Penyebab Pembelot dari Korut Tetap Hidup Susah di Korsel

Rabu, Januari 12, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Perbatasan antara Korea Utara dan Korea Selatan. (AP Photo/Ahn Young-joon)


Seorang pembelot Korea Utara dilaporkan memilih kembali ke negara asalnya karena hidup susah di Korea Selatan. Warga Korut yang sempat tinggal selama dua tahun di Korsel ini memilih pulang ke Pyongyang karena diduga mendapatkan perlakuan buruk di negara pelariannya.

Melansir Asia Times, Kim Woo Joo (29) harus menerima diskriminasi dari masyarakat Korea Selatan setelah membelot dari negaranya dan mengungsi di Korea Selatan. Ia mengaku alasannya membelot pada 2020 lalu untuk melarikan diri dari ayah tirinya yang kejam.


Dengan mengubah namanya menjadi Kim Woo Jeong, ia dikabarkan bekerja sebagai seorang petugas kebersihan di sebuah kantor di Korea Selatan.

Warga Korea Utara sendiri sudah banyak yang melarikan diri dari kehidupan kerasnya di Korea Utara. Mereka memilih pergi karena menderita kemiskinan dan kelaparan serta mendapat pelanggaran hak asasi manusia selama berada di negaranya.

Sekitar 300.000 warga Korea Utara dikabarkan melarikan diri dan pindah ke berbagai negara di seluruh dunia sejak berakhirnya konflik di semenanjung Korea pada tahun 1953. Sementara sekitar 30.000 warga memilih menetap di Korea Selatan.

Kasus pembelot yang kembali ke negara asalnya ini sangat jarang terjadi. Hanya sekitar 30 orang yang dilaporkan kembali ke negara asalnya, yakni Korea Utara.

Fenomena itu disebabkan karena para pengungsi mengaku sulit hidup di negeri asing serta kerinduan mereka terhadap sanak keluarga di Korea Utara.


Warga Korea Utara yang melarikan diri ke Selatan sebetulnya mendapatkan dukungan dari pemerintah untuk memulai hidup barunya di Selatan.
Para pengungsi dari Korea Utara yang ingin mencari kewarganegaraan dan tempat tinggal dapat menghadiri kelas-kelas untuk mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan barunya.

Namun, salah satu tempat yang menjadi 'rumah persatuan' bagi para pengungsi dari Korea Utara yakni, Hanawon, disebut tidak bisa melengkapi kebutuhan mereka bahkan untuk mencari pekerjaan di tingkat terendah di Korea Selatan.

Para pengungsi kerap dipindahkan untuk tinggal di luar Seoul sehingga kesulitan dalam mencari nafkah di Korea Selatan.

Mereka sangat kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Sebab untuk bisa sukses di Korea Selatan, latar belakang daerah serta pendidikan masih memainkan peran penting di sana.

Masa Depan Para Pengungsi
Banyak dari pengungsi Korea Utara yang terpaksa harus menderita akibat stigma masyarakat. Belum lagi perlakuan diskriminatif karena berasal dari Korea Utara serta sebelumnya hanya merupakan seorang pekerja kasar dengan tingkat pendidikan yang rendah.

Mereka merasakan keterasingan yang mendalam jika perlakuan tersebut terus berlanjut. Kondisi itu berisiko menimbulkan masalah mental bagi para pengungsi.

Sekitar 80 persen pembelot dari Korea Utara diketahui merupakan perempuan. Para perempuan ini banyak mengalami diskriminasi oleh majikannya hingga dipaksa menjadi pekerja seks.

Sementara itu, anak-anak Korea Utara sering menghadapi penolakan dan terkadang bullying di sekolah. Di sisi lain, para pengungsi berusia tua juga harus rela menjalani hari-harinya di tengah kemiskinan sebab mereka tidak mendapatkan tunjangan pensiun dari pekerjaannya.


Sumber : cnnindonesia.com

0 comments: