Brunei Darussalam: Sejarah Budaya Kerajinan Tangan

Senin, April 11, 2022 Majalah Holiday 0 Comments


Budaya adalah satu satu bagian yang perlu ada pada sebuah masyarakat, budaya selalu mengacu kepada kualitas, cara pandang, ciri khas, dan cara hidup sebuah masyarakat tertentu. Selain itu, nilai budaya yang akan dipraktikkan ke dalam kehidupan masyarakat masuk kepada sudut pandang pemikiran. Nilai budaya dianggap sebagai sebuah nilai tertinggi dalam kehidupan masyarakat karena nilai tersebut sebagai lapisan paling abstrak dan luas ruang lingkupnya.
Demikian pula fokus tulisan ini kepada budaya yang ada di Negara Brunei Darussalam, Brunei merupakan negara yang berada di kawasan Asia Tenggara, letaknya di kawasan utara Pulau Kalimantan dan berbatasan dengan Malaysia. Negara ini sebagian masyarakatnya merupakan orang-orang melayu. Berbicara mengenai kebudayaan dari negara Brunei, memiliki banyak keunikan di dalamnya, karena masyarakat Brunei Darussalam terdiri dari Melayu, Tionghoa, dan sebagainya.
Dari sumber sejarah yang tercatat, menunjukkan bahwa negara Brunei Darussalam kaya akan khazanah budaya material. Budaya material memiliki pengertian bahwa budaya yang ada merupakan hasil cipta karya dari masyarakat yang nyata dan faktual.
Budaya material yang diciptakan oleh masyarakat dari negara ini contohnya adalah kerajinan tangan yang fungsinya selalu mengikuti perubahan dan perkembangan dari masa ke masa. Budaya material memiliki fungsi atau peranan seperti lambang budaya dan ciri khas dari masyarakat yang menciptakannya.

Kerajinan tangan adalah peninggalan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Penciptaan dari kerajinan tangan sudah ada sejak sebelum manusia mengenal tulisan, kurang lebih perkiraan dari terciptanya adalah 8000 tahun sebelum masehi. Contoh kerajinan tangan yang dihasilkan oleh masyarakat Brunei Darussalam yakni keris, kain tenunan, dan masih banyak lagi yang memiliki nilai guna bagi masyarakatnya.
Pada awal abad ke-7 diperkiraan terdapat bukti mengenai hasil dari kerajinan tangan diBrunei. Menurut kajian antropologi bahwa ditemukannya artefak alat pembuatan kain tenun seperti alat pemintal benang, alat tenun, bekas pencelup kain, dan sebagainya pada tahun 1952-1952 diKota Batu.
Hal tersebut sudah merupakan bukti yang kuat bahwa pada abad ke-7 masyarakat Brunei sudah melakukan aktivitas membuat kerajinan tangan yang dilakukan sehari-hari. Selain bukti alat pembuat kain tenun, terdapat juga alat berbahan logam untuk cetakan membuat senjata.

Dari bukti-bukti yang telah ditemukan arkeolog di wilayah Brunei Darussalam, merupakan sebuah bukti bahwa masyarakat Brunei pada saat itu memiliki keahlian untuk membuat kerajinan tangan seperti kain tenun dan barang-barang dari bahan logam.
Menurut catatan sejarah dari para pengembara, bahwa keahlian yang dimiliki masyarakat Brunei pada masa itu sebagian besar berada diKampung Ayer. Kampung ini merupakan sebuah pusat kebudayaan dan pusat perekonomian.
Asal usul dari kerajinan tangan Brunei ini tidak lepas dari pengaruh asing seperti pengaruh dari China, India, serta Jawa. Karena pada saat itu Brunei Darussalam pernah merupakan salah satu pelabuhan penting yang sering disinggahi oleh para pedagang dari China dan India.
Pengaruh asing juga terlihat dalam penempatan komponen di hasil kerajinan tangan seperti motif binatang pada barang-barang dengan bahan logam. Komponen asing yang tidak biasa menambah kesan variasi kerajinan tangan dari Brunei unik dan menarik. Kerajinan tangan yang dihasilkan oleh masyarakat Brunei bukan hanya dipakai oleh masyarakat biasa, melainkan juga dipakai untuk barang-barang kerajaan dan perlengkapan istana.
Contohnya tombak, pedang, perisai yang digunakan oleh pengawal. Bahkan barang-barang raja seperti keris dan pakaian dari kain tenun merupakan hasil kerajinan tangan masyarakat Brunei Darussalam. Selain itu, fungsi kerajinan tangan bagi raja yakni dijadikan sebagai adat-istiadat seperti alat perhiasan yang digunakan saat upacara-upacara penting di istana.
Bagi masyarakat Melayu, kerajinan tangan bukan hanya dari nilai guna saja, tetapi juga dilihat dari nilai fungsi ekspresif. Dari keseimbangan fungsi-fungsi tersebut memberikan nilai yang lebih jauh tinggi dari hasil kerajinan tangan tersebut.
Maka dari itu, kerajinan tangan yang dihasilkan dari masyarakat Brunei ini harus memperhatikan adat-istiadat, kebudayaan, dan kesenian yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Sehingga kerajinan tangan yang dihasilkan memiliki ciri khas tersendiri yang melambangkan jati diri dan tradisi Melayu yang merupakan identitas dari Negara Brunei Darussalam.





Sumber : kumparan.com

0 comments: