5 Tradisi Unik di Indonesia saat Cap Go Meh, Ada Parade Manusia Pilihan Dewa

Senin, Februari 14, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Perayaan festival Cap Go Meh Singkawang Foto: Shutterstock
Perayaan Cap Go Meh yang dirayakan pada hari ke-15 menjadi tanda berakhirnya perayaan Tahun Baru Imlek. Di Indonesia, perayaan Cap Go Meh tak hanya dilakukan dengan penuh suka cita, tetapi juga diwarnai dengan beragam tradisi.
Tradisi-tradisi tersebut dilakukan oleh masyarakat keturunan Tionghoa yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari berziarah ke pulau yang ada di Sungai Musi hingga parade para manusia pilihan dewa.
Berikut kumparan rangkum tradisi unik yang warnai perayaan Cap Go Meh di Indonesia.

1. Ziarah ke Pulau Kemaro, Palembang

Pulau Kemaro, Palembang. Foto: Damar Aji/Shutterstock
Masyarakat Tionghoa di Palembang punya cara unik untuk merayakan Cap Go Meh. Memasuki hari ke-15 setelah tahun baru Imlek, warga Tionghoa, khususnya yang memeluk agama Konghucu akan berbondong-bondong menyeberang ke Pulau Kemaro untuk memanjatkan doa di Klenteng Hok Tjing Rio.
Tak hanya untuk bersembahyang, perayaan Cap Go Meh di Pulau Kemaro juga semakin meriah dengan berbagai pertunjukan seni khas Tionghoa, mulai dari Barongsai hingga pertunjukan wayang orang.
Keunikan dari pulau yang merupakan delta dari Sungai Musi ini tak cuma terdapat pada perayaan Cap Go Meh-nya saja. Pulau ini juga menyimpan cerita yang menarik.
Menurut sejarah pulau ini pernah menjadi salah satu pos penjagaan bahkan Panglima Cheng Ho. Selain itu, ada juga legenda rakyat yang menceritakan kisah cinta putri Palembang dan pangeran dari Negeri Tiongkok yang berakhir tragedi. Makam dari sang putri Palembang dan pangeran dari Negeri Tiongkok ini masih bisa kamu temukan di Pulau Kemaro.

2. Arak-arakan Sipasan, Padang

Ilustrasi arak-arakan saat Cap Go Meh di Padang. Foto: md.fauzi/Shutterstock
Dari Palembang bergeser ke Padang, kamu juga bakal menemukan tradisi unik lain yang mewarnai perayaan Cap Go Meh di Indonesia. Berbeda dengan Palembang, masyarakat Tionghoa di Padang akan menggelar sebuah pawai kesenian yaitu arak-arakan Sipasan.
Warga menonton atraksi liong saat festival "Jappa Jokka Cap Go Meh di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (8/2). Foto: ANTARA FOTO/Arnas Padda
Jappa Jokka Cap Go Meh memiliki makna Jalan-Jalan Cap Go Meh yang diambil dari bahasa Makassar (Jappa) dan bahasa Bugis (Jokka). Dulu, Jappa Jokka Cap Go Meh ini lebih dikenal dengan nama Pasar Malam Cap Go Meh.
"Perayaan ini di Makassar diawali pada masa kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang dikenal Pasar Malam Cap Go Meh. Penggagas kegiatan ini adalah Yonggris, Ketua Perwakilan Ummat Budha Indonesia (Walubi) Sulsel dan Ketua Vihara Girinaga Makassar, Roy Ruslin," kata Moch David Arianto, seniman Makassar berdarah Tionghoa, seperti dikutip Antara.
Pria yang akrab disapa Ko David ini menambahkan, istilah Pasar Malam Cap Go Meh kemudian dirilis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Komunitas Pemerhati Budaya Tionghoa Indonesia (KPBTI).

Perayaan Jappa Jokka Cap Go Meh di Makassar merupakan agenda tahun Pemerintah Kota Makassar sebagai bagian dari promosi budaya untuk menarik wisatawan. Berbagai macam kegiatan di gelar dalam festival ini, seperti lomba nyanyi, kuliner, lomba barongsai, dan pameran.

4. Kirab Budaya Ruwat Bumi, Salatiga

Ilustrasi kirab budaya saat Cap Go Meh. Foto: Pramata/Shutterstock
Perayaan Cap Go Meh tak hanya bisa ditemukan di Sumatera atau Kalimantan, tetapi juga di Jawa. Di Kota Salatiga misalnya, perayaan Cap Go Meh juga digelar meriah.
Setiap tahunnya pada perayaan Cap Go Meh masyarakat di Salatiga melakukan ritual Kirab Budaya Ruwat Bumi dengan membawa arak-arakan tandu yang berisi patung Dewa.
Menariknya lagi, Kirab Budaya Ruwat Bumi di Salatiga ini tak hanya diramaikan masyarakat Tionghoa, melainkan seluruh masyarakat dari berbagai lapisan dan latar belakang.
Hal tersebut bisa dibuktikan dengan beragam seni yang mengiringi arak-arakan kirab budaya tersebut, mulai dari Barongsai, Liong, hingga Reog Ponorogo.
Tak hanya itu, tradisi ini juga bisa kamu temukan di beberapa daerah lainnya di Indonesia, khususnya di pulau Jawa.

5. Parade Tatung atau Manusia Pilihan Dewa, Singkawang

Atraksi tatung saat Festival Cap Go Meh. Foto: Jessica Helena WUYSANG / AFP
Tatung dalam perayaan festival Cap Go Meh Singkawang merupakan atraksi utama yang paling dinanti-nantikan. Kehadiran tatung dalam perayaan hari ke-15 Imlek ini pula yang menjadikan nama Singkawang mendunia.
Menurut laman Tionghoa Info, kata tatung berasal dari dialek Hakka. Secara harfiah, ‘Ta’ berarti tepuk atau pukul dan ‘Tung’ berasal dari kata Thungkie atau orangnya.
Sementara itu, pengertian tatung yang digunakan di Singkawang mengacu dari bahasa Mandarin, Tiao Tong. ‘Tiao’ berarti lompat dan ‘Tong’ berasal dari kata Tong Ji yang diartikan sebagai anak-anak ilahi. Inilah yang menjadi dasar mengapa tatung dikenal sebagai manusia yang dimasuki roh dewa atau leluhur.
Tatung sendiri dipercaya sebagai manusia pilihan dewa. Warga Singkawang meyakini mereka membantu manusia mencapai kedamaian, menjaga agar tidak diganggu makhluk lain, juga memberi pengobatan. Agar bisa membantu orang lain, mereka membiarkan badannya dirasuki roh.
Untuk menunjukkan kekebalan tubuhnya ketika dimasuki roh dewa atau leluhur, mereka menyayat diri dengan benda-benda tajam, seperti pisau atau mandau, senjata tajam khas Kalimantan. Beberapa dari mereka ada pula yang mencoba mengiris lidah sedangkan yang lainnya menusuk-nusukkan kawat dan jarum berukuran besar ke mulut dan pipi.



Sumber : kumparan.com

0 comments: