Macam-macam Dialeg Bahasa Sumbawa

Jumat, Januari 07, 2022 Majalah Holiday 0 Comments


Sumbawa, IDN Times - Bahasa Sumbawa merupakan bahasa yang digunakan pada bekas wilayah Kesultanan Sumbawa, tercatat pengguna bahasa ini pada tahun 1989 mencapai 300.000 orang. Jika melihat dari segi linguistik, dapat dikatakan Bahasa Sumbawa masih satu rumpun dengan Bahasa Sasak yaitu dalam rumpun bahasa Bali-Sasak-Sumbawa. Dua daerah yang menggunakan bahasa Sumbawa adalah Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat.

Kabupaten Sumbawa merupakan salah satu kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Sumbawa memiliki ibu kota di Sumbawa Besar. Untuk batas wilayah kabupaten Sumbawa berbatasan langsung dengan Laut Flores dan Teluk Saleh di bagian Utara. Kemudian untuk bagian timur berbatasan langsung dengan Kabupaten Dompu, lalu pada bagian selatan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Terakhir ada bagian Barat yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Sumbawa Barat.

Sementara itu, Kabupaten Sumbawa Barat merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Kabupaten ini berlokasi di bagian barat pulau Sumbawa, berbatasan langsung dengan laut Flores di bagian utara, kemudian berbatasa dengan Kabupaten Sumbawa di timur, Samudera Hindia di bagian selatan, dan Selat Alas di bagian barat.

1. Dialeg bahasa sumbawa


Ada beberapa jenis dialeg dalam Bahasa Sumbawa yakni dialeg Samawa, Baturotok, Batulante, dan dialeg lainnya yang biasa digunakan pada pegunungan Ropang. Seperti Labangkar, Lawen, juga penduduk yang mendiami sebelah selatan Lunyuk, ada juga dialeg Taliwang, Jereweh, juga dialeg Tongo.

Tak hanya dialeg-dialeg regional yang sudah disebutkan sebelumnya, di dalamnya masih ada beberapa variasi dialeg yang digunakan dalam komunitas-komunitas tertentu. Hal ini menandakan bahwa betapa Suku Sumbawa ini terdiri dari beragam macam leluhur etnik seperti dialeg Taliwang yang digunakan oleh Labuhan Lalar keturunan etnik Bajau yang jauh berbeda dengan dialeg Taliwang yang digunakan oleh komunitas warga Kampung Sampir keturunan etnik Mandar, Bugi, juga Makassar.

2. Jadi bahasa ibu suku samawa

Pertemuan antar kelompok-kelompok warga yang mendiami Sumbawa ini mengharuskan kehadiran bahasa yang dapat menjadi jembatan segala kepentingan warga itu sendiri. Hal ini menimbulkan konsekuensi bahwa kelompok warga yang relatif lebih maju akan cenderung memberikan pengaruh kepada kelompok warga yang memiliki strata di bawahnya.

Akhirnya bahasa akan mengalir juga menyebar sejalan dengan berkembangnya budaya warga tersebut. Dialeg Samawa alias dialeg Sumbawa Besar yang ternyata memiliki cikal bakal dari dialeg Seran. Ini menjadi bahasa yang menjembatani warga sejak raja-raja Islam masih berkuasa zaman Kesultanan Sumbawa sampai masa sekarang ini.

Maka secara tidak disadari, dialeg Samawa menjadi dialeg standar dalam Bahasa Sumbawa. Dapat diartikan bahwa variasi sosial alias variasi regional dari sebuah bahasa yang sudah diakui sebagai standar bahasa juga mewakili dialeg-dialeg regional lain yang termasuk ke dalam Bahasa Sumbawa.

3. Bahasa yang mendominasi suku samawa


Menjadi sebuah bahasa yang mendominasi kelompok-kelompok sosial di Pulau Sumbawa, menjadikan Bahasa Samawa atau Sumbawa ini tidak hanya digunakan sebagai bahasa pemersatu antar etnik yang hidup di wilayah bekas Kesultanan Sumbawa saja. Bahasa ini juga digunakan untuk berbincang-bincang sehari-hari pada kalangan elit politik, sosial, serta ekonomi.

Hal tersebut mengakibatkan Bahasa Samawa dapat berkembang pesat dengan tambahan kata-kata hasil serapan dari bahasa asalnya. Yakni etnik Jawa, Madura, Bali, Sasak, Bima, Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, Cina, Arab, dan bahasa-bahasa negara yang pernah menjajah Indonesia.


Sumber : idntimes.com

0 comments: