Unik! Di Desa Ini Manusia Bisa Hidup Berdampingan dengan Macan Tutul

Jumat, Mei 13, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Ilustrasi penduduk Desa Bera di India, desa yang penduduknya hidup berdampingan dengan leopard atau macan tutul Foto: Vickey Chauhan/Shutterstock
Leopard atau macan tutul dikenal sebagai predator puncak dalam sebuah rantai makanan. Sifatnya yang agresif dan buas membuat manusia tentu pikir-pikir untuk mendekati hewan ini.
Walau demikian, pemandangan berbeda justru bisa kamu temukan pada sebuah desa di India, di mana penduduknya justru bisa hidup berdampingan dengan macan tutul. Unik, ya!
Desa Bera di India yang penduduknya hidup berdampingan dengan leopard. Foto: nedla/Shutterstock
Dilansir Amusing Planet, ialah Bera, desa kecil di Distrik Pali, Rajasthan, India Utara, ini dikenal dengan penduduknya yang bisa hidup harmonis dengan macan tutul. Bera pun dijuluki sebagai desa macan tutul, karena banyaknya hewan buas ini yang berkeliaran di sana.
Menurut perkiraan penduduk setempat, ada lebih dari 90 ekor macan tutul yang berkeliaran. Kemungkinan berpapasan dengan kucing besar di tengah jalan pun sangat tinggi.
Itu bukanlah pemandangan aneh di sana, terlebih karena macan tutul sudah lama hidup berdampingan dengan Suku Rabari, penduduk Desa Bera.

Kehidupan Harmonis Suku Rabari dan Macan Tutul

Desa Bera di India yang penduduknya hidup berdampingan dengan leopard. Foto: NileshShah/Shutterstock
Dikutip National.ae, Rabari adalah komunitas penggembala yang bermigrasi ke Rajasthan dari Iran, melalui Afghanistan seribu tahun yang lalu. Mereka menggembalakan sapi dan domba.
Sekitar 11.000 Rabaris mendiami dataran Bera, menurut sensus terakhir tahun 2011.
“Secara tradisional, komunitas kami memelihara unta, tetapi saat ini kami juga memelihara kawanan domba dan kambing,” ujar seorang Rabari bernama Mangta Ram.

Ilustrasi penduduk Desa Bera di India, desa yang penduduknya hidup berdampingan dengan leopard. Foto: AbhishekMittal/Shutterstock
Saat mengunjungi desa ini, kamu akan menemui laki-laki bersorban merah menggembalakan ternak dengan santai. Sama sekali tak terlihat raut ketakutan di wajah mereka, bahkan saat macan tutul lewat di sampingnya.
Sang predator juga seperti tidak tertarik dengan manusia atau para Rabari yang ada di dekatnya.
Para Rabari menyembah Dewa Siwa, salah satu dari tiga dewa utama dalam agama Hindu. Oleh karenanya, tak mengherankan apabila motif macan tutul kerap muncul dalam gambar dan berhala Dewa Siwa.
Seekor anak macan tutul yang terancam punah berjalan di dalam kandangnya pada hari pertama di kebun binatang Parque de las Leyendas, di Lima, Peru. Foto: Angela Ponce/REUTERS
“Para Rabari memperlakukan binatang buas sebagai malaikat pelindung mereka dan menyembah mereka,” kata Dilip Singh Deora, yang mengelola Jawai Wild Camp, sebuah perusahaan safari di Bera.
Selain itu, para Rabari juga tidak akan pernah mengusik keberadaan kucing besar tersebut, kecuali mereka mengganggu ternak-ternak penduduk.
Mengutip laporan Kementerian Lingkungan India yang dirilis tahun 2021 lalu, populasi macan tutul di negara itu melonjak 63 persen dalam empat tahun terakhir. Menariknya, dari sekitar 13.000 ekor macan tutul yang berkeliaran di alam bebas, jarang sekali terjadi serangan terhadap manusia.
National Geographic mengatakan bahwa serangan macan tutul di wilayah ini terjadi sekitar 20 tahun lalu. Serangan itu juga tidak sampai merenggut korban jiwa.

Macan Tutul Jadi Daya Tarik Wisata

Ilustrasi desa atau penduduk desa di India. Foto: cornfield/shutterstock
Karena hal tersebut, Desa Bera pun menjadikan macan tutul sebagai daya tarik wisata.
Bahkan, karena populasi macan tutul yang berkembang pesat, di sekitar desa juga terdapat tempat konservasi macan tutul atau Jawai Safari Leopard yang menyuguhkan safari untuk turis.
Macan tutul ini biasanya bisa ditemui di sekitar bukit-bukit yang ada di desa atau kuil-kuil. Di tebing mereka terlihat bertengger di atas batu atau berkeliaran di alam liar.
“Banyak turis terkejut ketika mereka melihat macan tutul bergerak bebas di sekitar kuil desa, bahkan saat pendeta melakukan ritual hariannya, mereka tampak tidak terpengaruh (dengan keberadaan hewan tersebut),” kata Deora.

Sumber : kumparan.com

0 comments: