Menteri Malaysia Dituntut Mundur Setelah Beri Saran untuk 'Pukul Istri'

Kamis, Februari 17, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Ilustrasi. (Foto: Okezone)

KUALA LUMPUR - Kelompok hak-hak perempuan Malaysia pada Senin (14/2/2022) menuntut menyerukan Wakil Menteri untuk Keluarga dan Perempuan, Siti Zailah untuk mengundurkan diri. Seruan tersebut muncul setelah pejabat itu memicu kemarahan dengan memberikan saran tentang pemukulan istri dalam sebuah posting Instagram.

Dalam sebuah video berdurasi dua menit yang diposting pada Minggu (13/2/2022), Siti Zailah mengatakan bahwa para suami harus terlebih dahulu berbicara dengan istri mereka yang “tidak patuh”, kemudian, jika itu tidak berhasil, tidur terpisah dari mereka selama tiga hari dan, akhirnya, menggunakan “pendekatan sentuhan fisik” jika istri masih terbukti terlalu “keras kepala” untuk menurut.

“Jika istri masih menolak untuk menerima nasehat, atau mengubah perilakunya setelah pemisahan tidur, maka suami dapat mencoba pendekatan sentuhan fisik, dengan memukulnya dengan lembut, untuk menunjukkan ketegasan dan seberapa besar keinginannya untuk berubah,” kata pejabat itu dalam videonya sebagaimana dilansir RT.

“Nasihat” wakil menteri tersebut memicu kemarahan organisasi hak-hak perempuan Malaysia, yang menuduhnya menormalkan kekerasan dalam rumah tangga, yang dilarang di negara Asia Tenggara itu.

Sebuah asosiasi dari delapan kelompok hak perempuan, yang disebut Kelompok Aksi Bersama untuk Kesetaraan Gender (JAG), telah meminta Siti Zailah untuk mengundurkan diri atas kata-katanya, menuduhnya “melanggengkan gagasan serta perilaku yang bertentangan dengan kesetaraan gender.”

Antara 2020 dan 2021 saja, ada 9.015 laporan polisi tentang kekerasan dalam rumah tangga di Malaysia, kata asosiasi itu dalam sebuah pernyataan pada Senin, menekankan bahwa jumlah ini tidak termasuk laporan lain yang diterima oleh berbagai badan amal dan organisasi pendukung perempuan.

“Sebagai menteri yang dimaksudkan untuk menegakkan kesetaraan gender dan hak-hak perempuan atas perlindungan dan keamanan, ini menjijikkan, menyangkal hak perempuan untuk kesetaraan, hak mereka atas martabat dan untuk bebas dari perlakuan yang merendahkan,” kata pernyataan itu.

Kelompok itu juga mendesak Perdana Menteri Datuk Seri Ismail Sabri Yaakob untuk mengambil tindakan segera atas masalah ini. Seruan ke pemerintah itu kemudian ditandatangani oleh 11 organisasi hak-hak perempuan lainnya.

Seorang anggota parlemen perempuan Malaysia dan mantan Wakil Presiden Partai Keadilan Rakyat, Nurul Izzah Anwar, mengecam kata-kata wakil menteri pada Senin, menyebut mereka "merugikan dan bertentangan dengan kenyataan dan kebutuhan saat ini". Anggota parlemen itu menambahkan bahwa Malaysia telah melihat peningkatan kekerasan dalam rumah tangga selama pandemi Covid-19.

Baik pemerintah maupun Siti Zailah sendiri sejauh ini tidak bereaksi terhadap kemarahan tersebut.

Wakil menteri itu, yang merupakan anggota parlemen untuk Partai Islam Pan-Malaysia, sebelumnya telah menimbulkan kontroversi setelah mendesak perempuan untuk hanya berbicara dengan suami mereka ketika diberi izin dan hanya ketika pasangan mereka telah “selesai makan, berdoa dan bersantai.”


Sumber : okezone.com

0 comments: