Makna Deta dalam Kehidupan Berbudaya di Minangkabau

Jumat, Juni 24, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

sumber foto : https://pixabay.com/images/id-2840267/
Kebudayaan adalah salah satu hal penting yang tidak dapat lepas dalam kehidupan kita. Budaya adalah kebiasaan atau cara hidup yang sudah berkembang dikalangan kelompok dan sudah diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya atau kebudayaan ini berasal dari kata Sanskerta yaitu budhayyah yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti akal atau budi.
Jadi bisa dikatakan budaya ini sama saja dengan bagaimana cara kita hidup dan menjalaninya. Karena jika kebudayaan itu positif maka lingkungan di sekitarnya juga akan berdampak bagus atau positif sebaliknya jika kebudayaan di lingkungan sekitar negatif maka akan berdampak negatif bagi masyarakatnya.
Indonesia adalah negara yang memiliki beragam kebudayaan unik. Kebudayaan-kebudayaan tersebut selalu dijaga dan diwariskan kepada anak dan cucu mereka. Karena dari kebudayaan itulah yang akan membentuk jati diri seseorang dikemudian harinya. Kebudayaan yang masih dijaga hingga saat ini adalah bagaimana caranya menghormati seseorang yang lebih besar dari pada kita.
Jika di luar negeri memanggil orang yang lebih besar terkadang langsung menggunakan nama dan terkesan tidak menghormati. Namun, berbeda di Indonesia hal seperti itu tidak akan pernah ditemukan. Karena budaya yang diajarkan dari zaman nenek moyang mereka adalah untuk saling menghormati terlebih kepada yang lebih tua atau besar dari kita.
Kebudayaan lainnya yaitu adanya mencium tangan kepada orang yang lebih besar dari kita sebagai bentuk kita menghormatinya. Kebudayaan ini saat ini masih terjaga karena salah satu bentuk tata krama yang ada dalam diri kita. Namun, selain kebudayaan-kebudayaan di atas ada juga kebudayaan-kebudayaan yang termasuk sebuah tradisi keadatan seperti upacara, tari-tarian, cara berpakaian, dan lain sebagainya.
Hal ini diterapkan di setiap daerah di Indonesia, terkhususnya di Sumatera Barat. Banyak kebudayaan yang masih terjaga di Minangkabau ini. Segala bentuk perilaku dan tuturan masih sangat terjaga. Masyarakat Minang masih sangat menjaga kebudayaan mereka dengan sangat baik bahkan dalam segi berpakaian hal tersebut masih sangat diperhatikan.
Setiap pakaian yang dikenakan memiliki simbol dan makna tersendiri dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Salah satunya adalah pakaian penutup kepala laki-laki yang disebut dengan Deta. Deta merupakan penutup kepala yang terbuat dari kain segi empat.
Deta dulu sering digunakan laki-laki Minang dalam kehidupan sehari-harinya. Fungsi Deta bagi kaum laki-laki di Minang tidak hanya sekedar untuk menutupi kepala saja namun juga berguna untuk menunjukkan kewibawaan dan kehormatan seorang laki-laki.
Deta ini terbuat dari kain segi empat yang memiliki ukuran 110 cm x 110 cm. Cara pemakaiannya adalah dengan melipatkannya dalam bentuk segitiga yang kemudian digulung untuk dikenakan di kepala masing-masing pengguna sesuai model dan kebudayaan setempatnya.
Maka dari itu setiap model yang dikenakan selalu berbeda-beda dan memiliki makna tertentu. Sama halnya dengan Tingkuluak, Deta juga ada yang berbentuk seperti tanduk yang bisa disimbolkan sebagai bentuk kegagahan, kewibawaan, dan keberanian. Karena saat ini penggunaan Deta di Minangkabau sangatlah jarang.
Hal itu dikarena penggunaan Deta saat ini hanya digunakan pada kaum laki-laki yang belajar pencak silat saja. Pencak Silat di Minangkabau merupakan salah satu seni tradisi yang selalu dipelajari kaum lelaki di Minang. Tentu saja penggunaan Deta menjadi pelengkap pakaiannya sebagai salah satu bentuk kewibawaan dan kehormatan yang dimilikinya.
Pada zaman dulu terdapat dua model Deta yang sangat menunjukkan perbedaan status dalam kehidupan sosial. Penggunaan Deta pada masyarakat Minang umumnya biasanya hanya dililitkan di kepala dan tidak memiliki makna apapun selain sebagai pelengkap dari pakaian kaum laki-laki saja. Namun, ada juga penggunaan Deta yang menunjukkan tingkatan status sosial dan biasanya hanya digunakan oleh orang-orang yang memiliki pangkat dan jabatan saja.
Deta Dandam Tak Sudah
Deta Dandam Tak Sudah adalah model Deta yang hanya digunakan oleh Raja Alam Kerajaan Pagaruyung. Deta ini memiliki bentuk yang mirip dengan Tengkolok pada adat Melayu di Malaysia. Deta ini hanya boleh digunakan oleh Raja Alam Kerajaan Pagaruyung karena Deta ini menunjukkan kekuasaan dan bisa diibaratkan sebagai mahkota bagi sang raja. Makanya Deta ini hanya digunakan untuk menunjukkan jabatan sebagai seorang raja atau penguasa di daerah tersebut.
Saluak Batimbo atau Deta Gadang
Saluak Batimbo atau Deta Gadang biasanya dikenakan oleh Pangulu atau kepala suku kaum. Ciri khas yang ada pada Deta ini sebagai penutup kepala juga sebagai lambang kebesaran seorang Pangulu sebagai pimpinan atau panutan terhadap para kaumnya. Deta ini memiliki kerutan pada bagian keningnya. Kerutan itu menunjukkan bahwa orang tersebut adalah orang pilihan sebagai kepala suku kaum atau Pangulu.
Orang tersebut adalah orang yang paham dengan undang-undang dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan adat yang berlaku di Minangkabau. Kerutan ini ketika dibuka akan tampak luas dan lebar layaknya pemikiran yang harus dimiliki oleh Pangulu. Oleh karenanya Deta Gadang ini menjadi pakaian pelengkap yang harus ada pada Pangulu.
Pada umumnya Deta ini merupakan sebuah kain kosong dan polos yang dililitkan ke kepala. Namun, dengan berjalannya waktu pemakaian Deta saat ini hanya digunakan untuk orang-orang yang mengikuti kegiatan silat saja. Deta saat ini memiliki motif kain batik yang biasanya bermotifkan bentuk tumbuh-tumbuhan dan berwarna coklat. Ini merupakan salah satu bentuk dari adanya pelestarian terhadap kain Batik Tanah Liek yang ada di Minangkabau. Jadi tidak mengherankan jika penggunaan Deta saat ini terlihat bagus dan keren serta terlihat sekali jiwa-jiwa pendekar yang dimiliki oleh seseorang.
Sumber : kumparan.com

0 comments: