Budaya Patriarki yang Menahan Hak Kebebasan Wanita

Sabtu, Februari 05, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Ilustrasi perempuan dan belenggu patriarki Foto: Herun Ricky/kumparan
Budaya Patriarki: Apakah anda pernah mendengar kata 'Patriarki'? Paham Patriarki ini merupakan sistem sosial di mana mereka menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan lebih mendominasi.
Hal ini termasuk dalam peran kepemimpinan di suatu organisasi, moral, hak sosial, pendidikan, politik, dan kekuasaan. Sistem ini menjadikan masyarakat memiliki pandang bahwa laki-laki memiliki hak istimewa jika kita bandingkan dengan perempuan.
Namun, karena pandangan ini, banyak kekerasan yang terjadi akibat perilaku laki-laki terhadap perempuan, karena laki-laki merasa memiliki 'hak istimewa'. Bahkan, akhir-akhir ini mulai terungkapnya berita atau kasus-kasus mengenai kekerasan seksual terhadap perempuan.
Tanpa memiliki rasa bersalah, hingga saat ini masih banyak laki-laki yang masih bersifat sesuka hati mereka terhadap perempuan akibat 'hak istimewa' yang mereka rasa miliki.
Di Indonesia sendiri, terdapat beberapa faktor mengapa budaya Patriarki masih ada di Indonesia. Berikut di antaranya:
  1. Ajaran turun menurun dari orang tua. Mungkin kita telah menyadari bahwa terkadang pemikiran atau ajaran yang orang tua berikan kepada kita cenderung menjunjung tinggi paham patriarki. Seperti contohnya, orang tua selalu mengajarkan perempuan untuk berperilaku lemah lembut dan berada di bawah kuasa laki-laki terutama saat sudah menikah. Orang tua mengikuti pola asuh tersebut karena diajarkan oleh orang tua mereka di zaman dulu.
  2. Yang menggunakan adat dan agama juga tak luput menjadi salah satu faktor patriarki. Di beberapa adat di Indonesia memang masih berpegang kuat dengan ajaran di mana laki-laki selalu digambarkan sebagai sebuah pemimpin dan para perempuan hanya mengikuti arahan lelaki. Begitu juga dalam pandangan agama, yang memposisikan laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan. Sebenarnya, dalam mengikuti ajaran di agama maupun suku tidaklah masalah. Namun, banyak oknum-oknum yang menyalahgunakan paham tersebut dan bertindak sesuka hati. Tanpa mereka sadari, hal tersebut dapat mencemarkan nama baik suatu agama dan adat yang mereka anut.
  3. Berpandangan bahwa laki-laki bisa menguasai semua hal, sedangkan wanita hanya cukup melayani suami. Masih banyak orang yang berpikiran bahwa kodrat wanita itu adalah memasak, mencuci baju, melayani suaminya, atau hanya sekadar menjadi ibu rumah tangga.
Foto project penulis sebagai mahasiswa BINUS yang mengambil topik 'Sexism: Patriarchy'.

Namun pada faktanya, kodrat seorang perempuan ialah menstruasi, hamil dan melahirkan, dan menyusui. Selebihnya, aktivitas-aktivitas lain seperti mencuci, memasak, mengurus anak, dan lain sebagainya, bukanlah kodrat perempuan. Laki-laki sebenarnya dapat memiliki peran dalam mengurus pekerjaan rumah.

Pada realitanya, budaya patriarki ini merupakan hal yang merugikan bagi seorang wanita. Akhir-akhir ini terdapat kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh pria terhadap wanita. Hal ini menunjukkan adanya pemikiran bahwa pria dapat 'mendominasi' tubuh seorang wanita seenaknya. Tidak hanya itu, pola pikir mengenai kodrat perempuan hanya memasak dan mengurus anak juga salah satu hal yang merugikan wanita maupun negara.
Seharusnya pada realitanya, wanita mana pun berhak melakukan apa pun yang mereka inginkan selayaknya seorang pria. Wanita bebas memilih masa depannya seperti memilih pilihan untuk ber-karier maupun menikah. Bahkan wanita berhak untuk melanjutkan pendidikan dan meraih cita-citanya.
Dengan itu, budaya Patriarki ini harus segera dihentikan dan dihilangkan dalam pola pikir masyarakat dan cara mengasuh anak demi memiliki masa depan yang baik dan demi perkembangan bangsa dan negara. Wanita seharusnya tidak dilarang untuk bermimpi terlalu tinggi, dan tidak ada yang seharusnya menahan keinginan seorang wanita untuk memilih pilihannya sendiri. Maka dari itu, kita harus menghilangkan budaya Patriarki ini demi kesejahteraan masyarakat.


Sumber : kumparan.com

0 comments: