Taiwan Petik Pelajaran dari Perang Ukraina-Rusia, Bersiap Hadapi Ancaman China

Rabu, April 27, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Sebuah jet tempur F16 bersenjata buatan AS lepas landas dari jalan raya di Pingtung, Taiwan selatan, selama latihan tahunan Han Kuang pada 15 September 2021. Foto: Sam Yeh/AFP
Invasi Rusia ke China menjadi pelajaran penting bagi Taiwan. Kepala Departemen Operasi Gabungan Kementerian Pertahanan Taiwan, Lin Wen-huang, pada Rabu (27/4) mengatakan, latihan militer Han Kuang tahun ini akan mengambil pelajaran terkait konflik kedua negara di Eropa tersebut.
Latihan Han Kuang merupakan latihan gabungan militer Taiwan yang bertujuan untuk memberikan simulasi perang menghadapi China. Han Kuang diselenggarakan rutin setiap tahun.
"Tentu saja, kami akan terus mencermati perang Rusia-Ukraina dan pergerakan militer Komunis China, dan akan melakukan latihan," kata Lin Wen-huang kepada wartawan seperti dikutip dari Reuters.
Sebuah E2K Early Warning Aircraft (EWA) buatan AS lepas landas dari jalan raya di Pingtung, Taiwan selatan, selama latihan tahunan Han Kuang pada 15 September 2021. Foto: Sam Yeh/AFP
"Dengan mempertimbangkan pelajaran dari perang Rusia-Ukraina, militer akan terus maju untuk meningkatkan penggunaan perang asimetris, perang kognitif, operasi perang informasi dan elektronik, dan penggunaan cadangan dan kekuatan penuh bangsa," tambah dia.
Perang kognitif mengacu pada bagaimana informasi dapat memengaruhi moral, sesuatu yang Taiwan katakan sudah dihadapinya dari China.
Sementara perang asimetris adalah tentang mengerahkan senjata yang memiliki tingkat mobilitas tinggi dan terkadang berteknologi rendah. Senjata ini sulit dihancurkan dan dapat memberikan serangan presisi.
Tentara Taiwan mengoperasikan senjata self-propelled M109A2 buatan AS selama latihan militer tahunan Han Kuang di Taichung, Taiwan, pada 16 Juli 2020. Foto: Sam Yeh/AFP
Taiwan, yang diklaim oleh China sebagai wilayahnya sendiri, telah meningkatkan tingkat kewaspadaannya sejak Rusia memulai invasinya ke Ukraina.
Taiwan khawatir, suatu saat Beijing dapat melakukan serangan serupa terhadap mereka. Negeri Formosa itu bahkan dikabarkan telah mereformasi cadangannya untuk membuat pasukannya lebih efektif dalam pertempuran.
Kendati demikian, Taiwan hingga kini telah memastikan tidak ada tanda-tanda serangan akan terjadi.

Amerika Serikat Turut Andil dalam Latihan Militer Taiwan

Menhan Taiwan Chiu Kuo-cheng. Foto: Sam Yeh/AFP
Menurut Menteri Pertahanan Taiwan Chiu Kuo-cheng, perdebatan tentang pelajaran yang dapat dipetik dari perang Ukraina telah menyebar secara luas di kalangan militer Taiwan. Mereka bahkan mendiskusikan hal tersebut dengan pasukan Amerika Serikat (AS).
Sebagai pendukung internasional terpenting dan pemasok senjata Taipei, AS juga telah menyaksikan dampak strategis bagi Taiwan dari perang Ukraina.
AS pun mengaku telah mempertimbangkan bagaimana pulau itu harus mempersiapkan diri dari ancaman invasi China.
Wakil penasihat keamanan nasional selama pemerintahan Trump, Matthew Pottinger mengatakan Taiwan perlu untuk mengikuti jejak Ukraina dalam hal melatih penembak jitu dan membuat alat peledak improvisasi atau IED.
"Dan masih banyak lagi yang harus dilakukan Amerika Serikat di lapangan di Taiwan," kata Pottinger dalam forum yang diselenggarakan oleh Foundation for Defense of Democracies, menurut transkrip yang diterbitkan pada Selasa (26/4).
"Saya tidak peduli apakah mereka mengenakan seragam AS atau tidak. Mereka dapat muncul dengan sepatu mandi dan sandal jepit dan kemeja Hawaii untuk semua yang saya pedulikan. Mereka harus berada di lapangan secara intensif membantu melatih Taiwan," sambung dia.
Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen. Foto: REUTERS/Tyrone Siu
Meskipun jarang diberitakan, AS telah banyak membantu melatih personel militer Taiwan. Presiden Taiwan Tsai Ing-wen menyebut, sejumlah kecil pasukan AS telah berada di Taiwan untuk berlatih dengan tentaranya.
China telah menolak perbandingan apa pun antara Ukraina dan Taiwan. Mereka bersikukuh mengeklaim Taiwan sebagai bagian dari China dan bukan negara merdeka.
China telah meningkatkan tekanan militernya terhadap Taiwan selama dua tahun terakhir ini.
Taiwan menolak klaim kedaulatan China dan mengatakan hanya penduduk pulau itu yang dapat memutuskan masa depan mereka.
Sumber : kumparan.com

0 comments: