Awas Terjebak! Ini 5 Ciri Pemilik Bisnis yang Terjebak jadi Asisten Karyawan!

Rabu, Juni 22, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Awas Terjebak! Ini 5 Ciri Pemilik Bisnis yang Terjebak jadi Asisten Karyawan!
Ilustrasi Pebisnis. (Dok: Gratyo)

Suara.com - Tujuan utama merekrut karyawan adalah agar membantu dan bekerjasama untuk mengembangkan bisnis supaya bisa makin naik ke level yang lebih tinggi.

Namun bukan rahasia umum kalau banyak pemilik bisnis merasa bahwa mereka malah makin sibuk sejak ada karyawan. Bukannya meringankan pekerjaan, yang ada malah menambah pekerjaan.

Pemilik bisnis yang seharusnya menjadi orang yang mengontrol dan memonitoring pekerjaan karyawan ujung-ujungnya malah jadi asisten karyawan. Loh kok bisa?

Mengutip wawancara dengan Coach Yohanes G. Pauly, Global Awards Winning Business Coach, ia menjelaskan bahwa kondisi terjebak menjadi asisten karyawan ini sering kali tidak disadari oleh pemilik bisnis

Ia memberikan 5 ciri pemilik bisnis yang terjebak menjadi asisten karyawan:

1.      Selalu mengingatkan dan mendorong-dorong karyawan untuk bekerja

Ciri pertama adalah pemilik bisnis harus selalu mengingatkan dan mendorong karyawan untuk bekerja. Jika tidak, maka karyawan tidak akan mengerjakan apa yang seharusnya ia kerjakan.

Pemilik bisnis seakan-akan menjadi “alarm berjalan” yang harus mengingatkan jobdesk dan tugas yang harus dikerjakan.

Akibatnya karyawan akan memiliki ketergantungan, sadar diri rendah, dan tidak bertanggung jawab karena punya pola pikir “buat apa inisiatif kerja, toh nanti juga akan diingatkan oleh pemilik bisnis apa yang harus dikerjakan.”

Tentunya pola pikir ini sangat merugikan pemilik bisnis. Pekerjaan pemilik bisnis makin bertambah dan bukannya meringankan tapi malah membuat pemilik bisnis makin sibuk.

2.      Makan hati karena terpaksa mengerjakan ulang seluruh pekerjaan karyawan

Pemilik bisnis terpaksa bekerja ekstra untuk mengerjakan ulang seluruh pekerjaan karyawan karena karyawan bekerja asal-asalan, dan hasil kinerja karyawan tidak sesuai dengan harapan.

“Yang terjadi adalah daripada harus meminta karyawan mengerjakan ulang dan hasilnya juga tidak akan sesuai ekspektasi, pemilik bisnis terpaksa harus mengerjakan pekerjaannya karyawan.” ucap Coach Yohanes G. Pauly.

Ciri kedua ini adalah salah satu ciri yang paling sering terjadi pada pemilik bisnis yang terjebak menjadi asisten karyawan.

3.      Curi-curi waktu untuk bisa makan siang dan istirahat

Ciri ketiga adalah pemilik bisnis seluruh waktunya habis tersedot di bisnis karena harus mendorong karyawan bekerja dan terpaksa mengerjakan ulang pekerjaan karyawan. Belum lagi ia harus melayani customer karena customer hanya mau belanja dengan pemilik bisnis, bukan dengan karyawan.

Akibatnya pemilik bisnis makin tidak punya waktu luang. Bahkan untuk bisa makan siang dan istirahat saja ia harus curi-curi waktu karena saking sibuknya.

Sedangkan karyawan malah bekerja santai dan hanya melihat pemilik bisnis bekerja. Mereka hanya akan bekerja jika diminta bantuan oleh pemilik bisnis.

Kondisi ini malah terbalik karena seharusnya pemilik bisnis yang melihat karyawan bekerja, tapi malahan karyawan yang melihat pemilik bisnis bekerja.

4.      Pemilik bisnis terpaksa bekerja 2 shift dalam sehari

Shift 1 adalah disaat pemilik bisnis bekerja bersama dengan karyawan di pagi hingga sore hari, dan shift 2 adalah disaat pemilik bisnis sudah sampai di rumah dan masih harus melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.

Penyebabnya adalah karena seluruh waktu pemilik bisnis dari pagi hingga sore habis menjadi asisten karyawan, mulai dari mendorong kerja, mengerjakan ulang pekerjaan karyawan, dan mengurus customer.

Akibatnya pemilik bisnis jadi tidak punya waktu untuk mengerjakan pekerjaan yang seharusnya ia lakukan dan terpaksa mengerjakannya saat ia sudah di rumah.

5.      Karyawan pulang on-time dan bisa pergi liburan, pemilik bisnis terjebak tidak bisa tinggalkan bisnis

Ciri kelima adalah pebisnis tidak punya kehidupan dan tidak bisa menikmati hasil yang ia dapat dari berbisnis bersama keluarga.

Pemilik bisnis tidak bisa pergi liburan dan meninggalkan bisnis karena jika ia tidak masuk, maka bisnis tidak akan berjalan karena karyawan tidak tahu apa yang harus dilakukan dan bekerja asal-asalan.

Ia terpaksa terikat 24 jam di bisnis dan tidak bisa meninggalkan bisnis padahal punya banyak karyawan yang seharusnya bisa bekerja tanpa harus selalu diawasi pemilik bisnis.

Sumber : suara

0 comments: