Kisah Seni Benjang Batok Selamatkan Warga Karangpaci Pangandaran dari Romusha

Rabu, Februari 23, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Seni Benjang Batok/Foto: Aldi Nur Fadillah

Pangandaran - Siapa sangka, lewat kesenian penjajah Jepang berhasil dikelabui. Kesenian buhun yang berhasil mengelabui penjajah Jepang ini merupakan seni Benjang Batok di Pangandaran.

Menurut cerita, saat penjajah Jepang masuki Dusun Karangpaci, Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, untuk meminta laki-laki kerja paksa, para perempuan mengelabui penjıajah dengan menyuguhkan kesenian Benjang Batok.

"Para perempuan di Karangpaci waktu itu berhimpun untuk melakukan cara agar para suaminya tidak ikut diajak romusha," ujar Pemilik Saung Angklung Mang Koko, Mang Koko.


Kesenian Benjang Batok waktu itu hanya mengandalkan suara tepuk punggung batok kelapa dan nyanyian.

"Para perempuan Karangpaci membuat gerakan tari dengan menepuk punggung batok kelapa sambil menari dan bernyanyi," kata Mang Koko.

Penari Benjang Batok berhasil membuat penjajah Jepang merasa terhibur dan asyik menyaksikan gerakan tarian.

"Kesenian itulah yang buat penjajah akhirnya lupa dengan niatnya untuk melakukan romusa pasa waktu itu, karena asyik menikmati hiburan Benjang Batok," ucap Mang Koko.

Alhasil para suami dari penari Benjang Batok berhasil melarikan diri untuk terhindar dari kerja paksa. "Sedangkan para penjajah waktu itu dalam kondisi mabuk," kata Mang Koko.

Kata Benjang Batok berasal dari bahasa Sunda yakni, "Ngabebenjo anu Nganjang" atau jika dalam bahasa Indonesia disebut "Memuliakan tamu yang datang".

"Artinya Benjang Batok ini disebut Siloka atau kata lainnya Kirata yang memiliki nama panjang dikira-kira tapi nyata," ucap Mang Koko yang fokus melestarikan kesenian ini.

Saung Angklung Mang Koko yang berada di Desa Cibanten, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, menjadi pelestari kesenian buhun ini.

Dulu awalnya kesenian Benjang Batok hanya mengandalkan suara ketukan batok yang ditepuk. Kini kesenian ini dikolaborasikan dengan alat musik tradisional.

Alat musik yang mengiringi Benjang Batok di antaranya, angklung alit atau angklung buncis, kendang, kecrek, jenglong dan terompet.

Untuk jumlah penari tidak ada pakem. "Tariannya dilakukan berkelompok, berarti lebih dari satu," ucap Mang Koko.

Menurut Mang Koko, orang pertama yang menyebut nama Benjang Batok yakni Ibu Eloh, "Dia merupakan salahsatu penari dan penyanyi Benjang Batok pertama," kata Mang Koko.

Mang Koko mengatakan kesenian buhun yang memiliki nihai-nilai perjuangan ini harus terus dilestarikan. "Seni buhun ini memiliki nilai-nilai sisa perjuangan untuk bela negara dari penjajah," kata Mang Koko


Sumber : detik.com

0 comments: