Siapa NRA, Kelompok Pendukung Kepemilikan Senjata Api di Amerika Serikat

Senin, Mei 30, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Siapa NRA, Kelompok Pendukung Kepemilikan Senjata Api di Amerika Serikat
BBC

Setelah penembakan sekolah di Texas yang menewaskan 19 anak-anak dan dua orang dewasa, Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, bertanya, "Kapan kita akan melawan hak individu memiliki senjata api?"

Asosiasi Pemilik Senjata AS (NRA) adalah organisasi paling kuat yang melobi pemerintah dan DPR terkait hak kepemilikan senjata di AS.

Siapa NRA?

Kelompok ini didirikan pada tahun 1871 oleh dua veteran Perang Saudara AS. NRA ditujukan sebagai kelompok rekreasi untuk "mempromosikan dan mendorong aktivitas menembak secara ilmiah".

NRA mulai melakukan lobi politik pada tahun 1934. Ketika itu pimpinan NRA mengirim surat kepada anggota mereka berisi informasi tentang draf regulasi senjata api yang sedang dibahas.

Asosiasi tersebut mendukung dua upaya kontrol dan pengawasan senjata, yaitu UU Senjata Api Nasional tahun 1934 dan UU Pengendalian Senjata tahun 1968. NRA menjadi lebih aktif secara politik pada dekade 1970-an.

Pada tahun 1975, NRA mulai mencoba mempengaruhi kebijakan secara langsung melalui badan lobi yang mereka bentuk, yaitu Institute for Legislative Action.

Dua tahun setelahnya, badan ini membentuk Komite Aksi Politik untuk menyalurkan dana kepada legislator.

NRA sekarang adalah salah satu kelompok lobi dengan kepentingan khusus yang paling kuat di AS.

Mereka memiliki anggaran yang cukup besar untuk mempengaruhi anggota Kongres dalam pengambilan kebijakan terkait senjata. Asosiasi ini dijalankan Wayne LaPierre, yang menjabat wakil presiden eksekutif di organisasi tersebut.

Kejaksaan New York dan Washington DC saat ini sedang berupaya secara hukum untuk membubarkan NRA. Mereka menuduh bahwa kepemimpinan senior NRA menyalahgunakan dana amal untuk pengeluaran pribadi.

NRA menyebut gugatan kejaksaan itu "serangan tak berdasar dan terencana".

Berapa besar anggaran NRA?

Pada tahun 2020, NRA menghabiskan anggaran sekitar US$250 juta atau Rp3,6 triliun per tahun. Nominal itu jauh lebih banyak daripada gabungan anggaran semua kelompok advokasi pengendalian senjata di AS.

Namun NRA memiliki keanggotaan yang jauh lebih besar daripada kelompok-kelompok itu. Mereka menggunakan dana itu, antara lain untuk membangun dan mengelola fasilitas menembak serta program pendidikan.

Dalam hal lobi, NRA secara resmi menghabiskan sekitar US$3 juta (Rp43 miliar) per tahun untuk mempengaruhi kebijakan terkait hak kepemilikan senjata. Jumlah anggaran tercatat mereka habiskan untuk melobi legislator pada tahun 2014 adalah US$3,3 juta (Rp48 miliar).

Angka itu hanya pengeluaran yang tercatat untuk para pembuat undang-undang. Anggaran yang cukup besar mereka habiskan melalui Political Action Committee dan kontribusi independen, oleh karenanya jumlah pastinya sulit dilacak.

Sejumlah peneliti menyebut NRA juga memiliki pengaruh tidak langsung yang cukup besar melalui keanggotaannya yang terlibat secara politik. Banyak dari anggota NRA ini akan mengambil suara pada pengambilan keputusan terkait masalah ini.

NRA secara terbuka menilai anggota Kongres AS dengan nilai A hingga F, berdasarkan sikap sang legislator terhadap hak kepemilikan senjata.

Peringkat tersebut dapat memiliki efek serius pada jumlah jajak pendapat dan bahkan bisa membuat legislator yang mendukung pengendalian senjata kehilangan kursi.

Setelah Donald Trump menjadi presiden AS pada tahun 2016, pengeluaran NRA untuk urusan politik turun. Ini terjadi di tengah munculnya berbagai kelompok yang mengadvokasi pengendalian senjata, yang menerima jutaan dolar dari para penentang kebijakan NRA.

Ada perkirakan bahwa kelompok pro-pengendalian senjata telah melampaui anggaran NRA untuk pertama kalinya pada tahun 2018.

Seberapa besar NRA?

Estimasi jumlah anggota NRA sangat bervariasi selama beberapa dekade terakhir. Asosiasi itu mengklaim bahwa keanggotaan mereka melonjak mendekati lima juta orang usai penembakan massal di sebuah sekolah di Sandy Hook tahun 2012.

Meski begitu, beberapa pengamat memperkirakan jumlah anggota NRA mencapai tiga juta orang. NRA dituduh menggelembungkan jumlah anggota mereka.

NRA kerap membanggakan beberapa anggota terkenal mereka, termasuk mendiang mantan Presiden AS, George HW Bush.

Bush mengundurkan diri dari NRA pada tahun 1995 setelah agen federal menyebut pimpinan asosiasi ini, Wayne LaPierre, kejam dan brutal. Pernyataan itu keluar setelah serangan bom di gedung pemerintah di Oklahoma City.

Sejumlah anggota aktif NRA saat ini juga menyandang status figur publik, antara lain mantan calon wakil presiden AS, Sarah Palin serta aktor Tom Selleck dan Whoopi Goldberg.

Mendiang aktor Charlton Heston menjabat sebagai Presiden NRA pada tahun 1998 hingga 2003. Heston dikenal luas saat memegang senapan di atas kepalanya dalam sebuah konvensi NRA setelah penembakan massal Columbine High School pada tahun 1999.

Heston saat itu berkata kepada pendukung pengendalian senjata bahwa dia tidak akan merelakan hak itu hilang, bahkan jika dia harus kehilangan nyawa.

Mengapa NRA kontroversial?

NRA sangat melawan segala bentuk kontrol senjata. Mereka berpendapat bahwa lebih banyak senjata membuat negara lebih aman.

Namun klaim itu bergantung pada regulasi dalam konstitusi AS yang diinterpretasikan secara berbeda. Menurut NRA, konstitusi memberi warga AS hak untuk memanggul senjata tanpa pengawasan pemerintah.

NRA menghadapi kritik dari kedua sisi spektrum politik setelah penembakan Sandy Hook. Ketika itu LaPierre menyebut bahwa kurangnya penjaga bersenjata di sekolah adalah penyebab tragedi tersebut.

NRA dengan gigih menentang sebagian besar undang-undang lokal, negara bagian dan federal yang akan membatasi kepemilikan senjata.

Mereka melobi politikus agar senjata yang disita oleh polisi dapat dijual kembali. Mereka beralasan, menghancurkan senjata itu, pada dasarnya menyia-nyiakan senjata yang sangat bagus.

Sebaliknya, NRA sangat mendukung undang-undang yang memperluas hak senjata, seperti regulasi yang memungkinkan pemilik senjata membawa senjata di tempat umum.

Sumber : Suara.com

0 comments: