Bisnis Sambal Indonesia Raup Cuan Puluhan Juta hingga Sukses Jajaki Pasar Turki

Selasa, Juni 14, 2022 Majalah Holiday 0 Comments


MALANG - Pemilik produk sambal kemasan Heni Wardhani menceritakan soal perkembangan bisnis sambal khas Indonesia yang dijalani di tengah kenaikan harga bahan pokok.

Dia menuturkan, kendati secara belanja baku cabai dan produksi mengalami penurunan, tetapi secara kualitas produk yang dijual tak mengalami penurunan sama sekali.

Bahkan untuk beberapa botol sambal kemasan isinya disebut lebih dari 150 gram, karena menyesuaikan bentuk volume botolnya.

"Tidak mengurangi isi, kemasan tetap mempertahankan mutu dari rasa, berat menyesuaikan volume botol, biasanya rata-rata lebih karena seusai volume botol, hanya mengurangi produksi saja, tidak berani mengurangi kualitas," ucap Heni Wardhani ditemui di rumahnya di Perumahan Plaosan Permai Estate, Kelurahan Pandawangi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang

Selain itu, Heni juga mengedepankan kualitas pada cabai yang dipilih.

Di mana cabai - cabai yang dipilih merupakan cabai segar yang selalu dikirim pemasok.

Mengingat jika memilih cabai bagus bisa jadi secara kualitas rasa dan hasil olahannya.

"Kita selalu pakai yang fresh, saya nggak berani, kira mempertahankan mutu, takutnya ada yang berubah, makanan tergantung sama rasa. Misalnya dipetik ada yang sisa, masih fresh bisa ditaruh freezer cuma untuk beberapa hari, itu pun harus dibungkus kain agar tetap segar dan tidak berubah warna, tidak berubah rasa dan tekstur," jelasnya.

Heni bahkan tak memilih menaikkan harga jual sambalnya.

Satu botol kemasan seberat 150 gram ia jual dengan harga Rp25.000 di tingkat reseller dan harga Rp31.000 yang dijual di toko oleh-oleh.

Heni memilih pendapatan berkuranf dibandingkan harus kehilangan pembelinya.

"Kalau harga mahal sambalnya nggak naik, harga itu naiknya nggak selama dalam setahun, kita hitung HPP dalam setahun masih masuk. Cuma marginnya (pendapatannya) memang sedikit sekali. Jadi kalau misalnya, harga tinggi gini biasanya permintaan tinggi, jadi ketutup juga kuantitas," tuturnya.

Berkat kualitas yang terus dijaga pula, dia kini menyuplai kebutuhan sambal di salah satu kafe ternama di Kota Malang sejak sebelum puasa.

Selama hampir sebulan lebih ini, dia telah mengirimkan setidaknya lima kali kebutuhan sambal dengan total 200 kilogram per bulannya.

"Satu yang ini tidak bisa dikurangi, karena baru dapat vendornya sebelum puasa lima PO (Pre-order), nggak mungkin bisa saya kurangi, tetap produksi sesuai permintaan kafe mereka. Dia kustom, tidak kemasan, itu sambal bawang, untuk topping mie dan makanannya lainnya, jadi tidak perlu pakai botol," paparnya.

Tak hanya itu, olahan sambal kemasannya juga masih laris manis dipasarkan ke beberapa toko oleh-oleh dan toko pusat perbelanjaan modern yang ada di Malang, Surabaya, dan Sidoarjo.

Bahkan kian hari omzet penjualannya pun bertambah, tercatat di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Malang omzet pendapatannya mencapai Rp50 juta dalam setahun.

Selain itu, sambal kemasan produksi Heni ini juga sampai diekspor ke Jepang, Turki, dan Malaysia.

Khusus untuk Turki Heni bahkan memiliki reseller yang kerap memasarkan olahan sambal merek Mama Ni yang telah dirintisnya sejak 2013 lalu.

"Yang Jepang masih hand carry, kemarin ada teman adik sepupu yang di sana sering bawa kalau dari sini. Kalau Turki ada reseller kirimnya biasanya lewat kargo, yan yang Turki masih sampai sekarang. Nggak banyak jumlahnya 144 botol, 24 lusin. Kalau Malaysia sejak pandemi ini belum pesan lagi ke sini," terangnya.

"Sudah bersyukurlah mulai bangkit lagi, dulu waktu pembatasan berjilid - jilid akibat Corona itu banyak yang retur, banyak yang expired juga, akhirnya kita juga berapa bulan nggak kirim," tandasnya.

Sumber : okezone

0 comments: