Kata Ahli Ini 7 Tips Diet Agar Kamu Tetap Bugar di Usia 27 Tahun

Senin, Maret 14, 2022 Majalah Holiday 0 Comments


Pernahkah kamu bertanya, perlukah kamu menjalankan diet khusus untuk membuat tubuh tetap bugar hingga usia lanjut? Padahal usia belum memasuki 30 tahun tapi tubuh rasanya sangat sulit untuk diajak berolahraga, apalagi menahan keinginan untuk tak makan yang aneh-aneh. Ya, mungkin saja kamu sudah berada di pertengahan usia 20-an.
Biasanya, kondisi seperti ini menjadi tantangan untuk kamu mengubah pola makan yang lebih baik. Ini karena, kamu terbiasa makan makanan, yang sebut saja, memiliki kalori tinggi.
Nah, untuk itu kamu perlu mengetahui tips menjalankan pola makan yang sehat terutama di usai pertengahan ini. Misalnya, makanan dan minuman apa yang perlu kamu hindari saat acara kantor; atau makanan yang baik untuk kamu konsumsi guna meningkatkan imun tubuh.
Kalau begitu, langsung saja, yuk perhatikan tips diet dari para ahli berikut ini khusus buat kamu yang tengah memasuki usia 27 tahun.

1. Ketahui setiap makanan diet yang tidak disarankan


Saat memasuki usia 20-an kamu akan mulai merasa berat badan mudah naik, dan akhirnya beralih mengonsumsi diet shake, bar, atau makanan kotak untuk menurunkan bobot tubuh. Meskipun mengonsumsi makanan ini tampak memberi hasil secara singkat, tetapi umumnya asupan tersebut diproses dengan gula, natrium dan bahan kimia, serta sedikit kandungan nutrisi.

"Begitu kita berusia 30-an, produksi insulin lebih sensitif terhadap gula dan makanan olahan, dan tubuh kita lebih mudah menyerap kalori tersebut sebagai lemak," kata Kristin Reisinger, MS, RD, CSSD.
"Tetaplah mengonsumsi makanan bersih dan sehat untuk menjaga metabolisme kamu tetap kuat dan tingkat energi tetap tinggi. Dan, untuk yang kesekian kalinya, berhentilah minum soda dan soda diet,” tambahnya.

2. Kurangi makan pizza

Saat kamu masih sekolah menolak sepotong pizza saja, rasanya susah, terbayang kan kalau sudah berusia 27 tahun? Ya, pasti akan lebih susah lagi karena lelah kuliah atau bekerja dan membuat kamu malas memikirkan makanan apa yang hendak disantap nanti malam. Biasanya kalau sudah begini, pizzalah satu satunya opsi.
Kendati kamu sudah memasuki usia pertengahan maka disarankan, untuk sebaiknya sedikit-sedikit belajar memasak makanan yang mudah guna menghindari konsumsi pizza terlalu sering. Mengutip Eat This, mulailah perlahan dengan mencoba resep baru setiap minggu, atau kamu bisa membuat pizza sendiri di rumah agar lebih higienis dan sehat.

3. Klaim label makanan tak selamanya benar

Banyak label makanan yang mengeklaim "zero grams of trans fat" hingga "all natural" namun hal ini tidak selalu seperti yang mereka katakan. Sebab biasanya, suatu produk mungkin mengandung hingga 0,5 gram lemak trans, gula, atau zat gizi makro lainnya; dan produsen masih dapat mengeklaim bahwa makanan tersebut mengandung 0 gram kandungan tersebut. Label makanan ternyata tidak selalu benar, kamu harus pintar-pintar memperhatikan trik yang digunakan produsen untuk meyakinkan pelanggan bahwa makanan mereka sehat.

4. Ngemil saja bikin kurus

"Risiko makan terlalu banyak sama saja dengan yang makan terlalu sedikit," kata Carolyn Brown, MS, RD. Sementara ahli gizi lain, Lisa Moskovitz, RD, CDN pun setuju, dan mengatakan bahwa, dalam upaya untuk menurunkan berat badan dengan cepat, banyak orang salah mengartikan bahwa makan kalori sedikit mungkin adalah solusi terbaik.
Hal ini tidak hanya dapat menyebabkan banyak kekurangan nutrisi karena tubuh semakin menyusut, tetapi juga dapat memiliki efek sebaliknya pada penurunan berat badan. "Jangan mencoba untuk mengurangi kalori. Alih-alih memotong kalori, kamu dapat mengonsumsi camilan sehat seperti yang memiliki protein tinggi untuk menjaga kadar gula darah stabil dan metabolisme dalam tubuh tetap berjalan,” jelas Moskovitz.

5. Karbohidrat tidak berbahaya


Karbohidrat yang selama ini disangka-sangka sebagai kandungan ‘jahat’ ternyata tetap tubuhmu butuhkan. Para ahli baru-baru ini justru menemukan penyebab sebenarnya adalah gula, bukan karbohidrat. Para ilmuwan telah menghubungkan jumlah gula dalam makanan seseorang dengan risiko obesitas, penambahan berat badan, dan masalah kesehatan lainnya termasuk penyakit jantung.
Sebuah studi dalam Journal of American Medical Association, menemukan bahwa orang yang makan antara 17-21 persen kalori dari gula tambahan akan memiliki 38 persen risiko tinggi meninggal akibat penyakit jantung; dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi 8 persen atau kurang.

6. Salah paham antara ‘lapar’ dan ‘haus’



Penelitian menunjukkan bahwa 6 dari 10 kali, orang akan salah mengira lapar itu hanyalah rasa haus. Faktanya, makanan awal dengan air dapat mengurangi ratusan kalori dari asupan harian kamu, lho. Sebuah studi yang diterbitkan jurnal Obesity menemukan bahwa minum dua cangkir air sebelum makan membuat orang mengonsumsi 75-90 kalori lebih sedikit. Ini bisa jadi karena air mengisi, tetapi mungkin juga menggantikan kalori yang dihabiskan untuk minuman tinggi kalori seperti soda atau alkohol.

7. Ikut-ikut mencoba diet populer

Diet terbaru mungkin populer, tetapi itu tidak menjadikannya cara terbaik untuk menurunkan berat badan. Elisa Zied, MS, RDN, CDN, menjelaskan bahwa, saat kamu mengurangi nutrisi seperti karbohidrat atau produk susu, ini dapat membantu mengurangi kalori. "Tetapi juga, akhirnya kamu memiliki asupan nutrisi yang lebih rendah, yang semakin sulit bagi tubuh karena usia,” tambahnya.
Cara lain daripada mengurangi karbohidrat, kamu bisa mengurangi porsi biasa kamu makan, dan pilih biji-bijian utuh daripada varietas olahan, yang menyebabkan lonjakan kadar insulin serta menyebabkan makan berlebihan.





Sumber : kumparan.com

0 comments: