Sejarah Tradisi Topeng Labu, Cara Pengidap Kusta Melepas Rindu Keluarga saat Lebaran

Jumat, Mei 06, 2022 Majalah Holiday 0 Comments



Tradisi Topeng Labu di Muarojambi. (Foto: Azhari Sultan)


JAMBI - Lebaran Idul Fitri di Desa Muarojambi, Maro Sebo, Kabupaten Muarojambi, Jambi sedikit berbeda dari daerah lainnya. Pasalnya, ada sebuah tradisi masyarakat setempat yang unik dikenal bernama tradisi Topeng Labu.

Pegiat kebudayaan, Mukhtar Hadi mengatakan, tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun beberapa tahun silam.

Dia menjelaskan, tradisi ini dilatarbelakangi cerita rakyat. Sesuai cerita turun-temurun, dahulunya ada orang di Desa Muaraojambi ini yang dilanda penyakit kusta. 

Sesuai kebijakan tua tengganai setempat, orang yang mengidap penyakit tersebut harus tinggal di hutan sementara waktu hingga datang kesembuhan.

Hari, minggu dan bulan terus berganti hingga datang Hari Raya Idul Fitri. Warga yang divonis mengidap penyakit kusta tersebut pun merasa rindu untuk bertemu sanak keluarga dan suasana perkampungan yang telah lama ditinggalkan.

Lantaran penyakitnya belum juga sembuh dan menghawatirkan orang disekitarnya, dia menggunakan topeng yang terbuat dari labu.

Kemudian, dia mendatangi perkampungan tempat tinggalnya untuk bertemu dan bersilaturahmi ke orang-orang di perkampungan. 

Ternyata, apa yang dilakukan orang yang masih menderita penyakit kusta tersebut justru menjadi hiburan para warga yang melihatnya.

"Penderita kusta ini secara manusiawi punya rasa rindu juga. Dia juga ingin bertemu kerabat di desa, karena itu dirinya memakai topeng," ujarnya, Kamis (19/5/2022).

Agar terlihat menghibur, dirinya melakukan arak-arakan di sepanjang jalan dan di depan rumah warga sembari membawa sebuah keranjang.

Ternyata diluar dugaan, aksinya ini disambut antusias dan menjadi hiburan tersendiri warga. Tidak hanya itu, masyarakat yang merasa terhibur rela memberikan apa yang dipunya.

"Masyarakat yang simpati dan terhibur, lantas memberikan makanan dan minuman," kata pria yang kerap disapa Borju ini.

Karena dinilai memiliki historis yang merakyat, pada tahun 2009 lalu pegiat kebudayaan setempat melakukan riset. Melalui diskusi warga, cerita rakyat tersebut diangkat menjadi tradisi. Untuk itu, setiap datang Hari Raya Idul Fitri para warga Desa Muarojambi menggelar Festival Topeng Labu. 

Agar lebih menarik lagi, Festival Topeng Labu tersebut diiringi berbagai permainan alat musik, seperti gendang, gong dan sebagainya.

Selanjutnya, sembari menari para pemain Topeng Labu bersilaturahmi dengan warga yang menunggu di teras rumah masing-masing.

"Setiap rumah masyarakat kita singgahi dan menari. Karena rumah masyarakat mempunyai teras, masyarakat menunggu di situ. Diiringi musik dan lantunan serta pantun," katanya.

Dia menambahkan, topeng itu terbuat dari buah labu yang tumbuh di sekitar Desa Muarojmbi. Kulit buah labu yang kering dilukiskan menyerupai berbagai perasaan atau ekspresi manusia. 

"Labu ini ditanam petani di sini. Karena perlu banyak resapan air, ditanam di pinggir sawah. Tumbuh menjalar. Orang kampung sini menyebutnya labu manis," tuturnya.

Agar lebih variatif, warga membuat aneka motif. "Motifnya sesuai perasaan manusia, seperti muak, gembira, rasa bahagia, ada juga sosok menyeramkan dan ada juga lucu," ungkap Borju.

Dirinya juga mengatakan, pergelaran main Topeng Labu pada tahun kini dengan tagline "Memanusiakan Manusia" melibatkan sekitar 50 orang.

"Ini sengaja kita buat lebih akbar. Regenerasi. Kalau sebelumnya kelompok remaja, sekarang anak sekolah dasar kita libatkan," tukas Borju.

Sementara itu, Harizan sakah seorang peserta Topeng Labu, mengaku sangat antusias mengikuti tradisi tersebut. Dia juga berharap, tradisi ini terus berlanjut dengan semangat generasi untuk melestarikan. 

"Harapannya ada generasi dengan semangatnya untuk melestarikan kebudayaan di Desa Muarojambi. Ini tidak sulit, cuma perjalanan menelusuri kampung saja," imbuhnya.


Sumber : okezone.com

0 comments: