Kisah Mistis Penelusuran Lokasi KKN Desa Penari (1)

Jumat, Mei 27, 2022 Majalah Holiday 0 Comments


Banyuwangi - Cerita dimulai dari Surabaya. Tempat di mana ide penelusuran soal lokasi KKN Desa Penari itu muncul. Tali sepatu dikencangkan dan ransel berisi alat dokumentasi menyatu dalam gendongan. Langkah demi langkah dimulai pada Jumat (20/5) malam.

Dari Stasiun Surabaya Gubeng, detikJatim berangkat ke Banyuwangi menggunakan KA Wijayakusuma pada pukul 23.35 WIB. Kereta tiba di Stasiun Banyuwangi Kota pada Sabtu (21/5) pukul 05.25 WIB.

Penelusuran soal lokasi KKN Desa Penari dimulai menjelang siang. Dalam penelusuran itu, Tim detikJatim ditemani dua teman di Banyuwangi. Kebetulan, salah satu teman, Mas R, memiliki kelebihan soal penglihatan. Ia dipercaya bisa melihat makhluk-makhluk tak kasat mata. Juga bisa berkomunikasi dengan makhluk gaib tersebut.

Penelusuran dimulai dari Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Tempat ini dipilih bukan tanpa alasan. Tapi sesuai dengan pengalaman pribadi Mas R sekitar 13 tahun yang lalu.

Mas R merupakan anak dari seseorang yang dipercaya bisa mengobati orang sakit. Terutama sakit yang dikaitkan dengan gejala nonmedis seperti kesurupan dan lain-lain. Pada 2009, Mas R mengaku pernah diminta mengantar sang ayah ke sebuah dusun di Kecamatan Glagah, untuk mengobati pasien. Dusun itu bukan di Desa Kemiren.

Masih melekat dalam ingatan, waktu itu sang ayah berkata kepada Mas R, bahwa yang sakit merupakan anak praktik (KKN). Waktu itu, sang ayah diminta membantu mengobati oleh orang yang dipercaya bisa mengobati di dusun tersebut. Orang itu bisa dibilang teman satu profesi sang ayah. Namun kala itu, dua orang itu gagal mengobati pasien tersebut. Sang ayah hanya mengatakan satu kata pada Mas R yaitu 'kasep' yang artinya telat.

Kemudian 10 tahun berselang atau pada 2019, kisah KKN Desa Penari viral. Berdasarkan petunjuk yang beredar, lokasi KKN itu berada di Banyuwangi.

Kabar itu membuat Mas R penasaran. Akhirnya ia diajak sang ayah untuk mendatangi dusun di Kecamatan Glagah kembali. Tepatnya pada Agustus 2019, Mas R hanya bisa bertemu dengan anak teman sang ayah, Pak J. Sebab teman sang ayah telah meninggal pada 2013.

Dalam pertemuan itu, anak teman sang ayah menunjukkan bukti-bukti yang mengarah pada kisah KKN Desa Penari. Mas R dikasih lihat sebuah berkas, di mana berkas tersebut berisi nama-mana peserta KKN yang mirip dengan nama-mana dalam kisah yang viral waktu itu.

Tak hanya itu, Mas R juga diberi kaus KKN berwarna merah. Dalam kaus itu tertera nama dan logo sebuah universitas di Surabaya. Kaus tersebut disebut-sebut sebagai kaus salah satu korban meninggal dalam kisah KKN Desa Penari.

Bukti-bukti tersebut menggugah detikJatim untuk mendatangi dusun tersebut pada pertengahan Mei 2022. Mas R akhirnya diajak untuk kembali bersilaturahmi dengan anak teman sang ayah. Namun sayang, Pak J sudah tidak terbuka seperti pada 2019.

Pak J mengakui pernah memberikan kaus KKN pada Mas R, namun ia seolah berdalih, kaus tersebut tidak ada kaitannya dengan kisah KKN Desa Penari yang tengah menjadi sorotan. Menurutnya, kaus itu hanya sekadar pemberian orang dan dikasihkan ke Mas R.

Jawaban Pak J yang dinilai kurang memuaskan, membuat tim semakin penasaran. Akhirnya penelusuran lokasi KKN Desa Penari tetap dilanjutkan di Kecamatan Gelagah. Tepatnya di Desa Kemiren.

Sampai di Desa Kemiren Sabtu (21/5) menjelang siang, tim langsung menuju Petilasan Buyut Chili. Di petilasan itu, Mas R mengaku mendapat seabrek bisikan gaib. Termasuk soal kisah KKN Desa Penari. Bisikan itu diterima Mas R dalam bahasa Osing. Kemudian Mas R menceritakannya kepada tim.

"Ada anak sekolah. Pria tiga, perempuan tiga. Yang empat sopan, yang dua kurang ajar. Bukan anak Banyuwangi," kata Mas R menceritakan bisikan dari makhluk gaib yang ada di Petilasan Buyut Chili.

"Sukma mereka (dua korban tewas dalam kisah KKN Desa Penari) terikat dalam perjanjian dengan dukun penyembah siluman ular. Kejadiannya di sini," imbuhnya.

Mas R juga mengaku mendapat petunjuk soal lokasi dua mahasiswa-mahasiswi yang melakukan pelanggaran (berhubungan layaknya suami istri). "Buyut marah. Aslinya, penghuni di sana mau menolong meski dua mahasiswa-mahasiswi itu melakukan pelanggaran. Tapi karena melakukan perjanjian dengan dukun, akhirnya tidak bisa ditolong," terangnya.

Kemudian saat turun dari Petilasan Buyut Chili, Mas R mengajak tim singgah di sebuah tempat di pinggir sungai kecil. Di tempat itu, Mas R berkomunikasi dengan sesosok makhluk gaib yang disebut kuntilanak.

Menurut Mas R, sosok tersebut juga membenarkan bahwa kisah KKN Desa Penari yang viral terjadi di sana. Tempat tersebut juga pernah digunakan peserta KKN untuk mandi dan bersih-bersih.

Di tempat tersebut, Mas R juga mengajak tim untuk merasakan kehadiran sosok kuntilanak tersebut. Mas R menjelaskan, keberadaannya bisa ditandai dengan bedanya hawa atau suhu sekitar.

"Coba Mas Detik, tolong gerakan tangannya dari atas ke bawah seperti sedang membelai rambut perempuan. Nah itu yang sampean belai itu rambut kuntilanak. Apakah sampean bisa merasakannya?" kata Mas R.

Namun sayang, dalam simulasi misteri tersebut, tim detikJatim tidak bisa merasakan perbedaan suhu yang signifikan. Tidak bisa merasakan kehadiran sosok kuntilanak.

Di lain sisi, Mas R tidak berani membuka mata batin tim agar bisa melihat sosok gaib tersebut. Sebab, risikonya lumayan besar.

"Mas, kok sampean tidak merasakan apa-apa. Padahal saya saja sudah merinding ini. Mungkin sampean terlalu menggebu-gebu kali ya, terlalu penasaran. Jadi susah merasakan kehadirannya. Ya sudah Mas jangan diteruskan, sepertinya kunti ini mulai suka sama sampean. Saya khawatir dia malah ikut sampean ke Surabaya nanti, ehehe," papar Mas R.

Bermodal hasil penelusuran secara gaib tersebut, tim akhirnya memutuskan untuk mencari fakta di Desa Kemiren. Tim mendatangi balai desa setempat dan bertemu dengan kades saat ini, Mohammad Arifin. Namun kades yang menjabat sejak 2019 itu mengaku tidak pernah mendengar ada kisah seperti KKN Desa Penari di Desa Kemiren.

"Iya saya tidak pernah mendengar kisah itu," kata Arifin.

Untuk menjawab rasa penasaran tim, Arifin mempersilakan kami membuka buku hadir balai desa. Buku itu merangkum semua tamu yang hadir sejak 2007 hingga saat ini. Namun dalam buku itu tidak ada nama atau data yang mengarah ke kisah KKN Desa Penari.

Kemudian tim diajak ke lantai dua balai desa untuk membongkar barang-barang yang ada di gudang. Tim mencari bukti KKN seperti plakat cendera mata dari mahasiswa yang KKN. Namun lagi-lagi, tim tidak menemukan nama atau data yang mengarah ke kisah KKN Desa Penari.

Tim tak putus asa. Tim lalu mendatangi Kades Kemiren periode 2007-2013, Ahmad Tahrim. Di rumahnya, tim mengobrol panjang lebar, ngalor ngidul. Namun Ahmad juga mengaku tidak pernah mendengar kisah seperti KKN Desa Penari.

"Iya tidak ada Mas. Kalau ada, pasti saya tahu. Karena kebetulan, saja juga bisa menangani orang yang kesurupan," kata Ahmad.

Heboh soal kisah KKN Desa Penari mulai terjadi pada 2019. Itu setelah akun Twitter @SimpleM81378523 bercerita, ada enam mahasiswa-mahasiswi yang menggelar KKN di Kota B, Jawa Timur pada 2009 akhir. Mereka merupakan mahasiswa-mahasiswi angkatan 2005/2006 dari sebuah perguruan tinggi di Kota S.

Enam calon sarjana yang menggelar KKN tersebut yakni Ayu, Nur, Widya, Wahyu, Anton dan Bima. Dua di antaranya meninggal setelah melewati seabrek hal mistis di tempat KKN tersebut.

Setelah kisah mistis itu viral, banyak orang yang berspekulasi dan melakukan penelusuran mengenai tempat KKN Desa Penari. Kisah itu kemudian dibukukan dan difilmkan. Saat ini filmnya masih tayang dan masih menyedot banyak penonton.

Sumber : detik.com

0 comments: