Cerita Pemeran Hantu Film KKN di Desa Penari, dari Kesurupan hingga Dibayar Rp75 Ribu

Jumat, Mei 20, 2022 Majalah Holiday 0 Comments


JAKARTA - Film KKN di Desa Penari kini tengah menjadi trending karena paling banyak ditonton. Dusun Ngluweng Kalurahan Ngleri Kapanewon Playen Gunungkidul menjadi lokasi perkampungan Desa Penari yang ada dalam film tersebut.

Ternyata, tak hanya dijadikan lokasi syuting saja namun banyak warga yang dilibatkan menjadi figuran dalam film tersebut. Sekitar 50 warga Dusun Ngluweng dan sekitarnya yang terlibat, mereka berperan menjadi hantu dan juga warga sekitar.

Salah satunya adalah Subardo (51), ia juga ikut syuting menjadi hantu. Berbagai pengalaman ia rasakan baik mistis ataupun hal lain. Pengalaman pertama kali yang tidak akan bisa ia lupakan selama hidupnya.

"Saya itu didapuk (diminta) jadi hantu. Ternyata capek ikut syuting itu," kenangnya

Betapa tidak, meskipun perannya hanya sebentar muncul di layar namun ia harus berjuang sehari semalam. Make up yang menutup wajahnya tidak boleh dihapus dalam 24 jam. Ketika menunggu giliran syuting, ia dan puluhan orang lainnya harus berada di dalam bus dengan AC tetap hidup. Tujuannya agar make up tersebut tidak hilang.

Tak hanya itu, ketika proses syuting dilaksanakan, ia tidak boleh berkedip atau bahkan memejamkan mata. Jika terlanjur berkedip maka syuting harus diulang kembali. Tak hanya itu, gerakan sekecil apapun ketika tidak sesuai maka akan diulang pengambilan gambarnya.

"Bayangkan mata tak boleh berkedip dalm waktu yang lama. Kami dibayar Rp 75 ribu sekali pengambilan gambar," terangnya.

Untuk syuting pesta tarian yang dilakukan para hantu tidak dilaksanakan di Dusun Ngluweng, melainkan di Joglo tengah Hutan Wanagama. Lokasi tersebut berdekatan dengan sendang tempat Bima bercinta dengan Ayu. Sendang tersebut berada di pinggir sungai Oya.

Dua orang sempat kesurupan ketika proses syuting film KKN di Desa Penari itu. Kesurupan pertama menimpa salah seorang kru saat syuting di rumah Ngadiyo, rumah utama film tersebut. Bahkan akibat kesurupan itu, kru harus dilarikan ke rumah sakit.

"Saya sendiri yang menunggui kru di rumah sakit. Kru itu harus dilarikan ke rumah sakit karena alami gangguan pernafasan,"terangnya.

Kesurupan kedua terjadi di Joglo Wanagama di mana lokasi pesta tarian para hantu dilakukan. Saat itu para krun dan juga figuran dalam film tersebut tengah menunggu giliran syuting mereka duduk di dekat Sendang di mana banyak sesajen diletakkan di tempat tersebut.

Entah apa yang memicu tiba-tiba ada salah seorang warga yang berperan menjadi hantu kesurupan. Namun kesurupan tersebut segera diatasi oleh dukun yang memang dibawa selama syuting film ini dilakukan.

"Mertua saya saja sampai perutnya sakit. Katanya masuk angin, cuma ketika dilihat secara mistis ternyata karena gangguan makhluk halus penunggu sendang. Beliau sampai meminta bantuan orang pintar untuk menyembuhkannya," ceritanya.

Peristiwa mistis lainnya yang dialami warga adalah ketika acara tahlilan sebagai bentuk syukuran selesainya syuting dilaksanakan. Warga merasa ketakutan ketika mengikuti tahlilan karena dilakukan di rumah Ngadiyo atau rumah utama film tersebut.

"Rasanya merinding wong bentuk kamar masih belum diubah kayak saat syuting," kata dia.

Sumber : okezone

0 comments: