Di Pekatnya Kegelapan

Rabu, Juni 29, 2022 Majalah Holiday 0 Comments




Kepakkan sayapku berpadu dengan semilir angin yang mengisi malam berhiaskan cahaya bulan. Keheningan yang berselimutkan kegelapan, menemani tiap detik yang telah terlewatkan. Hanya ketajaman indra penglihatan para peri yang mampu menuntunku dalam gelapnya perjalanan. Satu kepakkan terakhir, mengantarkan kakiku menapak kembali di bumi, di atas tanah beralaskan dedaunan kering. Abadinya kesunyian berhasil meredam semua suara di tengah kegelapan malam.

Langkahku tertuntun ke arah satu kobaran cahaya. Perkataan akan apa yang selalu kudengar dari para Peri Kegelapan. Api yang berada di tempat tergelap di Alam Peri, dimana cahaya bulan sekalipun tidak pernah mampu menemukan celah untuk menerobos masuk. Satu-satunya api yang mampu menyinari tempat itu. Api yang tidak pernah padam. Itu nyata.

Tujuh langkah kulukiskan menuju tempat cahaya abadi itu menerangi, hingga kegelapan tiba-tiba sempurna menyelimuti seluruh sisi. Kobar api yang tidak pernah redup walau sedikit, kini malah membiarkan kegelapan mengambil alih seutuhnya. Ketajaman mataku bahkan tidak mampu menembus kegelapan yang tercipta. Kututup mata, menciptakan titik-titik cahaya untuk memecah kegelapan walau sebagian kecil.

Kutatap lamat-lamat tempat dimana api itu beberapa menit yang lalu masih berkobar memberi cahaya. Api itu padam. Bukankah itu adalah api yang tidak akan pernah padam? Apa para peri kegelapan salah akan keyakinan itu?



“Kau merusaknya.” Satu suara muncul memecah kesunyian.
Dari sisi berlawanan, siluet seorang peri dengan kepakkan sayapnya mendarat tepat di depanku. Langkahnya maju perlahan, hingga cahaya kecilku mengungkap dirinya. Seorang peri yang tidaklah asing.

Dia menatapku tanpa ekspresi. “Kau,” katanya tajam, “adalah Peri Cahaya.”

“Kau tahu?” katanya lagi, masih dalam ekspresi yang sama. “Alasan api ini tidak pernah padam adalah karena ini bukanlah api.”

Entah kenapa, tubuhku kini serasa mematung di tempat, mulutku terkunci rapat, seakan ini adalah saat dimana aku tidak boleh melakukan apapun sama sekali.

“Ini adalah mana yang tercipta menjadi api. Perwujudan dari keadilan bagi klan Peri Kegelapan, yaitu kemusnahan para Peri Cahaya.” Bisa kulihat matanya benar-benar mengisyaratkan kebencian yang amat dalam. “Keberadaan kalian adalah penderitaan kami. Kalian yang tercipta sempurna, dengan mana yang melimpah, tidak akan bisa mengerti kondisi para Peri Kegelapan. Satu-satunya keadilan yang bisa kami dapatkan adalah jika para Peri Cahaya tidak pernah ada.”

“Api ini,” katanya, “adalah kalian, para Peri Cahaya. Menciptakan kegelapan yang hanya diselimuti oleh satu cahaya saja adalah salah satu tujuan kenapa pembantaian klan Peri Cahaya terjadi. Tapi tidak kusangka, kau masih hidup,”

Dia menatapku lagi. “Tapi kau membuat kesalahan dengan datang ke sini. Alasan kenapa api ini padam, karena mana yang sama berada dekat tapi tidak bersatu dengan mereka.” Satu langkah terakhir hingga dia kini tepat di depanku. “Kau merusaknya, jadi kau harus memperbaikinya.”

Dia mengalihkan matanya ke arah tempat api yang tadi padam, namun ajaibnya, api itu kini menyala kembali.

Hanya beberapa detik setelah tempat ini kembali mendapatkan penerangannya, tubuhku kini bergerak sendiri, sayapku terbang tak terkendali ke arah api itu. Kulihat wajahnya yang kini tertunduk menatap tanah.

Hanya beberapa detik hingga bisa kurasakan bagaimana tubuhku mulai diselimuti api, tapi tidak ada satupun rasa sakit yang tercipta. Ahh, kurasa aku paham. Satu-satunya cara agar Peri Kegelapan mendapat keadilan bagi mereka kurasa memang dengan menghilangkan semua Peri Cahaya dari alam ini.

Satu hal terakhir yang bisa kulihat adalah bagaimana bulir-bulir air mata kini menghiasi wajah itu. Dia tersenyum padaku, mengatakan satu hal, lalu berbalik dan terbang menjauh, tenggelam di pekatnya kegelapan.

“Kau akan selalu menjadi cahaya, seperti apapun wujudmu,” katanya. “Cahaya yang akan menerangi di pekatnya kegelapan.”

Cerpen Karangan: Nina Rosalina
Blog / Facebook: Verenity
Penulis yang juga memiliki nama pena “Fujimiya” ini adalah seorang mahasiswi di salah satu universitas negeri di Indonesia. Mulai menyukai dunia kepenulisan sejak masih remaja dan hingga kini telah menulis beberapa cerpen dengan beragam tema dan genre serta telah menerbitkan satu novel berjudul “Kizuna” yang terbit tahun lalu. Ayo, berteman dengannya melalui akun instagram @fjmyaaa.16

Cerpen Di Pekatnya Kegelapan merupakan cerita pendek karangan Nina Rosalina, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

0 comments: