Abramovich dan Putin: Kisah Anak Yatim Piatu yang Jadi Konglomerat Oligarki

Kamis, Maret 31, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Abramovich dan Putin: Kisah Anak Yatim Piatu yang Jadi Konglomerat Oligarki
BBC

Suara.com - Dia menjadi yatim piatu pada usia tiga tahun tetapi kemudian menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Kini hubungan Roman Abramovich dengan Vladimir Putin telah melucuti bisnis dan reputasinya.

"Saya yakin orang-orang akan fokus pada saya selama tiga atau empat hari, tetapi itu akan berlalu," kata miliarder Rusia itu ketika membeli klub sepakbola Inggris, Chelsea FC, pada 2003.

"Mereka akan melupakan siapa saya, dan saya menyukainya."

Ada sedikit kemungkinan anonimitas sekarang, mengingat peristiwa selama beberapa pekan terakhir.

Setelah bertahun-tahun muncul tuntutan agar ada pengawasan yang lebih besar terhadap transaksi bisnis Abramovich, pemerintah Inggris telah membekukan asetnya di Inggris - termasuk rumahnya, sejumlah karya seni dan klub Chelsea FC - dan memberlakukan larangan perjalanan kepadanya.

Asetnya dibekukan setelah pemerintah Inggris menuduhnya terlibat dengan Putin dalam invasi Rusia ke Ukraina.

Tuduhan ini meruntuhkan kehormatan pria yang telah mendominasi sepak bola Inggris itu, namun penggemar olah raga ini sudah terpolarisasi tajam di mana sebagian menyambutnya dengan bersorak.

Tetapi dia telah mengatasi tantangan terbesar, terutama di awal perjalanan hidupnya.

Dari anak yatim menjadi taipan

Roman Arkadyevich Abramovich lahir di Saratov di wilayah barat daya Rusia, beberapa ratus kilometer dari perbatasan dengan Ukraina, pada 1966.

Ibunya, Irina, meninggal karena keracunan darah ketika dia berusia satu tahun.

Adapun ayahnya meninggal dua tahun kemudian akibat kecelakaan derek konstruksi.

Setelah itu Abramovich dibesarkan oleh keluarga dekatnya, menghabiskan waktu di Komi, di wilayah barat laut Rusia, dengan hidup serba hemat dan suhu musim dingin di titik terendah.

"Sejujurnya saya tidak bisa menyebut masa kecil saya buruk," akunya kepada Guardian dalam sebuah wawancara yang jarang terjadi.

"Di masa kecil Anda, Anda tidak dapat membandingkan banyak hal: makan sepotong wortel, makan satu permen, keduanya enak. Sebagai seorang anak, Anda tidak bisa membedakannya."

Dia meninggalkan bangku sekolah pada usia 16 tahun, bekerja sebagai mekanik dan berdinas sebagai tentara Rusia sebelum jualan mainan plastik di Moskow.

Dia beralih ke bisnis parfum dan deodoran, lalu membangun pundi-pundi kekayaannya karena pintu keterbukaan dibuka lebar-lebar oleh pemimpin Uni Soviet saat itu, Mikhail Gorbachev, yang memungkinkan lebih banyak ruang bagi pengusaha.

Nasib baik setelah Uni Soviet runtuh

Keruntuhan Uni Soviet, dan karenanya ada kebijakan negara atas berbagai aset mineral, memberikan lebih banyak peluang, dan pada pertengahan usia 20-an, Abramovich mendapat keberuntungan lebih lanjut.

Dia mengambil alih perusahaan minyak Sibneft dari pemerintah Rusia dalam lelang yang penuh kecurangan pada 1995 dengan harga sekitar $250 juta.

Dia kemudian menjualnya kembali kepada pemerintah seharga $13 miliar pada 2005.

Tim pengacaranya mengatakan tidak ada dasar untuk menuduh Abramovich menumpuk kekayaan berlimpah melalui tindak kriminal.

Namun, pada 2012, dia mengaku di pengadilan Inggris bahwa dia melakukan pembayaran yang berindikasi korupsi untuk memuluskan kesepakatan akuisisi Sibneft.

Dia terlibat dalam "perang aluminium" pada 1990-an, di mana kaum oligark - mereka yang meraih kekayaan berlimpah dan kekuatan politik setelah runtuhnya Soviet - bertarung untuk menguasai industri yang luas ini.

"Setiap tiga hari, seseorang dibunuh," ungkap Abramovich pada 2011, seraya menambahkan bahwa ancaman terhadap keselamatannya membuatnya enggan terlibat.

Tapi Abramovich nantinya membuktikan ketangguhannya sendiri, menghasilkan ratusan juta poundsterling di tengah kekacauan.

Memasuki arena politik

Dia menjadi sekutu Presiden Boris Yeltsin dan pemain di kancah politik Moskow pasca-Soviet, bahkan memiliki apartemen di Kremlin untuk sementara waktu.

Ketika Yeltsin mengundurkan diri pada 1999, Abramovich dilaporkan di antara mereka yang mendukung perdana menteri dan mantan mata-mata KGB, Vladimir Putin, sebagai penggantinya.

Saat Putin memantapkan posisinya, dia berusaha menegaskan dominasinya atas kelompok oligarki. Beberapa diantaranya dijebloskan ke penjara, dan lainnya diasingkan jika mereka gagal menunjukkan kesetiaan.

Abramovich bernasib baik. Pada 2000, dia terpilih sebagai gubernur wilayah Chukotka yang miskin, di ujung wilayah timur laut Rusia.

Dia meraih popularitas setelah menginvestasikan uangnya sendiri di layanan sosial, tetapi dia mengundurkan diri pada 2008.

Sementara itu, seraya menjaga kepentingan bisnisnya, dia menikmati kekayaannya dengan memborong lukisan, perumahan, kendaraan mewah.

Panggilan London

Dalam langkah yang tidak biasa bagi seorang pria yang secara umum digambarkan sebagai pendiam, bahkan pemalu, pada 2003, Abramovich membuat dirinya terkenal di jagad sepakbola ketika dia membeli Chelsea, klub terbesar di London barat, dalam kesepakatan senilai £ 140m.

"Seluruh filosofi saya dalam hidup adalah membentuk tim profesional," katanya kepada Financial Times.

"Di Chukotka saya memiliki tim profesional di lapangan dan saya akan melakukan ini di sini juga."

Di bawah pelatih Jose Mourinho dan nama-nama lainnya, kekayaan Abramovich mampu mendongkrak Chelsea meraih lima Liga Primer, dua Liga Champions dan lima Piala FA.

Uang oligarki telah membanjiri London dalam beberapa tahun terakhir.

Portofolio properti Abramovich sendiri diyakini mencakup sebuah rumah mewah dengan 15 kamar tidur di Kensington Palace Gardens di London barat, yang dilaporkan bernilai lebih dari £150 juta; sebuah flat di Chelsea; sebuah peternakan di Colorado; dan rumah liburan di French Riviera, Prancis.

Yacht miliknya - Solaris dan Eclipse - termasuk yang terbesar di dunia. Abramovich, yang telah bercerai tiga kali, juga memiliki jet pribadi.

Kasus pencemaran nama baik

Ditanya wartawan Guardian pada 2006 tentang apa arti kekayaan bagi seseorang, dia menjawab: "Uang tak dapat membelikan Anda kebahagiaan. Sejumlah kebebasan, ya."

Raksasa media yang membidangi keuangan, Bloomberg, memperkirakan kekayaan Abramovich sebesar $ 13,7 miliar, dan menempatkannya sebagai orang terkaya ke 128 di dunia.

Sedangkan Forbes menyebutkan kekayaannya mencapai $ 12,3 miliar, serta menempatkannya di urutan ke-142.

Namun, yang menjadi pertanyaan serius adalah sejauh mana independensinya dari Putin.

Tahun lalu, Abramovich menggugat penerbit House HarperCollins karena pencemaran nama baik terkait buku berjudul Putin's People karya Catherine Belton, yang mengklaim presiden Rusia itu telah memerintahkannya untuk membeli Chelsea.

Kedua belah pihak akhirnya menyelesaikannya di luar pengadilan, dan penerbit setuju untuk membuat beberapa klarifikasi.

Tetapi hubungan Abramovich dengan Putin terus mengganggunya, terutama ketika pasukan Rusia membangun kekuatan di perbatasan dengan Ukraina dan kemudian menyerbunya.

Ketika Inggris membekukan aset Abramovich dan enam oligarki lainnya diumumkan, Menteri Luar Negeri Liz Truss mengatakan: "Dengan hubungan dekat mereka dengan Putin, mereka terlibat dalam agresinya. Darah rakyat Ukraina ada di tangan mereka."

Abramovich mengumumkan penjualan Chelsea delapan hari sebelum sanksi dijatuhkan.

Sebagian penggemar Chelsea terus mendukung Abramovich, tetapi banyak politisi menyerukan agar asetnya disita, dan tak hanya dibekukan.

"Saya harap saya dapat mengunjungi Stamford Bridge untuk terakhir kalinya guna mengucapkan selamat tinggal kepada Anda semua secara langsung," kata Abramovich kepada para pendukung Chelsea.

Tapi kembali ke London Barat tidaklah mungkin untuk beberapa waktu.

Anehnya, saat ini Abramovich diketahui mengalami gejala dugaan keracunan - bersama dengan dua orang juru runding senior Ukraina - pada saat pembicaraan damai di perbatasan Ukraina-Belarus pada awal Maret lalu.

Sumber : Suara.com

0 comments: