Mengenal Slup-Slupan, Tradisi Unik Masyarakat Jawa saat Menempati Rumah Baru

Rabu, Maret 16, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Rumah Joglo Foto: Muhammad Naufal/kumparan
Dianugerahi beragam suku dan budaya, membuat Indonesia kaya akan tradisi yang diwariskan turun-temurun dari nenek moyang. Tak terkecuali masyarakat Jawa yang mempunyai tradisi unik saat pindah rumah atau menempati rumah baru.

Bagi masyarakat Jawa, proses menempati rumah baru ini dianggap sebagai momentum yang sakral. Oleh sebab itu, akan digelar selamatan atau tradisi slup-slupan ketika mendiami rumah yang baru selesai dibangun atau dibeli.

Tradisi dengan Makna Filosofis Mendalam



Tradisi slup-slupan diawali dengan satu orang yang memegang sapu lidi untuk menyapu. Sementara itu, satu orang lagi memegang lampu minyak dan tempat air.
Kemudian, keduanya berdoa di depan rumah dan dilanjutkan dengan mengelilingi rumah, sembari menyapu dan menyiram rumah dengan air. Rangkaian acara tersebut memiliki makna filosofis mendalam bagi masyarakat Jawa.
Prosesi tersebut memiliki makna adem (nyaman) dan tenteram. Kegiatan menyapu dengan sapu lidi merupakan penggambaran untuk mengusir segala kotoran, baik kotoran fisik maupun kotoran non-fisik.
Lampu yang digunakan untuk mengitari bertujuan agar senantiasa memperoleh pencerahan dalam hidup. Dalam tradisi slup-slupan juga terdapat pemasangan padi, tebu, dan kelapa di posisi tengah atap rumah.
Pemasangan ubarampe tersebut supaya pemilik rumah mendapat kehidupan yang baik dan terjamin. Pada bagian ini juga tidak ketinggalan pemasangan bendera merah putih di posisi tengah-atas rumah.

Dikutip dari nu.or.id, pemasangan bendera merah putih berkaitan dengan sejarah. Pada zaman penjajahan, bendera penjajah berkibar di jalan-jalan, sedangkan bendera merah putih dilarang untuk dikibarkan.
Akhirnya, para orang tua zaman dahulu memasang bendera merah putih bersama dengan tebu, padi, dan kelapa supaya tidak dicurigai oleh penjajah. Pelaksanaan tradisi slup-slupan pindah rumah juga didasarkan pada penanggalan Jawa untuk menghitung hari baik.
Dengan demikian, tradisi slup-slupan tidak hanya mengajarkan rasa syukur atas nikmat berupa tempat tinggal dan keluarga, memperoleh selamat dan dijauhkan dari segala celaka, juga terdapat nilai implisit berupa nasionalisme agar selalu dijaga.

Sumber : kumparan.com

0 comments: