Misteri Nyai Rantansari Asal Solo, Penunggu Desa Kramat di Bumiayu

Jumat, Maret 11, 2022 Majalah Holiday 0 Comments


Solopos.com, BREBES — Mitos Nyai Rantansari yang dikenal dari Kecamatan Bumiayu, Kabupaten BrebesJawa Tengah, ini muncul seiring dengan adanya keberadaan Candi Kramat. Konon, Candi Kramat merupakan tempat tinggal Nyai Rantansari, seorang wanita cantik asal Solo yang berpenampilan seperti pengantin dengan baju kebaya berwarna hijau gadung.

Dilansir dari sebuah laman berbagai sumber, Jumat (11/3/2022), ada yang menyebutkan bahwa Nyai Rantansari merupakan titisan Nyai Roro Kidul atau Ratu Pantai Selatan. Dikatakan pula sebelum masuk ke  daerah Bumiayu, dia sempat menjelajah ke beberapa tempat untuk menghindari Raja Buto yang berniat melamarnya.

Dia menyusuri setiap sudut yang ada di Kecamatan Bumiayu dan akhirnya menghilang di gubug yang didalamnya terdapat sebuah batu kecil di sudut Desa Kramat. Hingga saat ini, masyarakat sekitar masih menganggap gubug tersebut sebagai gubug keramat. Mengapa demikian? Karena banyak yang mengatakan bahwa Nyai Rantansari benar-benar ada.

Pantangan Menggunakan Baju Hijau Gadung

Pantangan ini didasari kejadian-kejadian aneh yang sulit untuk diterima dengan akal sehat. Menurut warga setempat, ada beberapa kejadian aneh, salah satunya menimpa keluarga Ibu Ipah, warga Desa Bandung Indah yang saat itu tengah menggelar hajatan. Salah satu sanak saudaranya yang berasal dari Jakarta berbondong-bondong datang ke Bumiayu untuk menyemarakan acara hajatan tersebut.

Namun saat berada di perjalanan, rombongan keluarga Ibu Ipah yang berasal dari Jakarta itu mengalami kendala karena mereka secara tidak sengaja memasuki lingkungan Desa Kramat. Saat itu, mobil rombongan berada di jalan yang menanjak dan tiba-tiba berhenti seketika sehingga membuat para penumpang panik.

Hingga kemudian salah satu rombongan yang ada di mobil ke luar untuk mengganjal mobil dengan batu besar agar mobil tidak berjalan turun. Kemudian dicek pula bensin dan mesinnya, namun ternyata mesin dalam kondisi baik dan bensin juga masih penuh. Rupanya masalah bukan datang dari mobil yang ditunggangi, melainkan dari salah satu rombongan yang menggunakan baju hijau gadung yang merupakan pantangan di desa tersebut.

Warga setempat meyakini jika ada yang mengenakan baju hijau gadung akan membuat Nyai Rantansari, penunggu Desa Kramat marah. Sampai akhirnya, penumpang yang menggunakan baju hijau gadung ini mengganti baju dengan warna lain dan mobil dapat berjalan kembali.

Ada juga kejadian lainnya saat seorang wanita yang juga mengenakan baju hijau saat perjalanan pulang melewati Desa Kramat ke rumahnya. Tetapi anehnya wanita tersebut tidak kunjung pulang ke rumahnya. Ada yang beranggapan bahwa wanita itu dibawa oleh sosok Nyai Rantansari. Hingga sekarang belum ada informasi terkait keberadaan wanita desa setempat yang hilang tersebut.

Sebagian besar kejadian-kejadian mistis yang terjadi di Desa Kramat dilatarbelakangi dengan pakaian warna hijau gadung. Warna hijau sendiri merupakan simbol pertumbuhan, kesuburan, kesegaran, dan penyembuhan namun sisi lainnya, warna hijau juga bermakna kecemburan. Dari situ disimpulkan bahwa kejadian mistis tersebut adalah wujud kecemburuan Nyai Rantansari yang merasa tersaingi jika ada yang memakai baju dengan warna yang sama dengannya.

Mitos Nyai Rantansari 

Dalam perkembangannya, keberadaan Nyai Rantansari saat ini masih belum diketahui keberadaannya. Sejarah ilmu logika, belum ada pakar budaya atau ahli terkait yang mengkonfirmasi tentang legenda Nyai Rantansari tersebut sehingga sampai sekarang keberadaannya masih berupa mitos yang hanya dipercaya oleh warga setempat.

Seiring berkembangnya zaman, mitos mengenai Nyai Rantansari ini juga semakin larut di mana hal tersebut diketahui dari minimnya kejadian-kejadian mistis yang dikaitkan dengan keberadaan Nyai Rantansari. Selain itu, pemberian sajen ke Candi Kramat yang merupakan hal rutin juga sudah tidak dilakukan lagi. Kemungkinan hal ini dikarenakan pola pikir masyarakat setempat yang sudah berkembang seiring berjalannya waktu.

Sumber : solopos

0 comments: