Dari Anyaman Pandan, Made Septariani Sekolahkan 4 Anak Hingga Sarjana

Rabu, Juni 15, 2022 Majalah Holiday 0 Comments


Karangasem - Menggeluti anyaman daun pandan sejak 1976, Ni Made Septariani (62) asal Banjar Dinas Tumbu Kaler, Desa Tumbu, Kecamatan dan Kabupaten Karangasem berhasil menyekolahkan keempat anaknya hingga lulus sarjana. Bahkan kini keempat anaknya tersebut sudah sukses semua.

Dua anak laki-lakinya kini ada yang menjadi Perbekel dan Ketua Lembaga Perkreditan Desa (LPD) di Desanya, sedangkan dua anak perempuannya kini menjadi perawat dan juga bekerja di badan keamanan laut (Bakamla).

Ditemui di rumahnya , Septariani menceritakan bahwa awalnya ia bisa membuat anyaman daun pandan karena sering melihat ibunya membuat anyaman tersebut. Kemudian ia juga ikut mencoba untuk belajar membuat anyaman tersebut hingga kemudian bisa membuat berbagai jenis anyaman dari daun pandan.

"Saya merupakan generasi kedua membuat anyaman daun pandan ini dan sampai saat ini masih saya geluti dan nanti juga akan saya wariskan kembali ke generasi berikutnya mungkin ke anak atau menantu saya," kata Septariani.

Ia juga mengatakan bahwa saat ini ia sedang menerima pesanan sebanyak 300 biji anyaman daun pandan dengan bentuk tas yang dipesan oleh seseorang yang ada di Denpasar, yang katanya nanti akan dijadikan sebagai souvenir untuk para tamu mancanegara dan setelah Hari Raya Kuningan akan diambil

Untuk harga anyaman daun pandan milik Septariani tersebut itu tergantung ukuran dan juga kerumitan saat pengerjaannya, untuk harga termurah Rp 40 ribu sedangkan harga termahal Rp 100 ribu, tapi biasanya para pelanggan paling banyak memesan tas dengan harga Rp 50 ribu.

Septariani juga mengaku bahwa usaha anyaman daun pandan miliknya tidak selalu berjalan mulus kadang ada naik turunnya juga terutama saat pandemi COVID-19 melanda. Saat itu hampir selama 2 tahun tidak ada yang melakukan order sehingga sempat membuatnya pusing.

Tapi selama itu pula ia tidak hanya diam berpangku tangan, selama sepi order ia mengaku mengulat sendiri anyaman tikar yang merupakan bahan dasar dari anyaman tas, dompet, tempat tisu dan yang lainnya yang dibuatnya selama ini. Bahkan anyaman tikar yang dibuat sampai menumpuk di gudang karena tidak ada order.

"Biasanya saya beli anyaman tikar di beberapa perajin daun pandan yang ada di Desa Tumbu, tapi saat pandemi COVID-19 karena tidak ada order tas, saya memilih untuk menganyam tikar sendiri yang nantinya akan saya gunakan menjadi tas, dompet dan yang lainnya padahal biasanya beli karena sudah langganan. Jadi mereka bikin anyaman tikar saya nanti yang akan membentuk menjadi berbagai macam jenis kerajinan dan masyarakat yang menjadi langganan saya itu yang mengajarkan menganyam daun pandan adalah saya dan suami," kata Septariani.

Tapi ia mengaku beruntung karena saat ini perlahan demi perlahan saat ini sudah mulai ada order walaupun dengan jumlah yang sedikit sekitar 50-100 biji dalam sekali order tapi tetap disyukuri.

Padahal saat sebelum adanya pandemi COVID-19, Septariani mengaku pernah menerima pesanan hingga 2.000 biji dalam sekali order, yang membuatnya harus begadang untuk menyelesaikan pesanan karena saking banyaknya order.

"Saya sangat berharap supaya bisnis anyaman daun pandan ini terus diwariskan karena berkat bisnis inilah saya dan suami bisa menyekolahkan anak-anak saya hingga sarjana dan juga memiliki beberapa aset lainnya jadi saya ingin bisnis ini dapat diteruskan oleh anak dan cucu saya nantinya," kata Septariani.

Sumber : detik.com

0 comments: