Fusion Budaya: Boleh Tak Suka, tapi Jangan Alergi

Sabtu, Januari 15, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Menu Golden Sparkling di Acaraki Table. Foto: Katondio/pribadi


Kamis (13/1/2022), saya mencoba pengalaman baru. Saya mengunjungi kafe bernama Acaraki Table di daerah Kemang, Jakarta Selatan. Itu adalah kafe yang menawarkan menu minuman jamu.
Saya orangnya sangat jarang minum jamu, bahkan lebih tepatnya enggak doyan. Namun saya penasaran, karena Acaraki menawarkan menu fusion (penggabungan) dari jamu dan bahan lain yang 'kekinian'.
Saya meminum dua menu: Golden Sparkling (gabungan kunyit asam dan sparkling water) serta Saranti (gabungan beras kencur dengan susu dan creamer). Dan, ya, saya suka.
Buat saya, ini adalah cara unik dan kreatif untuk mempromosikan minuman tradisional. Bagi saya, beginilah caranya agar kuliner tradisional Indonesia, dalam konteks ini adalah jamu, bisa menyentuh lebih banyak pasar.

Fusion juga bisa dilakukan pada bidang seni. Saya ambil contoh pewayangan. Sudah ada sejumlah tokoh-tokoh Indonesia yang mempromosikan wayang ke luar negeri.
Mereka mengenalkan bentuk wayangnya, pertunjukannya, ceritanya, dan lain sebagainya. Sebuah usaha yang layak diapresiasi.
Namun, saya berharap ada yang mempromosikan dengan cara berbeda, yakni dengan fusion, seperti yang dilakukan oleh komikus Is Yuniarto. Saya pernah membaca karyanya yang bertajuk 'Garudayana' yang menurut saya baggusssss... Sekali!
Jadi, cerita-cerita pewayangan yang tokoh-tokohnya ada Gatot Kaca, Bima, Punakawan, dan lain-lain ia hadirkan dalam bentuk komik. Saya enjoy sekali membacanya, sungguh tidak kalah dengan komik Jepang. Menurut saya, itu adalah cara brilian mempromosikan budaya Indonesia ke internasional.
Namun, tetap saja ada orang yang tidak suka. Ketika saya membaca komik Garudayana di situs web daring, saya menemukan orang yang kurang lebih mengatakan bahwa semestinya kisah-kisah wayang tidak perlu dibuat komik atau diganti-ganti fantasi jalan ceritanya.
Begitu juga soal jamu. Ada teman saya yang bilang bahwa rasa jamu menjadi aneh jika digabungkan dengan bahan-bahan 'kekinian'.

Di mata saya, orang-orang yang bicara begini mungkin dapat dikatakan sebagai purist. Dalam Cambridge Dictionary, purist berarti adalah seseorang yang percaya dan mengikuti aturan atau ide yang sangat tradisional dalam suatu subyek.
Apakah purist bisa dikatakan orang kolot? Tidak, dong. Ini masalah selera saja. Ada yang menyukai suatu budaya dengan apa adanya, ada yang lebih suka dengan penggabungan.
Maka dari itu, memang harus ada dua opsi berbeda untuk budaya: Yang asli dan yang fusion. Biarlah khalayak ramai menentukan mereka suka yang mana. Tidak usah saling menghujat, selera orang berbeda-beda.
Fusion bisa menjadi pintu masuk untuk membuat seseorang tertarik pada suatu budaya. Setelah itu, barangkali, ia menjadi tertarik untuk mempelajari budaya aslinya. Jadi, tak perlu alergi dengan fusion budaya. (14/365)


Sumber : kumparan.com

0 comments: