Kisah Sarah dari Sarah The Label yang Baju Batiknya Diantre Ratusan Pembeli

Senin, April 25, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Jakarta - Wanita ini berhasil membuat busana batik khas Indonesia menjadi berbeda dengan sentuhan warna pastel. Setiap mengeluarkan koleksi terbaru, karyanya selalu diburu oleh pembeli setia.

Ialah Sarah Syatha, pemilik brand Sarah The Label. Akun Instagram Sarah The Label saat ini memiliki lebih dari 371 ribu followers. Setiap merilis koleksi melalui unggahan di Instagram, langsung mendapat ratusan komentar dari mereka yang ingin membeli baju tersebut.

Busana buatan Sarah begitu laris manis sampai-sampai pembeli mengeluh emosi di kolom komentar Instagramnya karena sulitnya mendapatkan koleksi terbaru Sarah The Label. Bahkan ada juga yang sudah menghubungi jasa titip atau jastip tetap tidak mendapatkan koleksi Sarah The Label.

Ciri khas rancangan Sarah The Label adalah bahan batik viscose dan bernuansa pastel. Motif batik buatannya disesuaikan dengan selera generasi milenial.

Bagaimana kisah di balik kesuksesan Sarah membangun bisnis batik lewat brand Sarah The Label?

Baca juga: Ini Wanita di Balik Sukses Brand Rahina, Jual Ribuan Hijab Dalam Sekejap
Wolipop berbincang dengan pemilik Sarah The Label, Sarah Syatha, belum lama ini. Dia menceritakan awal mula membangun bisnisnya melalui jualan online. Saat itu dia justru bukan menjual busana muslim batik.

"Awal mulanya jualan online dari awal kuliah, tapi produknya malah baju renang. Justru bukan busana Muslim. Dulu aku masih belum berhijab. Kenapa baju renang? Karena mulai keresahan diri sendiri mau liburan cari baju renang kok susah gitu kan? Akhirnya aku jualan baju renang," ungkap Sarah Syatha ketika ditemui Wolipop di Kota Kasablanka, Jakarta Selatan.

Sarah menjual koleksi baju renang sekitar enam tahun. Seiring berjalannya waktu, Sarah memutuskan untuk berhijab sekitar tahun 2017.

Setelah mantap berhijab, Sarah sering menemukan kendala jika ingin menentukan busana untuk ke acara pernikahan. Batik selalu menjadi andalannya ketika ingin ke acara pernikahan. Namun dia merasa tidak menemukan model batik yang kekinian.

"Aku merasa batik modelnya terlalu tua nggak modern, dari situ tercetus ide untuk menjual batik dengan sentuhan modern yang bisa cocok dipakai oleh anak muda," ucap Sarah.

Sarah saat itu berjualan online sambil sibuk kuliah. Ia dibantu sang ibu ketika memulai bisnis menjual baju batik. Mereka menghampiri pengrajin batik, mempelajari batik, mulai dari tahap pemilihan bahan dan proses produksi.

"Kita mencoba produksi kecil-kecilan, alhamdulillah walaupun masih merintis tapi peminatnya langsung ada. Walaupun kita produksi sedikit langsung habis. Kita tambah produksi langsung habis lagi," kenang Sarah.

Pada 2015, koleksi Sarah The Label awalnya didominasi pembeli dari Malaysia. Setiap Sarah mengeluarkan koleksi terbaru, pembeli setia dari Malaysia langsung membeli produk.

"Dia beli terus sepertinya dia jual lagi di sana. Aku nggak ngerti juga karena saat itu belum ada pembatasan order. Kita berjalan terus semakin banyak peminatnya, kita mulai bazar juga," ucap Sarah.

Sarah kelahiran 10 Oktober 1994 itu mengaku rutin menggelar bazar secara offline, agar pembeli bisa melihat langsung koleksinya. Perlahan pelanggannya semakin bertambah.

Produk Sarah semakin dikenal karena rutin membuat konten di media sosial. Seperti apa kisahnya?
Semakin Cuan Berkat Konten di Reels dan TikTok
Sarah menuturkan tahun lalu merupakan titik balik dari Sarah The Label. Saat itu, ia masih bisa mengatur permintaan pelanggan dan menambah jumlah produksi karena banyaknya permintaan.

"Setelah Lebaran tahun lalu mulai dari Agustus atau September 2021, kita mulai aktif bikin konten di Reels dan TikTok. Nah, itu ternyata jadi daya tarik tersendiri," kata Sarah.

Semenjak konsisten membuat konten Reels dan TikTok, jumlah pengikut dan kedekatan dengan pengikut semakin meningkat drastis.

"Kita sering Live di Instagram juga, tahun lalu followersnya masih 90 ribu, sekarang 350 ribu followers dalam setahun. Makanya tahun ini benar-benar kita sudah kewalahan banget," kata Sarah.

"Padahal cepat lah lihat demand banyak langsung naikin jumlah produksi, tingkatin produksi, tapi ternyata sampai kapasitas kita sudah saat ini maksimal banget, demand kita tidak bisa ke handle benar-benar sudah lost banget," tuturnya panjang kebar.

Sarah mengatakan terpaksa memberlakukan peraturan pembatasan setiap pemesanan produk karena begitu banyaknya pembeli. Konsumen yang mau membeli Sarah The Label wajib memakai nomor antre.

"Supaya teratur minimal pembelian tidak ada, tapi kalau maksimal satu orang boleh membeli empat pieces saja. Tidak boleh lebih dari itu, soalnya banyak oknum yang memanfaatkan situasi tersebut," sebutnya.

"Jadi banyak oknum yang memblock stock kita, mereka berani bermodal dan membeli stock kita 10-20 pieces. Kemudian mereka menjual lebih malah sekitar 200-300 ribu lebih mahal dari harga awal. Kalau kayak gitu end user kita marah dong ya? Nggak kebagian stock, pas sudah dicari harganya sudah melambung tinggi. Jadi kita nggak mau, tujuan kita kan ke end user. Salah satunya cara ya dengan pembatasan order, jadi stocknya bisa merata," tutur Sarah panjang lebar.

Alumnus Universitas Indonesia, Fakultas Farmasi ini menjelaskan jasa titip atau jastip baru muncul pada tahun 2021. Sarah sebelumnya kerap menggunakan jastip untuk membeli koleksi merek busana muslim lain.

Ia tak menyangka jika produknya merasakan posisi yang sama dengan brand yang koleksinya selalu menjadi rebutan. "Karena selama demand masih terpenuhi jastip tidak akan muncul, karena satu tahun ini demandnya semakin meningkat, jastip tahu kalau produk kita banyak diminati," sautnya.

Demi memenuhi permintaan konsumen, untuk koleksi Lebaran 2022, Sarah sudah mempersiapkannya sejak setahun lalu. Dia merilis koleksi batik printing untuk baju Lebaran 2022 Sarah The Label.

"Koleksi kita ini batik bukan batik printing, sampai bahan kainnya pun di cap satu per satu, ratusan pengrajin yang bekerja sama dengan kita, nggak bisa asal sulap mesin, ini kan tenaga manusia yang dipakai. Makanya persiapannya sudah dari tahun lalu," kata Sarah terharu.

Foto Sarah sedang siaran langsung di Instagram, menjual koleksi Sarah The Label.. Foto: Dok. Instagram @sarah_thelabel.
Sarah mengungkapkan jumlah produksi untuk Lebaran 2022 sudah ditingkatkan hingga 10 kali lipat. Namun tetap saja untuk mendapatkan koleksi Sarah The Label pada Lebaran ini, konsumen harus berebut atau bahkan menggunakan jastip.

Koleksi Sarah yang diminati pembeli, muncul penjual yang tidak bertanggung jawab yang menjiplak desain koleksi Sarah The Label. Ia pun menanggapi fenomena tersebut.

"Saat ini tim jahit inhouse, ada sekitar 40 orang. Pasti ada kalau kita jualan, kita nggak pernah ambil pusing, apalagi produk viral pasti cepat banget ada copy-annya. Kita nggak pernah tengok kanan-kiri dan terus terobosan baru. Pelanggan kita tahu kok kualitas kita dan kita yang pertama kali bikin," tegasnya.

Bagi kamu yang ingin mengikuti jejak Sarah sebagai pengusaha muda, wanita berhijab ini memberikan beberapa tips. Menurutnya kunci kesukesan berbisnis adalah ketekunan.

"Harus tekun aja, mungkin nggak segampang dulu kan belum banyak saingan ya. Pada saat aku baru mulai, kalau sekarang tekun dan memperhatikan kualitas produk, harga tentunya. Produk aku dibilang murah juga nggak, range harga produk kita di atas Rp 500 ribu. Mungkin orang tahu value produknya, worth it dan menjaga engagement dengan pelanggan," pungkasnya.

Sumber :detik

0 comments: