6 Fakta Menarik Jayawijaya, Dikenal Dunia Lewat Festival Lembah Baliem

Kamis, Februari 17, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Liputan6.com, Jakarta - Jayawijaya adalah salah satu kabupaten di Provinsi Papua yang terletak di kawasan Pegunungan Tengah. Jumlah penduduknya 272.984 jiwa pada 2020, dengan kepadatan penduduk 38,83 jiwa/kilometer persegi.

Kabupaten Jayawijaya berada di wilayah adat La Pago. Ibu kota kabupaten ini terletak di Wamena yang berlokasi di Lembah Baliem. Tempat itu sering diidentikkan dengan Jayawijaya atau Wamena.

Dalam literatur asing, Lembah Baliem juga sering disebut sebagai Lembah Agung. Nama Lembah Baliem sudah mendunia. Bahkan, ukir-ukiran Suku Dani -- salah satu suku yang mendiami lembah itu -- sudah dikenal hingga ke Eropa.

Popularitas Lembah Baliem juga kian mendunia dengan adanya perhelatan tahunan Festival Lembah Baliem.Tentu bukan itu saja hal-hal menarik dari Jayawijay. Berikut enam fakta menarik seputar Kabupaten Jayawijaya yang dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber.

1. Distrik Bung Karno

Di Jayawijaya ada sebuah distrik yang namanya mirip dengan proklamator sekaligus presiden pertama Republik Indonesia, Distrik Silo Karno Doga. Silo Doga adalah tokoh penting pada masa Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969. Ia dikenal sebagai salah satu pejuang Pepera, yang sejak awal menyatakan kesetiaannya bergabung dengan NKRI.

Pada 1960-an, Silo Doga bersama kepala suku lainnya pernah diundang ke Istana Kepresidenan di Jakarta oleh Presiden Sukarno. Saat itulah para kepala suku dipimpin oleh Silo Doga menyatakan ikrar kesetiaan di hadapan Presiden Sukarno bahwa Irian Barat (nama Papua waktu itu) adalah bagian dari NKRI.

Silo Doga meminta agar nama Bung Karno digabungkan dalam namanya menjadi Silo Karno Doga sebagai simbol persaudaraan, kasih dan kesetiaan. Distrik Silo Karno Doga merupakan distrik dengan wilayah terluas di Kabupaten Jayawijaya, Papua.

2. Padi dan Beras

Makanan pokok warga Papua dulunya adalah sagu, sebelum digantikan oleh beras. Karenanya, pemandangan tidak biasa tampak di Kampung Honelama, Distrik Wamena, Kabupaten Jayawijaya, pada ketinggian 1.650 meter di atas permukaan laut, terdapat hamparan sawah dengan tanaman padi yang menguning siap panen.

Tanaman padi di sawah ini dibudidayakan oleh Suku Dani. Kepiawaian Suku Dani bercocok tanam sudah didapat sejak zaman prasejarah. Mereka dikenal sebagai petani tangguh, dengan tanaman utama keladi, pisang, ubi jalar dan buah merah. Sebelum mereka mengenal bercocok tanam padi, mereka telah dikenalkan beras yang didatangkan dari Jayapura.

Budidaya padi ini diperkenalkan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya. Sejak kehadiran beras di Wamena, Suku Dani lebih banyak mengonsumsi nasi, sedangkan kebun keladi dan ubi jalar mereka sebagian dibiarkan begitu saja. Hal ini mengkhawatirkan karena babi yang merupakan hewan ternak utama mereka sangat menyukai umbi ubi jalar dan daunnya. Babi tidak bisa makan jerami padi.




Sumber : LIPUTAN6

0 comments: