Wanita Peneliti Diduga Hina Suku Rongkong Lutra Sepakat Disanksi Adat

Selasa, Maret 15, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Foto: Komunitas suku Rongkong melaporkan peneliti ke polisi. (Dok. Istimewa)
Palopo - Polres Palopo selesai menggelar mediasi antara warga suku Rongkong, Luwu Utara (Lutra) dengan wanita peneliti Iriani terkait kasus dugaan menghina suku Rongkong dengan sebutan kaunan atau pesuruh dalam karya tulis ilmiahnya. Polisi mengatakan Iriani sepakat disanksi adat.

"Terlapor ibu Iriani memperoleh ada 5 kesepakatan, salah satunya adalah pemberian sanksi adat," kata Kapolres Palopo AKBP Yusuf Usman kepada wartawan, Senin (14/3/2022)

Pantauan detikSulsel, mediasi digelar mulai dari pukul 15:00 Wita hingga pukul 16:45 Wita. Pada intinya kedua belah pihak, yakni terlapor dan pelapor sepakat damai dengan ketentuan sanksi adat tersebut.


"Alhamdulillah hari ini kita ada keputusan baik dari teman-teman masyarakat suku Rongkong, kemudian begitu juga dari pihak terlapor dari Balai Provinsi dan tentunya juga terlapor ibu Iriani," kata Usman.

Terkait sanksi adat, Usman mengatakan para pihak masih akan kembali dipertemukan di istana Kedatuan Luwu, Kota Palopo.

"Nanti kita atur di Kedatuan begitu juga dengan teman-teman pemangku adat dari suku Rongkong." bebernya

Polisi juga memastikan Iriani tak akan dikenakan sanksi pidana. Usman mengatakan kasus ini belum naik ke tahap penyidikan.

"Belum ada sanksi pidana, jadi kita belum naik ke tahap Sidik, ini tahap mediasi, kita menyelesaikan tahap ini, ada kesepakatan tadi dari teman-teman suku Rongkong," ucapnya.

detikSulsel meminta tanggapan ke Iriani yang juga hadir pada saat proses mediasi. Namun wanita peneliti itu enggan bersedia memberikan komentar lebih lanjut.

Sementara itu, pihak pelapor yang diwakili oleh Bata Manurung mengatakan, Iriani akan dikenai sanksi adat berupa potong kerbau 3 ekor.

"Sanksi adatnya itukan, walaupun belum diputuskan di dalam, tapi sanksi adat yang akan kita berikan itu sanksi adat berupa kerbau," ucapnya

Iriani diharapkan bisa menyediakan 3 kerbau jantan dengan beragam ukuran yang berbeda-beda. "Dan Iriani harus menyediakan Kerbau 3 ekor, jenisnya tetap jantan dan ukurannya itu bermacam-macam," katanya.

Awal Polemik Suku Rongkong
Seperti diketahui, polemik ini berawal saat Iriani dilaporkan oleh komunitas suku Rongkong ke Polres Palopo, Sulsel pada Senin (7/4). Pihak pelapor mengaku karya tulis Iriani melukai hati suku Rongkong.

"Tulisan itu sangat melukai hati kami sebagai suku Rongkong yang ada di tanah Luwu yang menyebut Rongkong itu adalah kaunan," kata perwakilan komunitas suku Rongkong Bata Manurung kepada detikSulsel, Kamis (10/2).

Bata mengatakan, seluruh keluarga besar suku Rongkong baik di Sulsel atau di luar Sulsel mengecam istilah kaunan di karya tulis ilmiah Iriani. Keluarga besar suku Rongkong meminta Iriani sebagai pemilik karya tulis ilmiah dipidanakan.

"Saudara kami suku Rongkong di manapun berada semua mengecam ini. Keluarga yang ada di luar Sulawesi Selatan menitipkan kepada kami yang ada di Luwu Raya agar ini cepat terproses dan mendapatkan perhatian yang lebih serius dari pihak kepolisian," kata Bata.

Sementara itu, Iriani juga sudah sempat memenuhi panggilan polisi pada Kamis (17/2). Dia membantah melecehkan etnis tertentu.

"Saya rasa itu bukan pelecehan. Saya tidak ada niat untuk melecehkan etnis apapun karena itu merupakan suatu karya ilmiah," kata Iriani kepada wartawan saat menghadiri panggilan penyidik Polres Palopo.






Sumber : detik.com

0 comments: