Kawin Colong, Tradisi Pernikahan Unik Suku Osing Banyuwangi

Kamis, Februari 03, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Ilustrasi pernikahan adat Jawa. Foto: Bayu_docx/Shutterstock


Pernikahan tak hanya jadi ajang untuk menyatukan dua insan dalam sebuah ikatan suci sehidup semati. Lebih dari itu, di Banyuwangi, Jawa Timur, terdapat sebuah tradisi pernikahan yang cukup unik.

Jika masyarakat menganggap kawin lari sebagai hal yang bertentangan dengan norma, Suku Osing memaklumi kawin lari sebagai bagian dari tradisi. Unik!



Dirangkum dari berbagai sumber, dalam istilah Suku Osing, Kawin Lari ini disebut dengan Kawin Colong. Tradisi pernikahan ala Suku Osing di Banyuwangi ini sekilas mirip dengan tradisi kawin culik yang dilakukan Suku Sasak Lombok.
Bedanya, sejarah munculnya tradisi ini karena ada kejadian ketidaksetujuan orang tua perempuan pada pernikahan anaknya, sehingga calon pengantin melakukan Kawin Colong.
Meskipun begitu, Kawin Colong mengharuskan adanya kesepakatan antara kedua belah pihak yang terlibat, tidak boleh dilakukan tanpa adanya persetujuan dari salah satu pihak.

Prosesi Kawin Colong ala Suku Osing


Dalam tradisi ini, nantinya si perempuan akan diculik oleh laki-laki yang menikahinya. Selanjutnya, pihak laki-laki akan menunjuk seseorang yang lebih tua sebagai 'colok', untuk membujuk orang tua perempuan.

Colok ini adalah seorang penengah yang mana tugasnya mewakili si pihak pria untuk meminta izin kepada orang tua si perempuan.
Model mengenakan busana pengantin pada Festival Pengantin Osing di Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (2/6/2021). Foto: Budi Candra Setya/ANTARA FOTO
Colok berfungsi sebagai penyampai pesan bahwa sang perempuan sedang berada dalam prosesi Kawin Colong. Mereka yang berhak menjadi seorang 'colok' adalah sosok yang dituakan dan disegani oleh masyarakat dan bisa menjadi penengah bagi keluarga perempuan.
Setelah kedua orang tua perempuan diberi tahu, maka mereka yang semula kurang setuju akan melakukan pembicaraan untuk merundingkan pernikahan sang anak. Selang beberapa saat dari prosesi tersebut, maka sang laki-laki dan perempuan yang melakukan Kawin Colong akan dinikahkan.

Di sinilah peran seorang colok benar-benar penting dan menjadi penentu dari hubungan sepasang kekasih yang melakukan Kawin Colong.

Oleh sebab itu, umumnya yang menjadi colok adalah mereka yang memiliki wibawa, kharisma, dan kemampuan, untuk meluluhkan hati para orang tua agar menyetujui pernikahan kedua anak.
Meski terkesan 'dijodohkan' Kawin Colong jarang berakhir sebagai persoalan. Bahkan, masyarakat Banyuwangi mengapresiasi hal ini sebagai bagian dari adat dan tradisi yang perlu diperhatikan.
Sayangnya, seiring berjalan waktu tradisi Kawin Colong semakin berkurang dan ditinggalkan. Padahal, tradisi ini merupakan sesuatu yang cukup khas dari sebuah keragaman budaya dan adat istiadat Nusantara.
Sumber : kumparan.com

0 comments: