Asa di Balik Pohon Sawit: Kisah Anak Eks Pekerja Migran Gapai Pendidikan

Rabu, Juni 08, 2022 Majalah Holiday 0 Comments


Jakarta - Di tengah panasnya jajaran pohon kelapa sawit yang lebat, terselip asa anak seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) untuk bisa mengenyam pendidikan dan kembali ke Tanah Air. Dialah Azwan, namanya cukup singkat, namun tidak dengan impiannya.

Semangat untuk mewujudkan impian itu semakin menggebu tatkala Azwan berkesempatan menuntut ilmu di Community Learning Center (CLC) SMPT 45 Pontian Hillco. CLC merupakan sebuah pusat kegiatan belajar masyarakat yang dibentuk atas dasar dari, oleh, dan untuk masyarakat setempat.

Lebih tepatnya Azwan mengenyam pendidikan di Tempat Kegiatan Belajar (TKB) Genting Sekong, lingkup yang lebih kecil dari CLC Pontian Hillco. TKB sendiri tersebar di ladang-ladang sawit di Sabah-Sarawak, Malaysia. Ini merupakan sekolah jenjang SMP yang menginduk pada Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK).

Begitu mendengar informasi ada sekolah yang terbuka untuk anak-anak PMI--dulu namanya TKI--Azwan kemudian mengikuti tes masuk CLC. Anak bungsu dari empat bersaudara ini akhirnya dinyatakan lolos, meskipun ia hanya lulusan paket A.

Artinya, Azwan tidak pernah merasakan pendidikan sekolah dasar selama 6 tahun layaknya pendidikan formal di Indonesia. Baca, tulis, dan menghitung ia pelajari dari kakak perempuannya yang sempat sekolah di Kerajaan Malaysia sampai kelas 3 kala itu dan juga dari ayahnya yang jago menghitung tanpa kalkulator.

Pagi Bekerja di Ladang Sawit, Siang Belajar di Sekolah
Beberapa waktu lalu Azwan mengisahkan perjuangannya untuk bisa menempuh pendidikan layaknya anak-anak pada umumnya kepada detikcom. Ia ingat betul bagaimana doa dan dukungan kedua orang tuanya agar ia bisa meraih pendidikan yang sepatutnya.

"Wan, sekolahlah, karena cukup bapak dan mamakmu yang bodoh jangan kamu," ucap Azwan menirukan kata-kata orang tuanya. Pesan inilah yang memacu semangat Azwan untuk terus belajar dan berkarya agar bisa memperbaiki kehidupan keluarganya.

Perjalanan bermula saat di TKB Genting Sekong pada 2011 silam. Jam belajar di TKB berbeda dengan sekolah di Indonesia. Kegiatan belajar mengajar di sekolah akan berlangsung pada siang hari, sedangkan paginya menjadi waktu bagi anak-anak untuk membantu orang tuanya bekerja di ladang sawit.

Beruntungnya TKB tempat Azwan menempuh ilmu itu dibangun tepat di depan rumahnya. Sehingga, ia tetap bisa membantu kedua orang tuanya dan ke sekolah tanpa takut terlambat.

Sejak kecil Azwan memang giat membantu orang tuanya di ladang tempat mereka bekerja. Setiap jam 7 pagi sampai 12 siang Azwan membantu memungut biji sawit. Baru jam 1 siang sampai jam 5 sore ia pergi ke sekolah. Lahir dan dibesarkan di negeri orang memang bukan pilihan Azwan, namun dengan ikhlas dan semangat ia menerimanya.

Dalam ruangan yang dikelilingi tembok dan lantai serba kayu ukuran 3x2 meter itu Azwan dan sekitar 20 temannya memperhatikan dengan baik setiap penjelasan yang disampaikan gurunya. Satu guru harus mengajar semua mata pelajaran untuk semua jenjang, mulai dari kelas 7 hingga 9.

Hanya tersedia meja panjang dalam ruangan yang kedua sisi dindingnya berwarna biru dan hijau itu. Tidak ada kursi di sana. Anak-anak biasa belajar berlesehan dengan posisi saling berhadapan dengan kawannya.

Keterbatasan fasilitas di sekolah tak menghalangi semangat Azwan untuk aktif dan belajar sungguh-sungguh. Ia juga mengikuti kegiatan Akademik, Olahraga, Seni, dan Keterampilan (APKRES) di CLC dan menorehkan prestasi untuk kejuaraan tersebut.

Memutuskan Sekolah di Indonesia dan Terpaksa Tinggal Sendiri
Setelah lulus dari TKB, Azwan atas dukungan orang tuanya, akhirnya memutuskan untuk melanjutkan sekolah menengah atas di Indonesia, tepatnya di kampung halamannya, Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

"Akhirnya saya pulang ke Sulawesi, kebetulan pada waktu itu kan mamak sudah bangun rumah di sini (Sulawesi), dan memang orang tuanya saya itu TKI ya, saudara saya itu juga jadi TKI, nggak ada yang lanjut sekolah, jadi apa yang memotivasi pengen sekolah itu ya orang tua," kenangnya.

Ia pun masuk SMKN 1 Polewali mengambil jurusan Akuntansi. Masa-masa sekolah di Indonesia adalah masa sulit bagi Azwan. Sebab, ia harus tinggal sendiri di rumah karena orang tua dan saudaranya masih menetap di Malaysia.

Selama di sekolah ia harus menyesuaikan kultur teman-temannya yang jauh berbeda dengan kehidupannya di lingkungan perkebunan sawit.

'Upin Ipin'--nama serial kartun animasi anak-anak Malaysia--pun menjadi nama panggilannya yang dilontarkan oleh teman-temannya. Bahkan, tak sedikit kata-kata tidak mengenakkan telinga juga ia dengar dari temannya.

"Tetap tangguh aja, bodo amat, karena saya di sini bukan untuk mendengar mereka tapi sekolah. Saya tetap pasang badan dan hal itu berhenti ketika saya jadi ketua OSIS," ucapnya.

Azwan aktif di Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dan mengikuti berbagai kompetisi serta meraih sejumlah medali. Ia bahkan masuk top 100 ketua OSIS terbaik se-Indonesia dan juga berkesempatan duduk di parlemen melalui kegiatan Parlemen Remaja yang diselenggarakan oleh Sekretariat Jenderal DPR RI.

Tekad Bulat untuk Kuliah di Yogyakarta dan Prihatin Karena Keadaan Ekonomi
Selepas lulus dari SMKN 1 Polewali, Azwan bertekad untuk kuliah di Yogyakarta. Ia memilih Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sebagai kampus tujuannya karena terinspirasi dari gurunya saat sekolah SMP di Malaysia dulu.

Ia mencoba mendaftar lewat jalur rapor (SNMPTN) tapi belum berhasil. Akhirnya ia mencoba peruntungan mendaftar lewat jalur prestasi dengan berbekal sejumlah sertifikat kejuaraan yang ia kumpulkan selama di SMK.

Namun, hasil berkata lain. Azwan juga belum berhasil lolos masuk kampus yang dulu bernama IKIP Yogyakarta itu. Ia akhirnya berjuang di jalur ujian mandiri. Sore itu hujan turun, Azwan memacu kendaraan menuju bank untuk membayar biaya ujian mandiri sebesar 200 ribu.

Ia kemudian terbang ke Yogyakarta menggunakan uang hasil jualan online ketika ia SMK. Tidak ada sanak saudara di sana. Setelah mengikuti ujian di Yogyakarta, akhirnya ia dinyatakan lolos di jurusan Administrasi Publik UNY, namun dengan uang kuliah tunggal (UKT) yang terbilang tinggi untuk ukurannya.

Azwan sengaja tidak mendaftar lewat jalur SBMPTN, sebab ia tak punya biaya untuk mengambil les persiapan seperti yang dilakukan teman-temannya. Itulah yang menjadikannya memilih jalur mandiri.

Saat itu kondisi ekonomi keluarganya tidak memungkinkan Azwan untuk melanjutkan pendidikan. Terlebih, jika merantau ke Jawa ia harus sewa kos untuk tempat tinggalnya. Belum lagi biaya kuliah yang harus ia bayar setiap semesternya cukup tinggi.

"Akhirnya mamakku bilang, 'Gimana ini, apakah mau tetep kuliah? Soalnya keluarga udah nggak punya duit.' Gitulah ceritanya. Akhirnya saya bilang, 'Saya akan tetap kuliah insya Allah saya akan dapat beasiswa.' Saya bilang gitu padahal saya belum tahu beasiswa apa yang mau saya dapat. Asal ngomong aja waktu itu," ucap remaja 21 tahun ini.

Sempat tiga kali gagal mendapatkan beasiswa Bidikmisi dan tidak lolos juga dalam seleksi beasiswa PPA (Pendamping Prestasi Akademik), akhirnya Azwan mendapatkan Beasiswa Unggulan dari Kemendikbudristek tepat di semester 3.

Anak eks PMI itu kini telah tumbuh dengan segudang prestasi dan setumpuk empati untuk anak-anak yang senasib dengannya. Beberapa prestasi yang ia raih di antaranya mendapatkan penghargaan baik tingkat nasional maupun internasional untuk karya ilmiah dan mengikuti Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS) sebagai ajang bergengsi di perguruan tinggi.

a juga mendapatkan sejumlah juara dalam kompetisi karya tulis ilmiah dan esai tingkat nasional. Selain itu, Azwan juga kerap diundang sebagai pembicara seminar dan workshop kepenulisan dan keorganisasian, menjadi moderator di sejumlah acara, serta menjadi pengurus inti di UKM Penelitian UNY.

Ia mendirikan komunitas Permata Ibu Pertiwi (PIP) tepat di usianya yang ke-18. Komunitas ini merupakan wadah bagi anak-anak PMI di Malaysia untuk mewujudkan impiannya. Kini, PIP sudah berusia 3 tahun dan menjadi tempat bernaung lebih dari 100 anak-anak PMI.

Bersama dengan Yayasan Pendidikan Sabah Bridge, Azwan juga kerap membantu menjemput anak-anak PMI di perbatasan Nunukan, Kalimantan Utara, membantu mencarikan sekolah, dan mendampingi adik-adiknya yang membutuhkan bantuan informasi.

Sumber : detik.com

0 comments: