2 Strategi Pramuwisata agar Dilirik Wisatawan Nusantara

Sabtu, Februari 19, 2022 Majalah Holiday 0 Comments


Liputan6.com, Jakarta - Wisatawan nusantara (wisnus) menjadi roda penggerak utama sektor pariwisata Indonesia selama tahun ini. Karena itu, di tengah pandemi berkepanjangan, Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) tengah menyiapkan strategi untuk menggaet pelaku perjalanan domestik.

"Jujur, selama ini pramuwisata Indonesia memang bergantung pada wisman (wisatawan mancanegara)," kata Sekretaris Jenderal HPI, Reyhan Pattiwael, melalui sambungan telepon pada Liputan6.com, Rabu, 16 Februari 2022. "Jadi, belum pernah sepenuhnya siap untuk (melayani) wisnus."

Demi menggaet wisnus, ia menyebut setidaknya ada dua pekerjaan rumah yang harus dituntaskan. Pertama, menemukan cara efektif untuk meningkatkan kesadaran wisnus akan jasa pramuwisata.

Ia menambahkan, "Di sisi lain, pramuwisata juga belum terlalu aware sama wisnus. Makanya lagi terus menyesuaikan diri untuk paham dulu market (lokal) maunya apa, supaya (jasa yang ditawarkan) bisa in-line."

Reyhan mengaku strategi komprehensif dalam menawarkan jasa pramuwisata sepanjang tahun ini masih direncanakan, namun ada beberapa yang sudah didiskusikan. Salah satunya, mereka akan bekerja sama dengan desa wisata.

"Sudah ada rencana (untuk pelatihan melengkapi layanan di desa wisata) dan sudah dilakukan juga. HPI mau lebih kritis di lapangan dan membantu desa wisata bisa lebih berkelanjutan," ia menyebutkan.

Pihaknya juga akan mengembangkan pramuwisata minat khusus. Reyhan berkata, "(Pramuwisata minat khusus) ini diperkirakan akan jadi kenormalan baru di sektor pariwisata, karena orang akan mau jalan dalam grup lebih kecil nantinya, dan sifatnya spesialis."

"Kami lagi learning by doing. Mendata ada aktivitas apa di daerah mana. Mengumpulkan potensi masing-masing wilayah, sekarang bisa apa, dan sedang banyak menyedot ilmu dari lapangan," tuturnya.


Pendekatan Digital

Reyhan mengaku, di awal pandemi, banyak pramuwisata yang "benar-benar bingung." Perubahan secara dratis pun tidak bisa dihindari, yang mana sebagian dari meraka dilaporkan banting setir untuk mendapat pemasukan. 

"Yang masih ada (tetap jadi pramuwisata), mulai secara sadar atau tidak sadar, mengarah ke wisnus," katanya, menambahkan bahwa ke depan, pendekatan digital akan terus dilakukan para pemandu wisata.

Mereka telah mengadakan Musyawarah Nasional VII pada 25--27 Januari 2022 dengan tema "Pramuwisata Indonesia dalam Menyongsong Adaptasi Kebiasaan Baru dan Hospiltality 4.0." Di kesempatan itu, HPI memilih ketua umum baru dan menetapkan AD/ART, serta program kerjanya untuk 2022--2027, menurut rilis yang diterima Liputan6.com.


Sertifikasi Pemandu Wisata

Sang Putu Subaya, Ketua Umum HPI periode 2017--2022 mengingatkan kembali sejarah HPI, yang dulunya Bernama Himpunan Duta Wisata Indonesia (HDWI), yang diprakarsai Dirjen Pariwisata saat itu Joop Ave pada 1983. Baru pada 1988, organisasi ini berubah jadi HPI.

"Pramuwisata merupakan garda depan yang bersentuhan langsung dengan wisatawan. Baik buruknya suatu destinasi wisata tergantung dari bagaimana pramuwisatanya tampil," ia mengatakan.

Pada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno yang hadir di acara tersebut, ia berkata, "Satu hal yang mengganjal bagi kami adalah proses assesment untuk sertifikasi pemandu wisata. Banyak proses assesment yang hanya mengejar target kuota, dengan latar belakang asesor bukan dari kalangan pemandu."

Ia menyebut, "Harusnya kegiatan sertifikasi (pramuwisata) berasaskan 'dari guide, untuk guide' karena pemanduan wisata adalah ranah kami."



Serenity, Sustainability, dan Spirituality

Sebanyak 88 peserta Munas VII HPI yang hadir dari 26 DPD dan 11 DPC pengurus HPI ini berkesempatan mengikuti kelas-kelas lokakarya di hari kedua. Mereka juga berkegiatan city tour di hari ke-3 ke berbagai tempat di Jakarta. Terdapat empat paket wisata yang bisa dipilih para peserta, mulai dari Wisata Medan Merdeka, Wisata Transportasi Umum, Wisata Urban Jakarta, dan Wisata Kuliner.

Menparekraf menyebut, "HPI adalah sektor yang paling terdampak. Dari 14 juta tenaga kerja di bidang pariwisata, mayoritasnya adalah pramuwisata. Untuk itu, Kemenparekaf mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang dapat mengangkat parimuwisata agar dapat beradaptasi berinovasi dan berkolaborasi"

"Kita harus berpindah dari quantity base tourism jadi quality base tourism. Teman-teman harus bisa melakukan refocusing bagaimana ke depan pengembangan pariwisata, moving dari 3S: sun, sea, and sand jadi serenity, sustainability, dan spirituality," tandasnya.



Sumber : LIPUTAN6

0 comments: