Menilik Langkah Bali dalam Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber

Jumat, Februari 04, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Liputan6.com, Jakarta - Problematika sampah masih menggunung dan terus jadi perhatian berbagai pihak, termasuk di Bali. Sebagai destinasi wisata populer yang tersohor di dalam dan luar negeri, Pulau Dewata terus bebenah terkait masalah sampah.

Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Provinsi Bali, I Made Teja menyebut pihaknya terus mengajak masyarakat untuk mengurangi produksi sampah, termasuk di masing-masing rumah tangga. Pergerakan yang cukup tinggi dilancarkan pihaknya mengingat sampah merupakan masalah besar.

"Setiap tahun masalah sampah yang ada di pantai luar biasa. Ada sampah-sampah setiap tahun dari sejak Oktober sampai Maret, kalau dulu kayunya yang banyak, sekarang mulai ada sampah-sampah seperti plastik," kata Made dalam Webinar Program Yok Yok Ayok Daur Ulang: "Persiapan Tata Kelola Sampah dalam Menghadapi Kembalinya Geliat Pariwisata di Bali", Kamis, 3 Februari 2022.

Made menyampaikan bahwa sampah-sampah ini terbuang dari beberapa wilayah. "Dalam waktu enam bulan, sampah akan berkumpul di kawasan pantai kita, salah satunya di Pantai Kuta," tambahnya.

Masalah sampah ini dikatakan Made membutuhkan progres dengan harapan desa-desa dan pengusaha telah mengolah sampah semaksimal mungkin di masing-masing wilayah. Salah satu fokus utama adalah upaya yang optimal dalam pengelolaan sampah di rumah tangga.

"Kita juga menggerakkan beberapa sekolah kepeduliannya untuk tidak banyak menghasilkan sampah. Dari beberapa kebijakan yang dikeluarkan sekarang terkait pembatasan sampah plastik menjadi tantangan bagi kami, bagaimana bisa menekannya," tutur Made.


Pembangunan TPS 3R

Guna mewujudkan upaya maksimal itu, Made menjelaskan perlu adanya kerja sama yang kuat dengan berbagai pihak, seperti Dinas Perindustrian, Satpol PP, di beberapa universitas, sekolah, dan lainnya. Sinergi ini untuk melancarkan pengelolaan sampah berbasis sumber untuk desa.

"Kita maksimalkan dan bantu dorong untuk melakukan pendekatan, pendampingan terhadap lokasi-lokasi rencana pembangunan TPS 3R," kata Made.

Ia juga menjelaskan bahwa Gubernur Bali juga memiliki program yang memberi kesempatan kepada masyarakat desa dinas atau desa adat, bila pemerintah daerah memiliki lahan di wilayahnya itu, dapat dimohonkan untuk kepentingan pembangunan TPS 3R. Begitu pula dengan tanah-tanah yang dimiliki desa adat maupun desa dinas itu diwajibkan untuk ambil bagian.

"Dalam kondisi Covid-19 ini sulitnya anggaran, pak gubernur juga berjuang dengan kementerian atau dinas untuk mendorong terutama desa kita terutama yang ada di Sarbagita dulu (Tabanan, Gianyar, Denpasar, dan Badung) itu dioptimalkan untuk pembangunan TPS 3R. Kurang lebih 56 daripada desa yang sudah membangun TPS 3R. Ini sedang kita lakukan evaluasi pengelolaannya," jelas Made.


Percepatan

"Harapan kami, kami akan merencanakan melakukan penutupan TPA Sarbagita kita di Suwung karena sudah tidak layak lagi jadi tentu ini menjadi angin segar untuk kita untuk mendorong segera bergerak cepat," ungkap Made.

Percepatan ini juga didorong dengan adanya gelaran G20 di Bali pada Oktober 2022 mendatang. "Kita sudah mulai terus harus melakukan percepatan-percepatan pembangunan TPS 3R, TPST," terangnya.

Di sisi lain, Made juga berterima kasih kepada gerakan-gerakan kebersihan dari berbagai pihak yang turut peduli dengan sampah di Bali. "Terima kasih banyak berbagai organisasi sudah banyak membantu kami bergerak dengan cepat," tutur Made.

"Di satu sisi kita ingin sampah ini bukan masalah ini menjadi peluang untuk meningkatkan peran serta masyarakat sekaligus untuk produk usaha sehingga sampah dilihat dari sisi bisnis bisa dilaksanakan dan menguntungkan," kata Made.



Sumber : LIPUTAN6

0 comments: