menjadi tari pergaulan. Sebagai tarian pergaulan, maka tidak ada batasan jumlah penari dalam tarian ini, siapa saja boleh ikut masuk dalam lingkaran dan bisa langsung bergerak mengikuti penari yang lain.
Gerakan utama tari yospan adalah membentuk lingkaran secara dinamis sambil berjalan. Para penarinya juga sesekali sesekali akan bernyanyi dan berseru agar untuk menciptakan suasana yang bersemangat.
Sumber : kumparan.com

0 comments: