Begu Ganjang, Cerita yang Melegenda di Sumut

Rabu, April 06, 2022 Majalah Holiday 0 Comments


Medan - Setiap daerah di Indonesia pastinya memiliki beragam cerita mistis. Salah satu cerita itu masih ditemui di Sumatera Utara (Sumut). Di sini, ada sosok misterius yang sebagian masyarakat masih mempercayainya.

Sosok itu bernama begu ganjang. Sosok ini masih hidup dalam kepercayaan sebagian masyarakat, khususnya di daerah-daerah pelosok Sumut. Keberadaan makhluk tak terlihat ini pun kerap dipertanyakan masyarakat.

Antropolog Sumut, Dr Irfan Simatupang menjelaskan soal sosok begu ganjang. Bermacam kepercayaan hidup di masyarakat khususnya masyarakat Batak terkait begu ganjang. Namun, semuanya mengarah pada sesuatu yang negatif.

Begu dalam budaya Batak adalah sejenis makhluk gaib yang awalnya berasal dari makhluk hidup atau lokasi tertentu. Manusia yang hidup, memiliki dua zat yakni fisik, jasad atau yang disebut pamatang dan ruh atau yang disebut tondi. Ketika manusia mati maka tondinya di percayai berubah menjadi begu.

Begu ini akan pergi menuju suatu tempat yang disebut parbeguan, yakni suatu tempat gaib di mana berkumpul begu-begu orang yang sudah mati sebelumnya. Ruh akan terpisah dari jasad.

"Jika laki-laki yang mati, tondinya akan tetap berada disekitar jasadnya sampai 11 hari, jika perempuan 9 hari tondinya masih tetap berada disekitar jasad. Hal ini juga memperkuat ungkapan batak yang menyebutkan bah lebih kuat jiwa laki - laki daripada perempuan," ungkap ketua Program Studi Antropologi, Fisip Universitas Sumatera Utara, (USU).

Hal itu juga yang menjadi alasan bagi sebagian masyarakat batak untuk menjaga kuburan orang yang baru dikebumikan. Begu- begu ini juga hidup sebagaimana kehidupan manusia layaknya, mereka juga memiliki strata. Begu dari orang yang meninggal semasa hidupnya baik, keturunannya tetap menghormatinya. Begunya bisa berubah menjadi Sumangot dan selanjutnya jadi Sahala.

"Makanya orang Batak dahulu sangat menghormati orangtuanya bahkan sampai lama sesudah meninggal. Tidak jarang diberikan makanan, dibangunkan rumahnya dan lain-lain layaknya manusia hidup," sebut Irfan.

Kemudian, Irfan mendefinisikan kata ganjang. Dia menyebut kata ganjang berarti panjang. Jadi, begu ganjang itu perawakannya tinggi besar, hitam dan wujudnya pun tak kelihatan. Jika lebih luas lagi, itu termasuk dalam ilmu gaib atau magic. Irfan juga menyebutkan begu ganjang, sejenis begu yang asal usulnya belum jelas didapatkan. Namun melihat dari fenomena kepercayaan sebagian masyarakat, begu ganjang ini merupakan sejenis makhluk gaib yang bisa dipelihara dan dimanfaatkan oleh manusia tertentu sebagaimana kepercayaan terhadap tuyul dalam masyarakat Jawa.

Dalam kajian antropologi religi, ada namanya black magic dan white magic. Black magic adalah kemampuan manusia mengendalikan kekuatan-kekuatan makhluk gaib (supra natural).Begu ganjang masuk kategori black magic. Sedangkan white magic manusia bersandar pada kekuatan gaib (supranatural) pada awalnya ada dalam pemikiran (kepercayaan) individu dari anggota masyarakat.

Kemudian kepercayaan tersebut disebarkan pada masyarakat lainnya dengan berbagai maksud atau tujuan, sehingga ada kalanya kepercayaan yang demikian menjadi kepercayaan kolektif. Begu ganjang sudah menjadi kepercayaan kolektif dari masyarakatnya, bisa menimbulkan masalah besar dalam kehidupan sosial masyarakat setempat maupun lingkungannya.

"Tidak jarang terjadi pengusiran bahkan sampai pada pembunuhan pada orang- orang yang dicurigai atau dituduhkan sebagai pemilik begu ganjang tersebut. Hal ini bisa berdampak sangat lama sampai pada keturunannya beberapa generasi," sebut Irfan.

Irfan yang merupakan alumni S3 dari Antropologi UI ini mengatakan bahwa ada teori batas akal dari JG Frazer di mana manusia pada mulanya akan menjawab masalah hidupnya dengan menggunakan akalnya. Ketika akalnya sudah tidak mampu memahami sampai pada batas akalnya, manusia akan mencari jawaban melalui supranatural. Supranatural itu liar karena non material. Tidak bisa dilihat, dan hanya dalam bayangan.

"Bayangan bisa muncul bermacam-macam. Kalau dalam bayangan tentang yang baik maka muncullah wujud-wujud yang baik seperti tentang Tuhan, tentang malaikat. Kalau dia pemikirannya negatif, maka muncullah wujud-wujud negatif misalnya setan, iblis, hantu, dalam budaya batak begu. Maka begu itu selalu muncul dalam bentuk yang negatif," ucap Irfan.

Irfan menyebut kepercayaan demikian sebenarnya milik individu. Akan tetapi adakalanya dimanfaatkan oleh individu menjadi sesuatu yang diterima menjadi pemikiran kolektif. "Nah yang berbahayanya, menantangnya di sini sebenarnya ketika kepercayaan, keyakinan individu ini disebarkan ke masyarakat sehingga menjadi kepercayaan kolektif. Ini yang berbahaya, misalnya begu ganjang. Kalau ditanya lagi apa itu begu ganjang akan bermacam-macam definisi orang. Karena dia nggak pernah melihat. Hanya ada di dalam bayangan atau cerita dari cerita tapi jelas begu konotasinya negatif," sebut Irfan.

Irfan melihat dalam kepercayaan sebagian masyarakat, begu ganjang ini bisa dipelihara. Dia sama dalam budaya lain, bisa memelihara jin dan tuyul. "Nah biasanya orang yang dipercaya memiliki ini dia harus ada, selalu muncul ada perilaku- perilaku yang berbeda dari orang kebiasaan attau ada situasi yang berbeda," ujar Irfan.

Irfan menyebut isu-isu yang menyebar di masyarakat menjadi kepercayaan kolektif ini yang berbahaya. Dari kepercayaan, keyakinan individu berubah menjadi kepercayaan kolektif dan ini didukung biasa dari fakta-fakta yang sebenarnya adakalanya fakta ini rasional cuma karena batasan kemampuan berpikir masyarakatnya, maka langsung kepada hal yang gaib.

Irfan lalu mencontohkan, ada satu kasus di suatu desa di Sumut. Desa ini sebenarnya karena sumber dayanya boleh dikatakan mencukupi, bagus. Cuma karena ada isu-isu seperti ini sehingga terjadi kecurigaan dan masyarakatnya jadi tidak nyaman. Ada yang dicurigai misalnya pemilik begu ganjang. Hal ini disebarkan oleh orang-orang tidak senang terhadap dia, sampai dia akhirnya terjadi pengusiran atau bahkan pembunuhan dan akhirnya masuk ke ranah hukum.

"Ranah hukum kan nggak melihat ini, lihatnya hukum positif yang bisa dihadirkan pembunuhannya. Maka dipenjara, nah orang yang diisukan yang membunuh ini menjadi dicap image negatif dari segi manapun. Yang membunuh dari segi hukum dia sudah negatif. Yang dicap ini sebagai pemilik begu ganjang sampai ke keluarganya dicap negatif. Nah ini yang menurut saya harus di netralisir," sebut Irfan.

Sejauh ini, Irfan belum dapat menyimpulkan mulanya begu ganjang berkembang. Namun, fenomena ini mencuat ketika muncul suatu permasalahan di masyarakat. "Saya Belum dapat itu ceritanya sejak kapan itu berkembang. Tapi fenomena yang saya lihat, hal-hal yang seperti ini akan muncul ketika terjadi suatu masalah. Misalnya muncul serangan wabah penyakit pada masyarakat tertentu. Akan muncul isu-isu seperti itu," ujar Irfan.

Sumber : detik.com

0 comments: