Mengenal Aktraksi Tari Ronggeng Gunung dari Pangandaran

Senin, Maret 14, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Tari Ronggeng Gunung Pangandaran (Foto: istimewa)

Pangandaran - Seni tradisi daerah di Kabupaten Pangandaran hampir punah seiring perkembangan zaman. Namun beruntung masih ada sebagian lagi yang tetap hidup ditengah-tengah masyarakat.

Kabupaten Pangandaran sangat kaya akan wisata alam dan seni budaya yang beredar di masyarakat. Salahsatunya aktraksi tari ronggeng gunung.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pangandaran Tonton Guntar mengatakan, seni tradisi ronggeng gunung merupakan tarian asli khas Pangandaran.

Menurut sumber tradisi perkembangan tari ronggeng gunung mengalami perubahan nama akibat generasi penerusnya. "Ada tiga sebutan untuk pertunjukan ronggeng yaitu Ronggeng Gunung, Ronggeng Kaler, dan Ronggeng Amen atau Ronggeng Kidul," ucapnya kepada DetikJabar Sabtu (12/3/2022).

Namun perubahan nama itu tidak merubah estetika dalam tarian ronggeng. Perkembangan ronggeng itu berada di Kecamatan Langkaplancar, Mangunjaya, Padaherang, Pangandaran dan Sidamulih.

Dari buku yang ditulis prof. Dr. Nina Herlina Lubis dengan judul "Pangandaran Dari Masa ke Masa" menyebutkan bahwa Ronggeng gunung merupakan bentuk awal dari seni pertunjukan Ronggeng yang diyakini berasal dari daerah pegunungan Pangandaran.

Sementara itu, bentuk pertunjukan Ronggeng Kala merupakan pengembangan dari Ronggeng Gunung biasanya dalam pertunjukan ini. Ronggengnya terdiri dari dua orang dan gamelan pengiringnya lengkap disertai dengan lagu-lagu kliningan.

Pagelaran Ronggeng Kaler dikhususkan hanya untuk hiburan dalam perhelatan perkawinan atau khitanan dan tidak dipertunjukkan dalam ritual.

Ronggeng Amen juga merupakan perkembangan dari Ronggeng Gunung. Pada awalnya pertunjukan Ronggeng Amen disebut Ronggeng Ngamen, namun lama kelamaan berubah nama menjadi Ronggeng Amen.

Dalam penyajiannya Ronggeng Amen lebih banyak melibatkan penonton untuk menari bersama ronggeng. Selain itu, lagu yang dibawakan pun lebih variatif, misalnya bercampur dengan lagu dangdut atau kliningan, yang pada intinya bisa menarik perhatian banyak penonton.

Tonton sebut banyak versi soal sejarah munculnya tari ronggeng gunung di Pangandaran. "Pada salahsatu versi menceritakan tentang Dewi Samboja, puteri ke-38 Prabu Siliwangi. Suaminya yang bernama Anggalarang, mati terbunuh oleh Kalasamudera, pemimpin bajak laut sebrang lautan," ucapnya.

Dalam cerita yang disebutkan bahwa saat melihat kesedihan atas kematian suaminya. Ayahnya pun memberikan semacam wangsit kepada Dewi Siti Samboja. "Isi wangsitnya, menyuruh Dewi membunuh para bajo," ucapnya.

Namun untuk mengelabuinya Dewi Siti Samboja menyamar menjadi Nini Bogem, seorang penari ronggeng. "Sejak saat itulah dia belajar bela diri dan tari ronggeng," katanya.

Selanjutnya saat Dewi Siti Samboja mahir, lalu mencoba keliling sebagai penari ronggeng dari tempat ke tempat lain untuk mencari para bajo terutama Kalasamudera. "Pada suatau hari kebetulan Dewi Siti Samboja menemukan Kalasamudera, lalu balas dendam atas kematian suaminya," ucapnya.

Tonton berharap cerita tersebut menjadikan sebuah pelajaran. "Bukan mengajarkan untuk balas dendam, biarkan menjadi kisah kelam yang dilihat sisi positifnya," katanya.

Seiring perkembangan zaman saat ini tari ronggeng gunung menjadi seni tradisi hiburan yang dipakai masyarakat Pangandaran pada prosesi hajatan, event, dan syukuran-syukuran lainnya.

Ada makna yang terkandung dalam tari ronggeng gunung yang menarik. Karena lebih seru jika dibawakan oleh banyak penari dengan posisi melingkar. "Sarendeuk saigel sabobot sapihanean, artinya setiap gerakan harus se irama, selalu bersama-sama tak pernah bertengkar karena berbeda pendapat, rukun dan saling menghargai," ucapnya. (yum/tey)


Sumber : detik.com

0 comments: