Mengenal Kaum Sapeur di Kongo, Rela Enggak Makan demi Gaya Hidup Mewah

Senin, April 04, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Kaum Sapeur di Kongo yang rela enggak makan asal fashionabel.
Foto: Katja Tsvetkova/Shutterstock

Sepatu berbahan kulit sapi sudah dikenakan, sapu tangan pemanis sudah terselip di saku jas, dasi kupu-kupu sudah terpasang di kerah baju. Begitulah kira-kira penampilan salah seorang kelompok penggila fesyen di Kongo.

Mereka bukanlah si kaya raya yang bisa dijuluki sebagai Crazy Rich Africans. Mereka juga bukan model papan atas dengan pendapatan di atas rata-rata, tetapi mereka dikenal sebagai Sapeur.
Mengenal Kaum Sapeur di Kongo, Rela Enggak Makan demi Gaya Hidup Mewah (1)
Ilustrasi pernikahan di Kongo. Foto: lydia/Shutterstock
Sapeur adalah kalangan penggila mode yang mengusung gaya hidup mahal dan boros, terutama untuk pakaian. Kata 'Sapeur' merupakan penyebutan diri bagi penduduk Kongo yang melakukan gaya hidup mewah La Sape.
La Sape yang merupakan sebuah singkatan dari bahasa Prancis yang berarti La Société des Ambianceurs et des Personnes Élégantes atau Society of Atmosphere-setters and Elegant People.
Para Sapeur berjalan di kawasan kumuh Brazzaville mengenakan setelan jas warna-warni, topi, sepatu kulit, kacamata hitam, dan payung. Mereka tampil layaknya pria kelas atas Eropa yang mengenakan busana dan aksesori mewah lainnya.
Setiap akhir pekan, para Sapeur berkumpul di tepi jalan yang dipadati pedagang kaki lima.
Lalu, bagaimana asal-usul La Sape, benarkah banyak dari mereka yang rela enggak makan asal bisa tampil mewah?

Asal-Usul La Sape di Kongo

Paham La Sape atau yang disebut juga sebagai Sapeurisme datang bukan dengan sendirinya. Tetapi melalui kolonialisme yang terjadi pada masa penjajahan Belgia dan Prancis.
Dilansir Culture Trip, kabarnya di masa lampau, para majikan Prancis dan Belgia di Kota Brazzavile dan Kinshasa di Kongo tidak diberi upah berupa uang, melainkan pakaian atas kompensasi mereka. Para pekerja tersebut kemudian beradaptasi dengan meniru fesyen yang dianut tuan mereka.
Sedangkan Hannah Rose Steinkopf-Frank dalam artikelnya yang berjudul La Sape: Tracing the History and Future of the Congo's Well Dressed Men, fenomena la Sape dibentuk oleh remaja asal Kongo yang pindah ke Paris, Prancis.
Remaja yang bernama Jean Marc Zeita itu membentuk perkumpulan imigran muda asal Kongo bernama Aventuries. Dalam Aventuries, para remaja meniru cara berpakaian orang Prancis, kemudian dibawa pulang ke kampung halaman. Dengan cara ini, para Sapeur di Paris akan terlihat seperti orang sukses saat kembali ke negara asalnya. Mereka tidak peduli dengan kestabilan pekerjaan dan finansial, asalkan memiliki prestise sosial yang tinggi di tengah masyarakat Kongo lainnya.


Hingga saat ini, la Sape masih memiliki banyak penggemar dan juga anggota. Walau untuk makan saja susah karena tak punya uang, Sapeur tetap mempertahankan gayanya dan seakan tak punya beban hidup.
Baju-baju yang dimiliki Sapeur adalah baju-baju asli yang diberi secara seken dengan menggunakan uang yang berasal dari pinjaman bank. Bagi yang tidak memiliki dana, mereka bisa mengenakan pakaian dari jasa peminjaman baju.
Hal itu pula yang dilakukan oleh seorang pensiunan bernama Severin Mouyengo. Ia mengaku meminjam uang sekitar 6.000-8.000 dolar Amerika Serikat (AS) atau hampir 86-114 juta.
“Saya Sape setiap hari. Itu membuat saya lupa segalanya,” kata Mouyengo, seorang pensiunan penganut gaya hidup La Sape seperti dikutip BBC.
"Ini membawa kedamaian dan ketenangan bagi semua orang. Saya tidak melihat bagaimana orang di La Sape bisa melakukan kekerasan atau berkelahi. Perdamaian sangat berarti bagi kami," imbuhnya.
Apabila salah satu di antara mereka ketahuan menggunakan barang KW atau palsu, maka hal tersebut dianggap sebagai suatu penghinaan. Untuk itu, para Sapeur dilarang menggunakan barang KW atau palsu.

La Sape dan Kepuasan dalam Diri

Para penganut la Sape bukanlah persoalan memiliki barang atau uang. Melainkan perasaan puas, diakui, dielu-elukan layaknya selebritas, dan juga sebagai sarana memenuhi esteem need (kebutuhan akan penghargaan).

Bahkan karena terjadi secara turun-temurun, la Sape seakan telah menjadi salah satu subkultur masyarakat Kongo. Penganutnya beragam, mulai dari para pria dan wanita dewasa, remaja, hingga anak-anak.
Seakan menjadi tradisi, la Sape yang bukan berasal dari budaya asli masyarakat berhasil 'menggeser' eksistensi tradisi Kongo lainnya. Dilansir Fodors, la Sape bahkan dianggap lebih dari sekadar subkultur.
la Sape dilihat sebagai budaya Kongo yang mencolok dan mampu menembus berbagai dimensi, seperti: politik, seni, ekonomi, dan komunikasi. Karena politisi dan musisi menghormati fenomena ini, dan Sapeur pun memiliki kelompok la Sape-nya tersendiri.
Bagaimana menurutmu? Tertarik untuk melihat langsung la Sape dan Sapeur-nya di Kongo?
Sumber : okezone.com

0 comments: