Penduduk Shanghai Sulit Akses Makanan di Tengah Lockdown

Selasa, April 26, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Penduduk Shanghai Sulit Akses Makanan di Tengah Lockdown
BBC

"Saya membayar 400 Yuan (Rp883.000) untuk dua daging babi busuk." Seorang warga Shanghai, Will Liu, merasa kesal dengan makanan yang dia pesan secara daring selama pekan kedua karantina wilayah alias lockdown di kota itu.

China tengah berupaya mencapai target bebas Covid-19. Shanghai kini telah memasuki pekan kelima karantina wilayah untuk memberantas Covid-19 di kawasan sentra bisnis dan finansial yang dihuni oleh 25 juta orang.

Berdasarkan pedoman pemerintah, setiap orang harus memesan lebih dulu makanan dan minuman, kemudian menunggu pengiriman sayur, daging, dan telur dari pemerintah.

Namun perpanjangan masa karantina wilayah telah membanjiri permintaan layanan pengiriman, toko kelontong online, bahkan distribusi pasokan pangan dari pemerintah.

Sementara seorang mahasiswi Indonesia yang telah kuliah selama lima tahun di ibu kota finansial China itu mengatakan sempat mengalami kesulitan di awal lockdown.

Celline Topan, yang tengah mengambil S2 untuk periklanan, mengatakan sejak minggu terakhir Maret, ia belum keluar dari apartemen tempat tinggalnya. Sebagai persiapan lockdown, saat itu ia membeli persediaan makanan yang kemudian sempat menipis karena lockdown terus diperpanjang.

"Pertamanya itu pemerintah sini bilang akan lockdown selama lima hari, tapi habis lima hari itu, sampai sekarang sekarang masih dilockdown terus. Jadi di awal pemerintah gak kasih tahu akan dilockdown sampai kapan," kata Celline kepada BBC News Indonesia.

Celline mengatakan sempat menangkap kekesalan warga, terutama pada awal lockdown, yang kini telah masuk minggu kelima.

"Di awal-awal banyak banget kekurangan barang, kita gak bisa makan, kekurangan bahan pokok seperti sayur-sayuran, daging dan lain-lain. Tapi abis itu pemerintah memberikan bahan pokok gratis, tiap minggu mereka kasih. Jadi sekarang, menurutku sudah mulai stabil," tambah Celline. Untuk kuliah, ia mengikuti secara daring.

Konsul Jendral Indonesia di Shanghai, Denny Kurnia mengatakan saat ini diperkirakan terdapat sekitar 300 WNI di kota itu melalui pantauan sejauh ini dengan kemungkinan ada WNI yang tidak lapor atau tidak masuk grup Wechat.

Denny juga mengatakan kepada BBC News Indonesia, "sejauh ini tidak ada kasus WNI yang khusus minta makanan karena tidak memiliki."

Di luar pengalaman mahasiswi Indonesia, Celline Topan itu, BBC menerima banyak pesan termasuk melalui pesan pribadi dari Shanghai mengenai betapa sulitnya memperoleh makanan dan obat-obatan sejak karantina wilayah dimulai.

Layanan pesan-antar makanan kewalahan

Will Liu, 28, yang berasal dari Taiwan telah menetap di Shanghai selama hampir tujuh tahun. Kepada BBC China, dia mengatakan bahwa pandemi tidak banyak mengubah kehidupannya sampai akhir Maret lalu.

"Pemerintah terus memperpanjang karantina wilayah yang seharusnya berlangsung lima hari menjadi lebih panjang. Kehidupan semua orang menjadi kacau," kata dia.

Will telah menyiapkan cukup makanan untuk karantina wilayah selama lima hari, sesuai durasi yang awalnya diumumkan oleh pemerintah.

Dia hanya memiliki microwave untuk memasak di rumahnya, sehingga ketika karantina terus diperpanjang, Will pun kehabisan makanan.

"Pada pekan kedua karantina wilayah, saya menemukan iklan dari situs pesan antar yang menjual daging babi seharga 400 Yuan (Rp883.000). Saat itu saya sangat lapar, sehingga saya memesannya. Ternyata yang saya dapatkan adalah dua potong daging babi busuk."

"Saya akhirnya bisa mendapatkan uang saya kembali, tetapi saya merasa kecewa dengan semua ini."

Di media sosial Weibo -yang digunakan luas di China—serta sejumlah media sosial lainnya, mulai banyak unggahan mengenai sulitnya mendapatkan makanan di Shanghai sejak karantina wilayah dimulai secara parsial pada 5 April.

"Di rumah kami ada sejumlah sayuran, tetapi kulkas kami rusak sehingga satu-satunya pilihan adalah menyimpan sayur mayur itu di luar kulkas. Sayuran itu mulai busuk, tapi kami tetap harus mengonsumsinya. Kalau tidak, kami bisa mati kelaparan," tulis salah satu pengguna dalam unggahannya.

"Hari ini adalah hari ke-12 karantina wilayah di distrik Puxi. Selama 12 hari ini, saya hanya bisa mendapatkan 10 kilogram beras di Dingdong [sebuah layanan pesan antar]. Orang-orang sangat khawatir kapan mereka bisa mendapat makanan."

Membeli makanan secara kolektif

"Empat atau lima hari setelah karantina wilayah berlaku, penduduk di lingkungan masing-masing mulai membeli makanan secara kolektif dan mendistribusikannya di lingkup tempat tinggal mereka. Semua orang saling membantu."

Dalam pesan yang dikirim secara pribadi ke situs BBC News China, sejumlah warga mengkritik respons pemerintah dalam mengatasi penyebaran varian Omicron di wilayah tersebut. Sejumlah orang lainnya menyatakan tidak sepakat dengan peliputan media Barat.

Trik memesan makanan secara daring

Karantina wilayah membuat Will telah mempelajari sejumlah trik yang membuatnya cukup berhasil untuk memesan makanan secara daring.

"Saya menggunakan pompa pijat untuk menyentuh layar ponsel. Alat itu bisa menekan tombol ratusan kali dalam satu menit, sehingga lebih efisien bagi saya ketika memesan makanan."

"Saya dan teman-teman saya telah menerima bantuan dari teman-teman kami di luar Shanghai untuk mengatasi kekurangan. Kami hanya makan sekali sehari saat ini."

Shanghai telah mencatat sekitar 400.000 kasus Covid-19 selama lonjakan akibat varian Omicron. Angka kematian harian pada Minggu (24/4) sebanyak 39. Rata-rata kasus kematian itu merupakan orang tua dan orang yang tidak bisa divaksinasi karena alasan kesehatan.

Sejumlah orang mempertanyakan apakah pembatasan seketat itu diperlukan.

Pasien dengan kebutuhan medis lainnya 'diabaikan'

Seorang profesor berusia 50-an di Shanghai, Zhang Le (yang namanya diubah demi melindungi identitasnya), mengatakan kepada BBC bahwa pasien dengan kebutuhan medis lainnya telah diabaikan. Selain itu dia menuduh pemerintah tidak mengikuti sains.

"Saya tinggal dengan jarak lima blok dari orang tua saya. Keduanya berusia sekitar 80 tahun. Saya membeli sejumlah makanan beku untuk mereka pada masa awal (karantina wilayah). Mereka memiliki asisten rumah tangga di rumah. Pada 1 April, asisten rumah tangga mereka berhasil mendapatkan sejumlah sayuran dari pasar.

"Orang tua saya bercerita bahwa mereka telah menerima empat pengiriman makanan sejauh ini. Orang tua saya dan asisten rumah tangga mereka tidak kelaparan."

Penanganan medis jangka panjang

Zhong mengatakan bahwa meskipun orang tuanya tidak terkendala mengakses makanan, dia khawatir mengenai persoalan kesehatan jangka panjang.

"Ayah saya menderita sakit parah karena tidak bisa ke rumah sakit demi mendapatkan obat penghilang rasa sakit khusus yang dia butuhkan. Ayah saya adalah pasien kanker.

"Sedangkan ibu saya membutuhkan Betaloc untuk hipertensi yang dia idap. Ibu tidak bisa ke rumah sakit untuk mendapatkan resepnya. Dia harus mengurangi dosis yang dikonsumsi agar tidak kehabisan. [Pada 20 April] dewan lokal memberi resep kepada ibu saya, tapi ternyata obatnya berbeda."

Kekhawatiran saat mengantre tes

Zhong juga khawatir dengan kondisi orang tuanya ketika harus mengantre dengan orang lain untuk mengikuti tes Covid-19 yang wajib.

"Dalam kurun 1 hingga 21 April, kami dites lima belas kali. Saya sangat khawatir orang tua saya akan terinfeksi karena antrean yang ramai. Video yang beredar menunjukkan petugas medis yang melakukan tes berpindah dari orang ke orang, melakukan tes usap tanpa mengganti atau mendisinfeksi sarung tangan mereka."

"Saya meminta orang tua saya untuk tidak mengantre demi tes, namun mereka khawatir ditangkap karena itu. Minggu lalu, petugas tes setuju untuk berkunjung ke rumah dan mereka sudah datang ke rumah orang tua saya sekali."

Zhong tidak hanya mengkhawatirkan orang tuanya.

"Sepupu saya menjalani operasi kanker hati empat bulan lalu dan ada indikasi pertumbuhan tumor lainnya, tapi dia tidak bisa ditangani lebih lanjut karena semua tenaga medis fokus mencegah orang-orang terinfeksi [Covid].

"Akses terhadap makanan dan karantina tidak terlalu membuat saya khaawtir, tapi yang paling saya khawatirkan adalah pasien tidak mendapatkan perawatan medis dan obat-obatan."

Dia menganggap pemerintah telah mempertaruhkan nyawa, yang sebetulnya bisa dihindari.

"Saya pikir sangat konyol mengerahkan semua sumber daya untuk mengatasi virus yang mirip flu ini. Di negara lain, pemerintahnya mendengar pendapat para ilmuwan. Di negara ini, para ilmuwan yang mengikuti pemerintah. Orang-orang dengan masalah kesehatan lainnya jelas-jelas menderita."

Rumah Sakit Darurat Fang Cang

Seluruh penduduk harus menjalani tes Covid-19 secara berkala. Apabila hasil tes positif, maka Anda akan dikarantina di Fang Cang --rumah sakit darurat yang dikelola oleh pemerintah— setidaknya selama dua minggu.

Banyak orang melampiaskan rasa frustasi dan kemarahan mereka melalui media sosial. Sejumlah video beredar di media sosial Tiongkok menunjukkan orang-orang berteriak meminta makanan dan obat-obatan.

Senada dengan banyak komentar yang diunggah di media sosial, Will Liu mengatakan ketakutan terbesarnya bukan lah terinfeksi Covid-19, melainkan dikirim ke Fang Cang.

'Bawa obatmu sendiri'

Unggahan dan gambar-gambar mengenai Fang Cang di Shanghai terus meningkat di Weibo sejak masa awal karantina wilayah berlaku.

Sebuah unggahan baru-baru ini, dari orang yang mengaku sebagai seorang profesional di bidang medis yang sedang berada di Fang Cang pun sangat penting.

"Orang-orang bertanya pengobatan apa yang ditawarkan di Fang Cang. Saya pun awalnya penasaran. Ketika saya baru masuk (karantina), saya tidak enak badan, tapi saya merasa tidak butuh obat.

"Orang-orang bertanya pengobatan apa yang ditawarkan Fang Cang. Saya juga penasaran pada awalnya. Ketika saya masuk, saya tidak merasa tidak enak badan; tidak merasa membutuhkan obat. Esok harinya perawat memberi semua orang sekotak [obat tradisional Tiongkok yang diklaim efektif untuk infeksi Covid]. Saya tidak meminumnya."

"Pada hari ketiga, seorang gadis kecil di seberang saya kedinginan saat mandi. Dia demam pada malam hari. Saya memberi tahu ibunya bahwa gadis itu harus minum obat pereda demam, tetapi perawat mengatakan mereka tidak memilikinya. Untungnya saya membawa beberapa dan memberikan beberapa kepada gadis kecil itu."

"Pada hari keempat, kami diberi dua kantong obat tradisional Tiongkok. Saya perhatikan tidak ada informasi mengenai bahan dan risiko efek sampingnya. Saya juga tidak meminum obat itu."

Dia pun menyarankan agar orang-orang yang masuk ke karantina Fang Cang untuk membawa obat pereda demam sendiri untuk berjaga-jaga.

Dia memiliki beberapa saran sederhana untuk siapa saja yang masuk ke karantina.

"Kita harus mengandalkan diri kita sendiri," ujarnya.

Sumber : Suara.com

0 comments: