3 TKI yang Berhasil Diselamatkan dari Hukuman Mati di Arab Saudi, Dituduh Membunuh!

Rabu, Februari 23, 2022 Majalah Holiday 0 Comments


DALAM menjalani pekerjaannya, tak sedikit Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang harus berurusan dengan hukum. Mereka diadili sesuai dengan hukum yang berlaku di negara tersebut. Salah satunya, hukuman mati.

Dari sekian TKI yang mendapat vonis hukuman mati itu, beberapa di antaranya berhasil diselamatkan. Berikut merupakan TKI-TKI yang berhasil diselamatkan dari hukuman mati di luar negeri :

1. Membunuh Anak Majikan

Adewinda binti Isak Ayub, TKI yang berasal dari Cianjur, lolos dari hukuman qisas. Sebelumnya, Adewinda ditahan Kepolisian Distrik Aziziah Riyadh sejak 3 Juni 2019 atas tuduhan membunuh anak perempuan majikannya. Anak perempuan majikan itu berusia 15 tahun dan mengalami keterbelakangan mental.

Dalam tuduhan itu, Adewinda disebut memukul berkali-kali kepala sang anak hingga meninggal. Pengadilan pun memutuskan bahwa Adewinda terbukti melakukan pembunuhan. Adewinda melakukan itu diduga karena depresi berat lantara selama lima tahun terakhir dikurung berdua dengan anak sang majikan itu. Keduanya berada dalam satu ruang dan tidak mendapat akses keluar.

Hal ini dilihat KBRI Riyadh sebagai celah untuk dapat membebaskan Adewinda dari hukuman mati. Akhirnya orang tua korban pun dengan sukarela menyatakan tanazul (pembatalan tuntutan hukuman mati). Pernyataan tanazul tersebut merupakan keberhasilan KBRI Riyadh dalam melakukan pendampingan intensif dan persuasif kepada orang tua korban. Hal itu guna meyakinkan bahwa kejadian itu tidak lepas dari kesalahannya mengurung Adewinda dan anaknya selama bertahun-tahun.

Adewinda hanya akan menjalani hukuman lima tahun penjara dipotong dua tahun yang artinya hanya tersisa satu tahun jika putusan ini disahkan secara inkrach.

2. Membunuh Majikan

Ety Toyib, seorang warga yang berasal dari Majalengka lolos dari hukuman mati. Ety Toyib adalah WNI yang bekerja di Kota Taif, Arab Saudi. Ety didakwa menjadi penyebab meninggalnya sang majikan, Faisal al-Ghamdi. Pihak keluarga korban menuntut hukuman mati qisas, yang dikabulkan pengadilan.

Selama 18 tahun ia mendekam di penjara menanti kepastian eksekusi. Hingga akhirnya, setelah melewati serangkaian negosiasi yang panjang keluarga korban bersedia memaafkan dengan meminta diyat atau uang tebusan sebesar 4 juta riyal.

LAZISNU merupakan pihak yang memberikan sumbangan sebesar Rp12,5 miliar atau 80% dari jumlah diyat. Dana tersebut dikumpulkan selama tujuh bulan dari para santri, kalangan pengusaha, politisi, birokrat, akademisi, masyarakat Jawa Barat dan komunitas filantropi.

Selain itu para dermawan di Indonesia juga menyumbang sehingga mencapai Rp15,5 miliar. Akhirnya Ety bisa lolos dari hukuman mati setelah membayar diyat yang diminta keluarga korban dan

3. Membunuh Anak Sendiri

Seorang TKI berinisial EKM bebas dari hukuman mati di Arab Saudi. EKM ditahan otoritas Arab Saudi di Dammam sejak 2010. Ia dituduh melakukan pembunuhan terhadap bayinya.

Pada tahun 2010, ia sengaja tidak memberitahukan kehamilannya kepada majikan karena takut akan diberhentikan dan dikembalikan ke Indonesia. Saat bayinya lahir, EKM membunuh bayinya dan memasukkan ke dalam kantong plastik.

Majikannya pun melaporkan kejadian itu. Di pengadilan, EKM dituntut hukuman mati qisas. Namun berkat pendampingan KBRI Riyadh bertahun-tahun, EKM pun dibebaskan dalam tuntutan hak khususnya.

Keputusan pembebasan tersebut setelah KBRI meyakinkan hakim bahwa anak yang dibunuh adalah hasil hubungan dengan suami. Kemudian, Kemlu meyakinkan agar suami memberikan pengampunan (tanazul) kepada EKM.

Terkait dengan tuntutan hak khusus, hakim memutuskan penjara lima tahun dan 500 kali cambukan. Menurut penjabat konsuler KBRI Riyadh, EKM sebenarnya sudah ditetapkan bebas dari hukuman mati sejak April 2015, namun karena urusan administrasi imigrasi, ia baru dibebaskan dan dipulangkan pada November.

Sumber : okezone

0 comments: