Gurita Bisnis Prajogo Pangestu, Orang Terkaya RI Setelah Bos Djarum, dari Petrokimia hingga PLTP

Senin, Maret 14, 2022 Majalah Holiday 0 Comments


JAKARTA, KOMPAS.com - Nama Prajogo Pangestu sudah malang-melintang di dunia bisnis sejak tahun 1970-an. Namanya kian melejit hingga masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia versi Forbes.

Pada akhir tahun 2021, Prajogo menduduki posisi orang terkaya ketiga dengan kekayaan bersih sebesar 6,1 miliar dollar AS. Nama Prajogo berada di bawah pemilik bos Djarum, Hartono bersaudara, dan keluarga Widjaja. 

Di masa kecil, pria bernama asli Phang Djoem Phen ini hanya mampu mengenyam pendidikan sampai tingkat sekolah menengah. Dia adalah putra dari seorang pedagang karet yang sempat menjadi supir angkot di tahun 1960-an.

Bangun Barito Pacific Kemudian pada tahun 1970-an dia memulai bisnis usai bertemu dengan pengusaha asal Malaysia, Bong Sun on atau Burhan Uray. Burhan mengajaknya bekerja di PT Djajanti Group, yang dimiliki Burhan pada tahun 1969. Setelah itu, ia menjadi General Manager pabrik PT Plywood Nusantara di Gresik, Jawa Timur, pada tahun 1976. Usai setahun berkarir, dia memberanikan diri membuka usaha sendiri.

Mulanya, ia membeli CV Pacific Lumber Coy yang diganti namanya menjadi PT Barito Pacific Timber. Seiring berjalannya waktu, bisnisnya lancar hingga perusahaan itu berganti nama menjadi Barito Pacific. Mengutip data RTI, saham Barito Pacific hingga Kamis, (10/3/2022) berada pada Rp 880, naik 40 poin atau 4,76 persen dari Rp 840 di hari sebelumnya. Kapitalisasi pasar emiten bersandi BRPT ini sudah mencapai Rp 82,50 triliun dengan volume saham yang diperdagangkan sebesar 67,28 juta lembar mencapai Rp 58,44 miliar. 

Kuasai Chandra Asri Berlanjut di tahun 2007, Barito menguasai 70 persen perusahaan petrokimia Chandra Asri. Dua tahun berselang tepatnya pada tahun 2011, Chandra Asri bergabung dengan Tri Polyta Indonesia yang merupakan produsen petrokimia terintegrasi di Indonesia. 

Lalu di tahun 2020, pria berusia 77 tahun ini kembali menambah kepemilikan saham di PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) sebesar 6.813.400 lembar saham. Angka ini setara 0,038 persen dari total saham yang dimiliki perusahaan sebesar 17.833.520.260 saham. Penambahan kepemilikan saham merupakan komitmen Prajogo dalam menjaga kepercayaan kepada investor pasar modal. 

Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), saat ini saham TPIA dimiliki publik sebesar 1.382.177.530 lembar saham atau setara 7,75 persen dari total saham perseroan. Langkah ini juga dijalankan demi memberi dorongan operasional yang kuat, agar kinerja anak usaha PT Barito Pacific Tbk (BRPT) ini meraih hasil yang positif di tengah masa pandemi Covid-19. 

Barito Pacific memiliki 7.469.417.600 lembar saham TPIA atau 41,88 persen dari total saham yang dimiliki oleh perusahaan. Adapun 5.451.715.305 lembar saham atau setara 30,57 persen dimiliki oleh SCG Chemicals Company Limited dan 2.683.398.895 lembar saham atau 15,05 persen dimiliki oleh Prajogo Pangestu.

Beli saham Star Energy 

Untuk memperbesar lini bisnisnya di bidang petrokimia, Prajogo telah membeli 33,33 persen saham Star Energy dari BCPG Thailand dengan nilai 440 juta dollar AS atau Rp 6,2 triliun, sebuah perusahaan yang diincarnya sejak tahun 2009. Mengutip Forbes, akuisisi itu dilakukan melalui perusahaan di bawah kendalinya, Green Era. Perusahaan swasta Singapura tersebut tercatat memiliki 3 proyek panas bumi di Indonesia. 

Tiga proyeknya, yakni PLTP Wayang Windu, PLTP Salak, dan PLTP Darajat, yang ketiganya berada di Provinsi Jawa Barat. Pada 2019 lalu, perusahaan berencana menginvestasikan 2,5 miliar dollar AS untuk meningkatkan kapasitasnya menjadi 1.200 MW pada 2028. Proyek-proyek Star Energy sendiri memiliki total kapasitas kotor sebesar 875 MW. Dengan akuisisi, Prajogo telah memiliki 66,6 persen saham Star 
Energy yang berkantor pusat di Jakarta melalui perusahaannya, Barito Pacific. "Akuisisi ini merupakan tonggak utama untuk secara efektif meluncurkan rencana pertumbuhan dan era investasi hijau yang menarik," kata Direktur Pelaksana Green Era, Nancy Pangestu. 

Prospek usaha dari lini bisnis Prajogo terlihat sangat cerah. Berdasarkan data Dewan Energi Nasional pada Februari, Indonesia memiliki potensi panas bumi hingga 23,7 GW atau 40 persen dari kapasitas dunia. Namun, saat ini, Indonesia baru memanfaatkan 4,5 persen dari potensinya. Riset publikasi EY pada April 2021 menyebutkan, ada 800 proyek energi bersih yang sedang dalam pengerjaan di 8 negara Asia. EY memperkirakan, total biaya investasi untuk semua proyek itu mencapai 316 miliar dollar AS.


Sumber : kompas

0 comments: