Dampak Media terhadap Budaya Nongkrong

Kamis, Januari 06, 2022 Majalah Holiday 0 Comments


Gaya hidup yang berkembang saat ini terlihat pada penerapan gaya berpakaian, gaya berbicara atau berbahasa, dan juga gaya hidup yang konsumtif. Gaya hidup konsumtif merupakan gaya hidup yang sering terlihat di kalangan masyarakat. Bukan hanya konsumtif dalam membeli barang-barang yang mungkin kurang diperlukan, tetapi budaya nongkrong yang saat ini sedang digemari juga menjadi salah satu gaya hidup yang konsumtif.

Menjamurnya kafe yang digemari anak muda sudah menjadi hal yang lumrah dan sudah menjadi kebiasaan apabila anak muda pergi ke kafe untuk menciptakan tampilan yang modern atau tidak ketinggalan zaman. Melihat keberadaan kafe di perkotaan, anak muda akan semakin banyak berkumpul dengan teman-temannya. Kehadiran kafe ini sebagai pengganti rutin anak muda di zaman sekarang bukan sekadar menjadi tempat untuk nongkrong semata, orang-orang juga memindahkan kegiatan sehari-hari mereka ke kafe seperti mengerjakan tugas, membaca, mengobrol, dan mencari hiburan.
Indonesia telah memiliki budaya nongkrong sejak zaman dahulu, namun dengan berkembangnya teknologi dan media budaya nongkrong yang semula digunakan untuk makan atau mengobrol dengan teman di warung kopi kecil kini berkembang menjadi budaya nongkrong modern atau nongkrong kekinian. Nongkrong kekinian biasanya dilakukan pada berbagai tempat seperti kafe dan restoran yang berada pada kelas menengah ke atas yang kebanyakan memiliki desain interior yang bagus, estetik, dan juga nyaman. Hal tersebut ditujukan untuk mendapatkan foto atau video yang akan diunggah pada media sosial.
Orang-orang akan melengkapi kegiatan nongkrong mereka dengan berfoto atau membuat video yang biasanya lebih cenderung mempertontonkan tempat mereka nongkrong, fashion yang mereka kenakan, dan juga memamerkan apa yang mereka lakukan. Melalui foto atau video yang kemudian diunggah di media sosial dapat menjadi sarana seseorang untuk menunjukkan eksistensinya dirinya kepada publik. Semakin seringnya seseorang memperlihatkan dirinya di media sosial, maka keberadaan mereka akan semakin diperhitungkan oleh orang lain yang melihatnya. Eksistensi menjadi kepuasan tersendiri bagi seseorang, karena dengan begitu mereka akan mendapat respons sosial dan juga semakin diakui keberadaanya.
Munculnya sosial media, memperkuat budaya siber (cyber culture) yang terjadi di masyarakat. Budaya siber merupakan praktik sosial maupun nilai-nilai dari komunikasi dan interaksi antar pengguna yang terjadi di ruang siber dari hubungan antara manusia dan teknologi. Budaya itu diproduksi, didistribusikan, dan dikonsumsi melalui jaringan internet serta jaringan yang terbentuk di antara pengguna. Budaya itu terbentuk secara tidak sengaja yang kemudian menjadi suatu kebiasaan yang ada di masyarakat.
Budaya nongkrong telah menjadi suatu budaya yang tidak bisa dihindari lagi kehadirannya. Meskipun banyak orang yang menganggap bahwa nongkrong cenderung menimbulkan hal negatif, tetapi budaya nongkrong tetap eksis karena adanya media yang membuat orang bebas berekspresi dalam melakukan kebiasaan mereka, yaitu nongkrong. Budaya ini hanya bisa dimaknai oleh para pelakunya. Hal positif yang bisa kita ambil dari budaya nongkrong adalah kita bisa saling bertukar informasi yang baru dan viral saat ini, mengasah pola komunikasi kita karena nongkrong kebanyakan berbincang-bincang mengenai semua hal dengan teman maupun orang baru, memudahkan kita untuk menerima informasi dari orang lain dan solidaritas antar sesama teman bisa terbangun dan semakin kuat.

Perubahan gaya hidup tersebut tidaklah lepas dari media yang kian hari kian berkembang pesat sehingga menimbulkan perkembangan dan penerapan gaya hidup yang berbeda. Adanya media membuat seseorang dengan mudah mengubah dan menerapkan gaya hidup tersebut hingga terbentuklah sebuah budaya, seperti halnya nongkrong yang berawal dari gaya hidup konsumtif seseorang yang kemudian menjadi kebiasaan. Kebiasaan nongkrong juga terus berkembang karena adanya media yang biasanya digunakan seseorang untuk menunjukkan eksistensi seseorang kepada publik, sehingga publik terdorong untuk mengikutinya dan kebiasaan tersebut lama kelamaan akan melahirkan budaya baru seperti budaya nongkrong.





Sumber : kumparan.com

0 comments: